Jurnalis Tribun Berduka
Kak Adin Guru yang Baik
Bagi kami yang bergelar "anak baru" sebagai jurnalis di Tribun Timur sosok Adin Syekhuddin
Penulis: Ilham Arsyam | Editor: Muh. Taufik
Di ruang merokok (salah satu ruangan di sudut redaksi) kami kerap berdiskusi. Yang paling kami ingat dari sosoknya adalah dia tak pernah mengabaikan jika kami bertanya tentang tugas-tugas jurnalistik. Meski dikenal sosok pendiam, kadang-kadang juga kami bercanda.
Diantara anak baru ini Ummink (sapaan Wa Ode Nurmin) paling usil dengan kak Adin. Ummink menceritakan ia kerap "berebut' kursi wakil pemimpin redaksi untuk menulis berita. Nah, Kak Adin biasa mengalah bila si Ummink ini yang duduk di kursi itu lebih dulu.
Ummink mengaku kerap menjadikan kak adin sebagai tempat curhat soal berita apalagi jika sedang buntu. "Yang paling saya ingat dia selalu bilang bahwa saya adalah wartawan yang paling sering dipusingkan sama kata-kata," kenang Ummink.
Saya sempat memposting gambar kursi tempat dimana alumni Gontor tersebut sering menyelesaikan beritanya melalui Blackberry. Salah satu wartawan Tribun lainnya Hajrah atau Ochi meminta saya menghapusnya gara-gara tak bisa menahan tangis melihat kursi tersebut.
Rasni atau Arni juga punya cerita. Kak Adin kerap memberikan petuah untuk tidak buru-buru dalam mengejar berita. "Kecepatan motormu dek maksimal 30 km/jam," katanya menirukan ucapan kak Adin.
Setahu
kami dia memang tidak pernah ngebut ketika berkendara. Kepala Dinas
Perindustrian dan Perdagangan Sulsel Irman Yasin Limpo yang juga akrab
dengan almarhum juga menyampaikan hal serupa.
Salah satu rekan kak Adin, Jumardin Akas jurnalis Seputar Indonesia di
setiap bertemu dengan saya menuturkan bahwa Adin adalah sosok jurnalis
yang baik dan tak pelit berbagi informasi dan sangat mudah bergaul.
Saya
sendiri pertama kali mengenal sosok almarhum ketika ditugaskan bersama
meliput acara pertemuan pimpinan DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP)
SAuryadarma Ali dengan kandidat Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo di
Hotel Clarion beberapa waktu lalu.
Kesan pertama, meski dia sudah berpengalaman meliput politik tak ada kesan menggurui kepada saya yang masih bau kencur.
Ketika
ditugaskan meliput pesantren Istiqamah di Sinjai (tempat kak Adin
pernah mengajar) jelang Ramadan tahun ini, saya sempat berjumpa dengan
pimpinan pesantren tersebut, Hidayatullah Marzuki. "Kamu temannya Adin
yah? Dia pernah tinggal disini istrinya juga alumni pesantren sini,''
ujarnya sambil mengantarkan saya ke bekas kamar tidur Adin. Beberapa
santri yang saya wawancarai juga mengaku mengenal sosok Adin.
Kak Adin, begitu kami kerap menyapanya, hampir setiap orang yang
mengenalnya meninggalkan kesan yang baik. Selamat jalan kak Adin,
selamat jalan sahabat, saudara, senior sekaligus guru kami. (*)