Panglima-Kapolri-AGH Sanusi Baco Pertemuan Tertutup, Ini Penjelasan Gubernur Sulsel

Pertemuan berlangsung tertutup di ruangan Sanusi Baco, sebelum pindah ke Masjid Nahdlatul Ulum. Jurnalis hanya bisa mengambil

Panglima-Kapolri-AGH Sanusi Baco Pertemuan Tertutup, Ini Penjelasan Gubernur Sulsel
ansar/tribunmaros.com
Panglima TNI, Marsekal TNI, Hadi Tjahjanto bersama Kapolri, Jenderal Pol Tito Karnavian serta rombongan, saat berkunjung ke pondok pesantren milik AGH Sanusi Baco, Nahdlatul Ulum di Soreang, Kecamatan Lau. 

TRIBUN MAROS.COM, LAU - Panglima TNI, Marsekal TNI, Hadi Tjahjanto bersama Kapolri, Jenderal Pol Tito Karnavian, berkunjung ke pondok pesantren milik AGH Sanusi Baco, Nahdlatul Ulum di Soreang, Kecamatan Lau, Selasa (12/2/2019) malam.

Pertemuan berlangsung tertutup di ruangan Sanusi Baco, sebelum pindah ke Masjid Nahdlatul Ulum. Jurnalis hanya bisa mengambil gambar melalu kaca hitam jendela.

Pertemuan yang dihadiri oleh Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah dan pimpinan ponpes tersebut, berlangsung mulai pukul 19.30 hingga 20.00 wita.

Hanya fotografer tertentu yang bisa masuk mengambil gambar. Itupun hanya sesekali saja.

Setelah pertemuan tertutup, rombongan pindah ke masjid untuk menemui santri. Sanusi Baco, Nurdin Abdullah serta Panglima, bergantian sambutan. Sementara Kapolri hanya duduk.

Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah mengatakan, kunjungan Kapolri dan Panglima merupakan spesial. Keduanya masih menyempatkan diri mengunjungi pesantren.

Kunjungan tersebut merupakan wujud kecintaan pemerintah Indonesia, khususnya TNI dan Polri untuk pesantren.

"Tidak lama lagi, kita menghadapi Pemilihan Presiden RI. Semoga dapat berjalan lancar. Doakan pemimpin kita supaya diberikan kesehatan, khususnya Kapolri dan Panglima," katanya.

Setelah Nurdin Abdullah, panitia langsung memberikan kesempatan kepada Panglima TNI, Hadi Tjahjanto untuk memberikan sambutan. Sementara Kapolri tidak diberikan kesempatan.

Panglima sambutan dan sebagai perwakilan Kapolri. Tito hanya duduk di barisan depan untuk mendengar sambutan tersebut.

Panglima menyampaikan, tanpa Ulama dan santri maka umat akan kehilangan arah. Ilmu pengetahuan yang dimiliki harus dibarengi ketakwaan.

"Pesantren akan menghasilkan SDM yang unggul dan mampu bersaing di dunia Internasional. Pesantren akan melahirkan santri yamg mampu menjadi pemersatu bangsa," katanya.

Dia berharap, semua santri yang menuntut ilmu di pesantren Nahdlatul Ulum, berhasil. Santri yang cerdas, akan mampu menyaring berita yang beredar. Apalagi hoaks marak.

Saat meninggalkan lokasi, sekira pukul 21.40 wita, Panglima dan Kapolri menolak untuk wawancara. Rombogan langsung naik ke bus milik TNI AU.

Penulis: Ansar
Editor: Imam Wahyudi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved