Gerakan #Nostrawmovement Mampir di Makassar, Penggunaan Sedotan di KFC Turun 45%

Apakah Anda tahu, masyarakat telah menyumbang sampah plastik, khususnya sedotan di perairan Indonesia.

Gerakan #Nostrawmovement Mampir di Makassar, Penggunaan Sedotan di KFC Turun 45%
FADHLY
Gerakan #Nostrawmovement Mampir di Makassar, Penggunaan Sedotan di KFC Turun 45% 

Laporan Wartawan Tribun Timur, Muhammad Fadhly Ali

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Apakah Anda tahu, masyarakat telah menyumbang sampah plastik, khususnya sedotan di perairan Indonesia.

Fakta membuktikan, menurut sumber info Divers Clean Action (DCA) terdapat 5 triliun potongan plastik mengapung di dunia, sedotan pun menduduki posisi ke lima penyumbang sampah laut di dunia.
 Sedangkan Indonesia berada di peringkat kedua dunia penghasil sampah plastik dengan 1,29 juta ton produksi sampah plastik pertahun atau setara 215 ribu gajah jantan Afrika dewasa.

Pengagas DFC yang berdiri sejak 2015, Swietenia Puspa Lestari di sela jumpa pers di Gerai KFC Ratulangi Jl Dr Sam Ratulangi Makassar, Ahad (23/9/2018) menuturkan, data Kementrian Lingkungan Hidup sekitar 70% sampah plastik di Indonesia dapat dan telah didaur ulang oleh para pelaku daur ulang, namun tidak dengan sedotan karena nilainya yang rendah dan sulit didaur ulang maka tidak ada pelaku daur ulang yang bersedia mengambil.

"Rata-rata setiap orang menggunakan sedotan sekali pakai sebanyak 1-2 kali setiap hari, dan perkiraan pemakaian sedotan di Indonesia setiap harinya mencapai 93.244.847 batang yang berasal dari restoran, minuman kemasan dan sumber lainnya (packed straw)," katanya.

Ukuran sedotan bermacam-macam namun umumnya sedotan berbahan plastik tipe polypropylene dan didisain untuk tahan seumur hidup sehingga butuh waktu yang sangat lama untuk dapat hancur dan terurai.

"Fakta ini tentu sangat mengkhawatirkan dan berbahaya karena semakin lama keberadaannya di laut akan menjadi microbeads dan mudah termakan oleh hewan laut. Di Makassar 4 dari 5 ikan laut telah mengandung microbeads," kata Tenia sapaannya.

KFC bersama DFC  yang telah mencanangkan gerakan #Nostrawmovement tahun 2017 lalu menjadikan gerakan tanpa sedotan plastik ini menjadi gerakan nasional dimana 630 gerai KFC di seluruh Indonesia tidak akan menyediakan langsung sedotan plastik dengan menghilangkan dispenser sedotan dan mengajak konsumen untuk tidak menggunakannya kecuali sangat membutuhkan.

Pencanangan #Nostrawmovement atau Gerakan Tanpa Sedotan menjadi gerakan nasional KFC dimulai bersamaan dengan peringatan Hari Terumbu Karang 2018 yang dirayakan setiap tanggal 8 Mei dan sehubungan dengan gerakan #beatplasticpollution yang diusung saat Hari Bumi Internasional 22 April lalu.

Dimulai dengan enam gerai di Jakarta pada 2017, lalu meluas ke wilayah Jabodetabek sejak akhir 2017, gerakan ini merupakan bentuk komitmen dan kepedulian perusahaan terhadap lingkungan dimana KFC mengajak konsumen untuk turut peduli kepada keselamatan laut dan kehidupannya dengan menolak sedotan plastik sekali pakai saat memesan minuman di restoran KFC atau dimanapun mereka menikmati minuman.

General Manager Marketing PT Fast Food Indonesia, Hendra Yuniarto, menuturkan sejak dilaksanakannya gerakan Nostrawmovement di KFC di enam gerai pada Mei hingga akhir tahun 2017, lalu meluas ke 233 gerai KFC di wilayah Jabodetabek sejak akhir tahun 2017, pemakaian sedotan plastik di gerai KFC secara bertahap mengalami penurunan hingga 45% di setiap gerainya.

"Jumlah total pengurangan sedotan di seluruh gerai KFC di Jabodetabek itu bila dijadikan garis lurus setara dengan 275 kali tinggi Monas. Dengan menjadikan gerakan ini menjadi gerakan nasional KFC Indonesia dan melibatkan 630 gerai KFC, kami berharap dapat semakin mengurangi penggunaan sedotan plastik dan berkontribusi dalam penyelamatan laut Indonesia," katanya.

Setiap tahunnya sekitar sepertiga biota laut termasuk terumbu karang, dan bahkan burung laut, mati karena sampah plastik termasuk sedotan plastik sekali pakai yang berakhir di lautan.

Hal ini tentu sangat mengkhawatirkan mengingat terumbu karang berperan besar melindungi pantai dari erosi, banjir pantai, dan peristiwa perusakan lain yang diakibatkan oleh fenomena air laut. 

Terumbu karang juga merupakan tempat mencari makanan, tempat asuhan dan tumbuh besar bagi berbagai biota laut. (*)

Penulis: Muhammad Fadly Ali
Editor: Anita Kusuma Wardana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help