Ketua IGI Sulsel Diskusi Zonasi di Pinrang, Berikut Ulasannya
Komunitas Kosakata menggelar Diskusi Intensif (Diksi) bertema 'Polemik zonasi Sekolah: Benarkah untuk Pemerataan?
Penulis: Hery Syahrullah | Editor: Suryana Anas
TRIBUNPINRANG.COM, WATANG SAWITTO - Komunitas Kosakata menggelar Diskusi Intensif (Diksi) ke-15 di Maha Cafe, Jl Macan, Kecamatan Watang Sawitto, Kabupaten Pinrang, Kamis (27/6/2019) malam.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Kosakata, CoratCoret, Sahabat Kita, dan Lapak Baca At-Ta'lim ini mengangkat tema 'Polemik zonasi Sekolah: Benarkah untuk Pemerataan?'.
Ada dua pemantik yang turut serta membahas tema tersebut.
Baca: Sudah Tiga Bulan, Disdukcapil Pinrang Kehabisan Blangko E-KTP
Baca: Hadirkan IGI dan Akademisi, Kosakata Diskusi Zonasi Sekolah di Maha Cafe Pinrang
Baca: Baznas Pinrang Bantu Korban Kebakaran di Lome Duampanua
Keduanya adalah Abd Wahid Nara selaku Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Sulawesi Selatan dan Idrus Paluseri selaku Alumni Pascasarjana UNM Bidang Pendidikan.
Dalam ulasannya, Wahid menyuarakan dukungan terhadap kebijakan yang dikeluarkan melalui Permendikbud No 51 Tahun 2018 itu.
Alasannya sederhana. Menurut Wahid, zonasi dapat menghilangkan kelas atau kasta antara sekolah yang satu dan lainnya.
"Melalui zonasi, kehidupan sekolah juga akan jauh dari kesan dikotomis, lantaran penyeberan siswanya lebih merata," paparnya.
Memang, ucap Wahid, beragam polemik kerap kali tak terhindarkan hadir di tengah kebijakan zonasi tersebut.
"Namun, perlahan akan hilang dengan sendirinya lantaran banyak efek positifnya," katanya
Sementara itu, Idrus cenderung
mengarahkan pembahasan ke arah sebuah pertanyaan besar.
Pertanyaan yang dimaksud adalah seberapa siapkah sekolah menganut sistem zonasi itu ?
Menurut Idrus, pemahaman masyarakat hari ini menganggap bahwa sekolah-sekolah yang ada masih terejebak dalam pembagian kelas atau strata. Dalam hal ini, ada yang favorit dan non favorit.
Tentunya, stigma itu tidak terlahir begitu saja. Ada fakta yang disaksikan oleh masyarakat di depan mata, bahwa kualitas sekolah itu memang tampak berbeda dan tak merata.
"Hal itulah yang memaksa sejumlah orang tua rela berbondong-bondong dan berdesak-desakan, hanya untuk mendaftarkan anaknya ke sekolah yang dianggap favorit," jelasnya.
Jika kondisi ini masih terjadi, ucap Idrus, sepertinya sistem zonasi cenderung belum efektif untuk diterapkan.