Jelang Pilkada Gubernur 2013
Warga Apriori Terhadap Netralitas Jayadi Nas
Ketua Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Sulawesi Selatan Dr Jayadi Nas
Keraguan netralitas Jayadi itu kian mencuat saat melontarkan penilaiannya terhadap Ilham Arief Sirajuddin sebagai kandidat Gubernur Sulsel yang paling kuat lari dan Aziz Qhahar Mudzakkar sebagai kandidat Wakil Gubernur Sulsel yang paling bersih paru-parunya.
Penilaian Jayadi itu dilontarkan di sela-sela pemeriksaan kesehatan para kandidat Gubernur dan Wakil Gubernur Sulsel di Private Care Centre RSUP dr Wahidin Sudirohusodo, Makassar, Minggu (23/9/2012) lalu.
“Kalau pun itu dilontarkan dalam konteks bercanda, menurut saya itu tidak tepat. Jayadi ini kan bukan Jayadi biasa lagi. Dia memegang amanat sebagai penyelenggara pemilu yang mengharuskan ia harus ekstra hati-hati berbicara,” ujar Dr Rahmat Muhammad pada diskusi di Warkop 115, Jalan Toddopuli Raya Utara, Makkassar, Rabu (26/9/2012) siang.
Diskusi ini mengangkat tema Menakar Netralitas KPUD Sulse. Rahmat tak lain juga rekan Jayadi sebagai sesama sebagai dosen FISIP Universitas Hasanuddin (Unhas).
“Tapi saya sudah tanya ke Jayadi. Dia mengakui ucapannya itu, tapi dalam konteks guyon. Ia mengaku telah menyesal melontarkan guyonnya tersebut dan mengaku akan lebih ekstra hati-hati berkomentar. Penilaian saya, ibarat permainan bola, ucapan Jayadi itu masuk kategori off side. Belum kartu kuning,” ujar Rahmat yang juga Sekretaris Jurusan Sosiologi Unhas ini.
Walau menurut Rahmat pernyataan Jayadi itu masuk kategori off side, beberapa penanggap, baik yang melontarkan langsung di area diskusi maupun melalui telepon yang disiarkan Radio SCFM, umumnya meminta Jayadi mundur atau minimal diganti sebagai Ketua KPU Sulsel.
Diskusi ini juga menghadirkan Guru Besar Fakultas Hukum Unhas Prof Dr Aminuddin Ilmar yang juga mantan Dewan Etik KPUD Sulsel sebagai pembicara. Pembicara lainnya adalah Sekretaris Jurusan Sosiologi Unhas Dr Rahmat Muhammad dan juru bicara Panitia Pengawas (Panwas) Pemilu Sulsel Anwar Ilyas.
Diskusi ini digelar Election Watch Macassar, Macassar Democracy Institute, dan Toddopuli Community. Diskusi ini dihadiri puluhan peserta dari beragam latarbelakang profesi. (*)