Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Sumur Wakaf Atasi Krisis Air Bersih Menahun di Pinrang

Hadirnya Sumur Wakaf di desa tersebut diharapkan menjadi solusi bagi 200 kepala keluarga atas permasalahan air bersih di tanah mereka selama bertahun-

Editor: Sakinah Sudin
Dok ACT
Sumur Wakaf Atasi Krisis Air Bersih Menahun di Pinrang 

TRIBUN-TIMUR.COM - Puluhan tahun lamanya warga Desa Watang Pulu di Kabupaten Pinrang sulit mendapatkan air bersih, utamanya saat kemarau.

Hadirnya Sumur Wakaf di desa tersebut diharapkan menjadi solusi bagi 200 kepala keluarga atas permasalahan air bersih di tanah mereka selama bertahun-tahun.

"Sejak saya masih kecil, air kami pikul setiap hari dari ujung kampung sejauh 1 kilometer setelah antre bersama warga yang lain," kenang Puang Agus, warga Dusun Majakka B, Desa Watang Pulu, Kecamatan Suppa, Kabupaten Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan.

Ia merasa senang karena Global Wakaf melalui program Sumur Wakaf telah berhasil mengalirkan air bersih di dusunnya, setelah mengebor hingga kedalaman 48 meter.

Proses pengeboran Sumur Wakaf sendiri sudah dimulai sejak 22 Juni 2019 lalu di atas tanah yang Puang Agus wakafkan.

Sumur Wakaf Atasi Krisis Air Bersih Menahun di Pinrang
Sumur Wakaf Atasi Krisis Air Bersih Menahun di Pinrang (Dok ACT)

“Dari semua bantuan, Sumur Wakaf inilah yang merupakan bantuan terbaik sejak saya kecil hingga sekarang untuk desa ini,” tambah salah seorang warga seraya berterima kasih atas aliran air dari Sumur Wakaf di dusun itu.

Rasa syukur juga diutarakan Darmawan selaku Kepala Desa Watang Pulu.

Berulang kali ia mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Global Wakaf beserta Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) atas pembangunan Sumur Wakaf.

Darmawan berharap Sumur Wakaf mampu memberi solusi bagi warga yang mayoritas hidup dalam kondisi ekonomi yang terbilang prasejahtera.

Nur Ali Akbar dari tim Global Wakaf Sulawesi Selatan menjelaskan, memang banyak warga yang benar-benar bersyukur dengan hadirnya Sumur Wakaf di Dusun Majakka B tersebut. Ini dikarenakan akses air di sana yang benar-benar sulit.

“Biasanya warga menggunakan sumur galian, tetapi airnya tidak memadai. Untuk mencukupi kebutuhan air, mereka biasanya punya dua pilihan, yakni mengambil air PDAM yang jaraknya sekitar dua kilometer, atau membeli air,” kata Nur Ali, Senin (22/7/2019).

Kedua pilihan itu, menurut Nur Ali, cukup memberatkan warga.

Pilihan pertama dirasa berat karena jarak yang cukup jauh.

Pilihan kedua dirasa berat karena harga air yang cukup mahal, yakni sekitar Rp 100 ribu per satu tandon berkapasitas 1.200 liter.

Kebutuhan air menjadi makin tinggi mengingat kini telah memasuki musim kemarau di desa itu.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved