Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

PLTA Karama Akan Usir Empat Klan dan Menghapus Jejak Sejarah Penting

PLTA Karama Akan Usir Empat Klan dan Menghapus Jejak Sejarah

Tayang:
Editor: Imam Wahyudi
zoom-inlihat foto PLTA Karama Akan Usir Empat Klan dan Menghapus Jejak Sejarah Penting
Kompas.com
Kondisi di Sungai Karama di Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, Rabu (8/8). Di sekitar sungai ini banyak terdapat situs purbakala, tempat ditemukannya artefak bersejarah yang kini terancam hilang oleh rencana proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga air.

PLTA Karama, menurut Anwar, tidak hanya memenuhi kebutuhan di Provinsi Sulbar, tapi juga untuk enam provinsi di Sulawesi. Kebutuhan Sulbar saat ini tak sampai 50 MW.

”Pemprov Sulbar hanya sebagai inisiator karena yang punya daerah. Karena ini kebutuhan nasional, kerja sama dengan China sifatnya government to government. Sudah ada persetujuan antara lain dari Kementerian ESDM dan Bappenas,” kata Anwar.

Bersejarah

Pembangunan ini bukan sekadar memindahkan warga, tetapi juga menggusur situs purbakala penting. Beberapa peninggalan itu di antaranya situs Minanga Sipakko dan situs Kamasi. Keduanya biasa disebut Situs Kalumpang. Situs-situs itu merupakan peninggalan manusia Austronesia yang dianggap tertua di Nusantara. Total ada 12 situs di kawasan ini.

Rustan, arkeolog dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Makassar, mengatakan, situs Kalumpang adalah satu-satunya bukti yang meyakinkan di Sulawesi tentang kedatangan pertama bangsa Austronesia dari Asia daratan. ”Posisi Kalumpang menurut para ahli menjadi titik lompatan bangsa Austronesia ke daerah lain di Nusantara,” kata Rustan.

Bangsa Austronesia, menurut Rustan, dianggap bangsa yang menurunkan populasi di sepanjang Pasifik sampai Madagaskar dan sepanjang Selandia Baru sampai Hawaii, minus Papua dan Australia. Austronesia merupakan bangsa besar dengan penutur bahasa sampai 300 juta orang.

Teori migrasi yang paling populer menyebutkan, bangsa Austronesia meninggalkan Asia daratan menuju Nusantara dan Pasifik melalui Taiwan, Filipina, dan Sulawesi. Dari Sulawesi, mereka menyebar ke Kalimantan dan beberapa daerah lain. Keberadaan situs Kalumpang sangat berarti untuk keberlanjutan penelitian sejarah populasi dan migrasi manusia di Nusantara dan Pasifik.

”Kita punya tanggung jawab bersama untuk mempertahankan situs Kalumpang. Bukan berarti bahwa kita harus mengabaikan PLTA untuk situs itu. Bukan juga demi PLTA kita harus mengabaikan situs-situs yang berarti melupakan sejarah kita,” kata Rustan. ”Perlu ada pembicaraan serius antara arkeolog dan pemda serta pengusaha.”

Persoalannya, Tim Kajian PLTA dari Universitas Hasanuddin tidak melibatkan arkeolog. Sejumlah pihak, mulai dari peneliti, Jurusan Arkeologi Universitas Hasanuddin, sampai Balai Pelestarian Cagar Budaya Makassar sudah mengirimkan surat ke Pemprov Sulbar untuk meminta klarifikasi. Namun, sejauh ini belum ditanggapi.

Sementara itu, di Kalumpang siang mulai menjelang. Nyanyian lagu Indonesia Pusaka. Semakin lama semakin sayup....

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved