IKA Unhas Belanda-PPI Groningen Gelar Diskusi, Prof Nurdin Abdullah Jadi Pembicara
Dihadiri 100 peserta dari kalangan mahasiswa dengan berbagai disiplin ilmu
Penulis: Hasrul | Editor: Suryana Anas
Laporan Wartawan Tribun Timur Hasrul
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR --Alumni Universitas Hasanuddin (Unhas) yang tergabung dalam IKA Unhas Belanda kerjasama dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia Groningen (PPIG) gelar diskusi bertajuk Indonesia Science Cafe (ISC) dengan tema Membangun Sinergitas Perguruan Tinggi dan Pemerintah Daerah; Peluang dan Tantangan, Minggu (2/4/2017).
Ketua Panitia, Muhammad Akbar mengungkapkan bahwa forum tersebut dihadiri 100 peserta dari kalangan mahasiswa dengan berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang lebih dari separuhnya saat ini menempuh studi jenjang doktoral.
"Kegiatan ini sebagai bentuk tindak lanjut dari hasil analisis kebijakan yang dilakukan dimana didapatkan bahwa kerjasama antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah masih belum optimal," jelas alumni Unhas tersebut melalui rilis yang diterima tribun timur.com, Selasa (4/4/2017).
Baca: VIDEO: Unhas Kalahkan Unibos di LA Campus League
"Padahal pembangunan nasional bisa tercapai jika pembangunan di daerah dapat terlaksana dengan baik dengan adanya sinergitas antara pemerintah dan kalangan intelektual (akademisi)," lanjut Muhammad Akbar.
Untuk membahas tema yang diangkat panitia menghadirkan Bupati Bantaeng, Prof Dr Ir H M Nurdin Abdullah M Agr dan Ketua Dewan Riset Provinsi Sulawesi Selatan, Prof Dr H M Wasir Thalib MS sebagai pembicara.
Baca: 500 Polisi Siap Kawal Ceramah Zakir Naik di Unhas
Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda, I Gusti Agung Wisaka Puja yang turut hadir membuka acara menyampaikan harapan agar anak muda yang sementara menempuh pendidikan di Belanda nantinya bisa kembali ke tanah air dan bisa membangun bangsa.
I Gusti Agung berharap para peserta yang hadir bisa berperan aktif dalam mewujudkan Indonesia Incorporate yang mana semangatnya bersumber dari anak muda.
"Hal tersebut hanya bisa dibangun dan terjawab ketika kalian semua mampu bersinergi, punya jiwa competitiveness seperti orang Jepang yang menganut istilah “ichiban” atau “be number one”," kata I Gusti Agung.
Prof Wasir Thalib pada kesempatan tersebut memaparkan empat kategori negara maju, mulai dari kriteria negara paling maju sampai negara paling terkebelakang yang pada intinya penentu suatu negara bisa maju atau tidak ialah sumber daya manusianya.
Tentunya sumber daya manusia yang bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh aparat pemerintah mulai dari pusat sampai ke daerah, sumber daya manusia yang bisa bersinergi baik secara individu, kelompok ataupun dalam hubungannya dengan pemerintah.
"Namun tidak banyak daerah yang berhasil memanfaatkan para tenaga ahli atau pakar yang kita miliki, selain itu anggaran yang dialokasikan untuk penelitian dan pengembangan masih tergolong minim," ungkap Guru Besar Fakultas Teknik UNM tersebut.
Kegiatan ISC tersebut diinisiasi oleh divisi ilmiah dan kajian strategis PPI Groningen-Belanda yang diketuai oleh Anak Muhammad Yaqoub yang selama ini rutin melakukan kajian dan diskusi terkait permasalahan-permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia.
Harapannya melalui forum diskusi yang rutin mereka lakukan tersebut nantinya akan lahir sebuah rekomendasi sebagai langkah awal dari kontribusi terhadap bangsa Indonesia. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/ikauhb_20170404_143452.jpg)