Pilwali Makassar

DIA: Urusi Dulu Tetangga Baru Jadi Wali Kota

, bagi calon pemimpin yang tak bisa memuliakan tetangganya, hampir pasti tak bisa memuliakan pula orang yang akan dipimpinnya kelak

Laporan Wartawan Tribun Timur Edi Sumardi

MAKASSAR, TRIBUN-TIMUR.COM - Pasangan calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Makassar, Mohammad Ramdhan Pomanto dan Syamsu Rizal (DIA) mengampanyekan peduli tetangga. Kampanye ini mulai digalakkan saat Ramadan. Agama pun mengajarkan agar setiap individu maupun rumah tangga peduli tetangganya.

Bagi pasangan nomor urut 8 ini, bagi calon pemimpin yang tak bisa memuliakan tetangganya, hampir pasti tak bisa memuliakan pula orang yang akan dipimpinnya kelak. Kemampuan untuk memimpin sebuah kota dimulai dari kemampuan untuk berbagi dan peduli dengan tetangga.

"Sebagai umat beragama, kita wajib memuliakan tetangga. Tidak perlu jauh-jauh kita membantu orang lain dulu, sedangkan tetangga kita saja tidak diperhatikan. Mulailah dari hal yang kecil, baru mengurusi yang besar" kata Danny, sapaan Ramdhan pada saat berbuka bersama tetangganya di Jl Amirullah, Makassar, Sabtu (27/7/2013). Jika hubungan dengan tetangga gagal, impilikasinya adalah menjadi pemimpin yang tak amanah.

Tetangga merupakan saudara paling dekat. Kata Danny, kewajiban kita sebagai saudara terdekatnyalah untuk memperhatikan mereka. Demikian pula sebaliknya, segala masalah yang timbul, tetangga paling pertama membantu.

Danny memberi contoh, seorang calon wali kota maupun wakil wali kota, harus meyakinkan tetangganya, dialah yang tebaik. Namun, sungguh memiriskan jika ada calon justru dibenci tetangganya bahkan saat pemungutan suara, kalah di TPS di lingkungan tempat tinggalnya.

Jika kalah di TPS, seperti yang dimaksud, maka calon tersebut hampir pasti tak peduli tetangga.

Juru bicara DIA, Irwan Ade Saputra menyinggung soal adanya tetangga seorang calon wali kota yang terlantar. Calon dimaksud bertempat tinggal di Bontoduri, Kecamatan Tamalate, Makassar. Calon tersebut merupakan seorang pejabat tinggi di Makassar.

Penulis: Edi Sumardi
Editor: Ina Maharani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help