CITIZEN REPORTER
Pengalaman Trip di Filipina
Laporan: Jowvy Kumala, warga Makassar dari Filipina
Penulis: CitizenReporter | Editor: Ina Maharani
Laporan: Jowvy Kumala, warga Makassar dari Filipina
TRIBUN-TIMUR.COM -- Diajak adik ipar menemani bussiness trip-nya ke Manila, sejak jauh-jauh
hari saya sudah hunting tiket. Karena ini judulnya bukan Abidin (atas
biaya dinas) maka prioritas nyari tiketnya juga langsung ke faktor harga
dulu. Lain-lainnya menyesuaikan.
Mengatur trip ke luar negeri dari Makassar memang agak ribet. Pilihannya
harus via Jakarta dulu atau via Denpasar. Padahal kalau lihat di map,
Manila itu seharusnya bisa lebih dekat jarak tempuhnya dari Manado
misalnya atau Balikpapan, kenapa gak ada flight dari Manado saja sih
(versi ngomel sambil nyari tiket). Dapatlah rute yang paling ekonomis
mks-kul by Lion lanjut dgn Cebu Pasific Airlines. Deal!
Jebakan pertama saat solo traveller mulai dari sini. Turun dari pesawat
langsung cari counter untuk cek in ke trip selanjutnya dengan Cebu itu.
Dalam itenerary yang dikirim via email sudah disebut kalo terminal yang
digunakan oleh Cebu airlines adalah Low Cost Terminal. Maka
berkelilinglah saya di KLIA untuk mencari sebelah mana sih terminal
itu.
Sebetulnya cukup mudah menemukan apa saja yang berlokasi di KLIA. Tata
letak yang apik plus map situasi dengan penunjuk arah yang jelas dan
disebar di beberapa titik strategis, gak akan bikin kita nyasar. Kalo
tergoda berlama-lama sih iya ;) karena terminal yang berasa seperti
shopping mall itu nyaman sekali memanjakan mata.
45 menit muter-muter tetap tidak menemukan counter Cebu sementara hati
mulai goyah pengen mampir-mampir di aneka counter yang kinclong-kinclong
itu. Akhirnya saya ke desk informasi.
Walah..ternyata memang saya harus bergerak ke terminal lain yang mereka
sebut dengan LCCT (Low Cost Carrier Terminal...ya itu yang ditulis di
itenerary itu).
"ow mam, you harus ke terminal elsisiti sekitar dua pulu lima minit dari
sini ya. Sila pakai term di sebelah sana, ambil beges, lapor
imigresyen, lalu keluar ambil taksi atau bas" begitu penjelasan mbaknya
di informasi.
Proses lancar sampai di bagian lapor di konter imigrasi. Giliran mau
memutuskan pake taksi atau bus, mulai bingung lagi. Jebakan kedua.
Dengan mengatasnamakan pengiritan, sudah sampai di depan konter taksi
bandara masih penasaran cari konter bus dan berarti butuh jalan lagi
lalu pindah ke lantai selevel di bawah untuk nyampe ke tempat bus. Bah
ternyata untuk beli tiket bus itu harus di counter otomatis gitu..lha
diri ini kan gak tau harus brenti di terminal mana nantinya...mana sepi
takada pipel yang bisa ditanya.
Aarrgghh...akhirnya lari lagi balik ke lantai atas memutuskan pake taksi
saja dah!!! Sambil ehm..bersyukur...sudah berapa kalori nih yang
terbakar selama jalan-lari-jalan-lompat dalam proses nyari cara ke LCCT.
Punggung sudah mulai berasa basah dengan keringat.
Taksi bandara di sini mengatur jenis mobil yang digunakan sesuai jumlah
penumpang dalam satu rombongan. Kalo sendirian, ya dikasih mobil sedan
seperti sedan untuk taksi pada umumnya. Kalo berdua atau lebih, dapatnya
mobil dengan kapasitas yang berbeda lagi. Setelah dapat tiketnya,
sayapun meluncur ke LCCT pakai taksi dengan nafas ngos-ngosan plus masih
membawa rasa penasaran bagaimana caranya pake bus tadi itu ya.. Lumayan
juga jaraknya nih dari KLiA ke LCCT... Berasa dari bandara hasanuddin
ke gedung miring di pettarani lamanya (tanpa macet).
Jebakan ketiga saat nyari counter Cebu flight J5-500 di S3. Saya cuma punya waktu 30 menit lagi kalo tidak mau telat cek in
Petunjuk konter yang terlihat dari sisi saya masuk dimulai dari S13
langsung ke R berapaa gitu. Padahal di LCD jelas ditunjukkan kalo tempat
cek in yang S3 itu di lantai tempat saya berpijak ini. Sementara pos
informasi kosong ga ada petugas. Memang beda ya layanan di KLIA tadi
sama di sini...batinku.
Kembali berlari-lari saya telusuri tiap row konter. Llah... Ternyata S3
gak jauh dari tempat saya masuk pertama tadiiii.... Tapi cara ngliatnya
dari sisi yang berlawanan..*tepok jidat*.
singkat cerita, cek in, nunggu bentar, naik pesawat. Hmm penumpang ga
banyak, so seperti kebiasaan di sini...langsung nyari deretan kursi yang
kosong di row agak belakang. Berharap gak ada penumpang yang milih di
situ. O ya jadi ingat... Pada saat booking via online airlines ini
menawarkan pemilihan seat juga. Tapi ga penting amat sih menurut saya,
karena urusan musti kena charge itu. Toh akhirnya boleh dapat tempat
suka-suka juga hehe.
Perjalanan dari Kuala Lumpur ke Manila nonstop butuh waktu sekitar 3jam
kurang. Serasa Makassar-Timika deh. Ga dapat apa-apa untuk 'aktifitas
mulut' seperti snack bahkan air mineral karena semua harus dibeli dalam
pesawat, saya milih menyelesaikan bacaan saja.
Sekitar satu jam kemudian, setelah pramugari selesai jualan makanan dan
barang-barang duty free, ada yang gak biasa saya temukan dalam
perjalanan ini. Pramugrari terdengar menyampaikan sesuatu yang gak tau
apa karena pake bahasa Pilipin gitu, tau-tau para penumpang tepuk
tangan. Heh? Apa sih?! Saya memanjangkan leher ke arah depan, kepo.
Eehh...salah satu pramugari lalu menyanyikan sepotong lagu (suaranya
keren) dan ada beberapa penumpang yang angkat tangan. Salah satu dari
penumpang itu lalu ditunjuk oleh pramugari yang lain untuk maju. Oa
laaah mereka bikin semacam games tebak lagu! Begitu kesimpulan saya
setelah berapa set mereka melakukan aktifitas itu. Penumpang yang
menjawab benar, akan dapat souvenir dari cabin crew dan lagi-lagi dapat
tepuk tangan yang meriah dari penumpang lainnya. Hahaiii! Seru juga ya.
Tapi saya berpikir, mungkin acara ngasih tepuk tangan sudah familiar
kalo pake airlines ini. Sesaat setelah pak Pilot mengumumkan bahwa tak
lama lagi kita akan segera mendarat di Ninoy Aquino International
Airport, lagi-lagi sebagian besar penumpang ngasih tepuk tangan dulu,
baru mereka merapikan sabuk pengaman, membuka penutup jendela dan
melipat meja di depan kursi ke tempat semula. Ya ya ya... Dapat cerita
lagi nih buat dibagi :).(*)