citizen reporter

Mewujudkan Asa di Kampoeng Bambu Toddopulia

Kampoeng Bambu Toddopulia hadir sebagai wahana wisata baru di Maros. Kepala Desa Toddopulia, Andi Abbas membuka secara resmi

Mewujudkan Asa di Kampoeng Bambu Toddopulia
Wahyuddin Junus 

Wahyuddin Junus
Penggagas Kampoeng Bambu Toddopulia
melaporkan dari Maros

KEMARIN (8/4/2018) tunai sudah impian yang selalu bersemayam dalam batok kepala. Upaya mewujudkan kampung belajar dan belajar dalam citra kampung dan budaya lokal.

Kemarin, Kampoeng Bambu Toddopulia hadir sebagai wahana wisata baru di Maros. Kepala Desa Toddopulia, Andi Abbas membuka secara resmi.

Acara pembukan Kampoeng Bambu Toddopulia, menghadirkan serangkaian gelaran. Pentas seni tari pasca panen, musik gambus, sinrili, diskusi literasi, baca puisi, dan musikalisasi puisi dihadirkan.

Gelaran kemarin, Saya teringat kembali akan jejak perjalanan pergi-pulang di Kampoeng Bambu Toddopulia. Saya selalu menyaksikan bambu dan selalu menyingkap desirny. Ini terpantri sejak awal bulan Januari 2018 tepatnya tanggal 5.

Ini menjadi penanda awal dalam pencarian lokasi. Sejak saat itu, tiap akhir pekan saya berkesempatan mendatangi desa Toddopulia. Salah satu tempat di Maros, dengan pesonan hutan bambu tumbuh menjulang di kiri kanan jalan.

Area ini masuk wilayah kecamatan Tanralili Kabupaten Maros, dikenal memiliki hutan bambu yang melimpah. Saya menyaksikan dari dekat dan berbaur dengan masyarakat setempat. Bercakap dengan mereka, mendengar harapan dan kenyataan yang mereka hadapi.

Dalam penandaan itu pula, Saya menemukan anak muda di desa Toddopulia, Sultan, Basir, dan Daeng Labbang. Mereka siap bergiat untuk membangun Kampoeng Bambu Toddopulia.

Mereka bertiga menjadi penggerak warga setempat yang dihuni sekitar 60kk. Ketiganya, saya bagi dalam struktur kelolah Kampoeng Bambu Toddopulia. Sultan sebagai Direktur project, Basir sebagai Manager project, dan Daeng Labbang sebagai Owner.

Saya hadir membaca pikir mereka dan menggerakkan asa yang mereka idam-idamkan. Meski saja tak mudah mewujudkannya, apatah lagi melawan denyut perubahan yang ada di perkotaan.

Satu hal yang patut dikedepankan, desa dengan penghidupannya, menawarkan kesejukan dan kesederhanaan. Sungguh suatu kemewahan bagi orang-orang yang menetap di kota.

Di tempat inilah, kita bisa melupakan sejenak hiruk pikuk suara kendaraan. Menikmati keindahan kebun bambu bersama pesona hamparan sawah yang ikut memanjakan mata. Lalu imajinasi seketika muncul berkelabat.

Betapa penting sebuah tempat untuk kita kembali. Kadang kita menyebutnya sebagai 'kampung halaman'. Dibenak yang tersisa kita memagarinya sebagai nostalgia semata

Kampoeng Bambu Toddopulia adalah gerak aktualisasi kerinduan akan kampung halaman Demi untuk tak menyebut ada yang luput di masa lalu. Karena bagaimana pun, berat meminjam kata, RINDU.(*)

Penulis: Ansar
Editor: Ridwan Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help