Warga Sampakang Maros Keluhkan Rendahnya Voltase Listrik, Begini Curhatnya

Untuk menyisiati rendahnya tegangan, warga berlomba untuk menyalakan lampu jelang malam.

Warga Sampakang Maros Keluhkan Rendahnya Voltase Listrik, Begini Curhatnya
Ansar/tribunmaros.com
Seorang warga Dusun Sampakang, Desa Sambueja, Kecamatan Simbang, Maros memperlihatkan rendahnya voltase dengan menggunakan alat pengukur tegangan listrik. 

Laporan Wartawan Tribun Timur, Ansar Lempe

TRIBUN TIMUR.COM, MAROS - Seorang warga Dusun Sampakang, Desa Sambueja, Kecamatan Simbang, Maros, Habibah mengeluhkan buruknya pelayanan listrik dari PLN Rayon Maros, Selasa (12/6/2018).

Pasalnya, voltase listrik juga sangat rendah. Hal tersebut membuat 79 Kepala Keluarga (KK) kerap mengalami kerusakan elektronik.

"Sudah lama kondisi listrik di kampung kami tidak maksimal. Tegangan tidak maksimal, makanya elektronik warga sering rusak," kata Habibah.

Untuk menyisiati rendahnya tegangan, warga berlomba untuk menyalakan lampu jelang malam.

Jika terlambat, maka cahaya lampu akan redup hingga pagi.

Baca: VIRAL, Ada Apa Presiden Jokowi Bahas Jalan Layang Camba Maros? Netizen: Luar Biasa Pak De

Selain lampu, televisi, kulkas dan pemasak nasi warga, tidak akan menyala. Jika elektronik menyala, meteran akan mati. Warga harus mencacut colokan eletroniknya di kabel, supaya lampu bisa menyala.

"Kami harus berlomba untuk menyalakan lampu. Kalau terlambat, lampu akan redup. Alat elektronik kami sudah rusak, seperti televisi, dan kulkas," katanya.

Hampir setiap bulan, warga harus membeli dan mengganti balon lampu di rumahnya.

Pasalnya, beban puncak tegangan listrik hanya 157 volt.

Menurutnya, PLN terkesan membeda-bedakan pelayanan ke warga sebagai pelanggan.

Baca: Catat! Kendaraan Parkir di Badan Jalan Poros Maros Bakal Ditilang

Padahal warga Sampakang juga membyar tagihan listrik setiap bulan.

Pada saat membayar, tagihan yang dikenakan PLN selalu dikalikan 220 volt. Padahal pemaikaian warga hanya 150 volt.

Untuk memastikan pemakaian listrik per bulannya, warga telah mengukur meteran rumahnya dengan menggunakan alat pengukur tegangan.

"Selama ini kami selalu membayar tagian 220 volt. Tapi sebenarnya pemaikaian kami tidak begitu. Sudah lampu redup, kami harus bayar mahal lagi," katanya.(*)

Penulis: Ansar
Editor: Mahyuddin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved