Malam Nisfu Syaban di Tengah Rekap PPK Suara Pemilu, Ini Hikmahnya untuk Pilpres 2019
Nisfu Syaban 1440 H di Indonesia, khsususnya di Sulsel bertetapan dengan rekap suara Pemilu 2019 di tingkap panitia pemilihan kecamatan (PPK).
Menurut Dr KH Kaswad Sartono, pilpres di Bulan Syaban ini terjadi ‘pembelahan’ pikiran, pandangan, pendapat, dan bahkan saling menyalahkan serta saling merasa benar antara madzhab 01 dengan madzhab 02,”
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Malam ini, Sabtu, 20 April 2019 Masehi, bertepatan dengan 15 Syaban 1440 Hijriyah.
Dalam Bahasa Arab, pertengahan disebut nisfu. Setiap tanggal 15, dalam penanggalan qomariyah (hijriyah) disebut nisfu. Karena ini di bulan Syaban, makan disebutkan malam ini sebagai Nisfu Syaban.
Nisfu Syaban 1440 H di Indonesia, khsususnya di Sulsel bertetapan dengan rekap suara Pemilu 2019 di tingkap panitia pemilihan kecamatan (PPK).
Wakil Rais Suriyah Nahdlatul Ulama (NU) Sulsel Dr KH Kaswad Sartono menjelaskan makna Nisfu Syaban di tengah momentum politik, khususnya Pemilihan Presiden (Pilpres).
Menurut Kaswad, Syaban berasal dari kata sya-‘a-ba yang mendapat akhiran alif dan nun, yang kemudian bermakna kesempurnaan berarti. Kata itu juga bermakna Al Tafarruq, berpencar atau berpisah yang sèmpurna.
“Kemudian Nisfu Syaban dapat diartikan pertengahan bulan Syaban antara awal dan akhir bulan. Dalam bulan Syaban 1440 ini kebetulan di Indonesia ada momentum politik dan demokrasi, khususnya Pemilihan Presiden 17 April 2019, yang bertepatan 12 Syaban 1440 H,” jelas Kaswad.
Menurutnya, jika demokrasi harus dimaknai sebuah pesta menyalurkan pikiran dan pilihan secara bebas yang azasi, maka pilpres akan mengantarkan kepada sebuah komitmen bersama untuk menemukan pemimpin bersama secara azasi.
“Namun kenyataannya, pilpres di Bulan Syaban ini terjadi ‘pembelahan’ pikiran, pandangan, pendapat, dan bahkan saling menyalahkan serta saling merasa benar antara madzhab 01 dengan madzhab 02,” kata Kaswad.
Kepala Bidang Haji dan Umrah Kementerian Agama (Kemenag) Sulsel itu berharap perbedaan madzhab 01 dan 02 itu diselesaikan dengan semangat ajaran Ahlus Sunnah Wal Jamaah (Aswaja) yang tasamuh, tawasuth, ta'aruf, dan tafahum.
“Apalagi ulama Aswaja juga mengajarkan dan mengamalkan baca surat Yasin 3 kali yang niat memperoleh kesehatan lahir batin, keluasan rizki dan kekuatan iman. Maka sepantasnya ‘ikhtilaf siyasiy’, perbedaan sikap politik, dikembalikan pada khittahnya yakni mempercayakan lembaga negara untuk bekerja sesuai koridor konstitusi,” jelas Kaswad.
Sebagai rakyat, setelah berijtihad dan memilih sesuai keyakinan politik, Kaswad mengingatkan untuk tetap saling menghargai satu sama lain, sipakalebbi (saling memuliakan), sipakaraja (saling menghormati), sipakatau (saling memanusiawikan), dan seterusnya.(*)