Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Mengapa BKMG Akhiri Peringatan Dini Tsunami Pukul 17.36 WIB Padahal Tsunami Masih Menerjang Palu?

Peringatan akan terjadinya gelombang tsunami usai gempa 7,4 skala richter yang mengguncang Donggala, Sulawesi Tengah terus menjadi bahan pertanyaan

Editor: Ilham Arsyam
twitter Daeng_Info
Suasana kota palu akibat gempa dan tsunami pagi ini (29/9/2018). 

TRIBUN-TIMUR.COM - Peringatan akan terjadinya gelombang tsunami usai gempa 7,4 skala richter yang mengguncang Donggala, Sulawesi Tengah terus menjadi bahan pertanyaan.

Salah satunya adalah mengapa Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengakhiri peringatan dini tsunami pada pukul 17.36 WIB padahal tsunami masih terjadi di Kota Palu dan Kota Donggala.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, awalnya sempat meragukan terjadinya tsunami di Kota Palu berdasarkan video-video yang beredar di media sosial.

Namun setelah ia mengonfirmasi kepada Kepala BMKG Palu bahwa memang benar telah terjadi tsunami setinggi 1,5 hingga dua meter.

 
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati sebelumnya juga menyatakan pihaknya mengakhiri peringatan dini tsunami akibat gempa Donggala, Sulawesi Tengah setelah tsunami terjadi dan surut dari daratan.

"Bukan dicabut [peringatannya], tapi diakhiri. Kalau dicabut itu enggak terjadi tsunami," ujarnya.

Kepala Humas BMKG Hary Tirto Djatmiko yang dikonfirmasi Tribun, Sabtu(29/9/2018) mengatakan memang sempat terjadi kendala saat terjadinya gempa bumi untuk kemudian muncul peringatan dini tsunami.

Hary mengatakan adanya kendala dikarenakan jaringan komunikasi dan listrik lumpuh terutama di sekitar Donggala dan Palu.

Hary juga menjelaskan bahwa ketika tsunami memasuki teluk terjadi interferensi dan resonansi gelombang balik (pantul) dan yang masuk teluk sehingga tejadi amplifikasi gelombang dan perlambatan.

"Istilah awamnya gelombang mengumpul,"kata Hary.

Sejauh ini lanjut Hary, alat pendeteksi tsunami Buoy telah di pasang di kawasan Samudera.

"Sisanya dipasang tide gauge," kata Hary.

Saat ditanya apakah ada alat pendeteksi dini tsunami yang rusak saat gempa bumi terjadi di Palu dan Donggala, Hary membantahnya.

Kata Hary, untuk alat peringatan dini bekerja dengan baik mungkin yang dimaksudkan alat pemantau ketinggian gelombang (tide gauge)juga tetap berfungsi.

"Namun dikarenakan jaringan komunikasi dan listrik lumpuh terutama di sekitar Donggala dan Palu maka seolah-olah kurang optimal,"kata Hary.

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved