Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Suatu Malam di Jl AP Pettarani

Suatu Malam di Jl AP Pettarani

Penulis: Muh. Irham | Editor: Muh. Irham
KAMIS malam pukul 19.30 wita, hujan masih saja turun di Kota Makassar. Sejak siang hingga sore, hujan terus mendera, seolah tak ada jeda dan tak memberi kesempatan kepada warga Makassar untuk sejenak menikmati langit yang cerah.

Malam itu, seantero Makassar dikepung genangan air akibat hujan yang terus turun. Di beberapa titik yang selama ini menjadi langganan banjir, ketinggian air malah mencapai tinggi 50 sentimeter. Hal ini tentu saja membuat aktivitas warga Makassar terganggu.

Sejumlah ruas jalan tergenang  karena air dari drainase meluap hingga ke badan jalan dan mengakibatkan kemacetan panjang. Kendaraan roda dua yang nekat melintas di bahu jalan yang lebih rendah, banyak yang terpaksa terhenti karena mesinnya kemasukan air.

Beberapa daerah yang biasanya tidak terjangkau genangan air, malam itu, ikut terendam. Misalnya di depan Kantor PT PLN Sultan Batara, Jl Tamalate, dan Jl Letnan Jenderal Hertasning, tepatnya di depan rumah jabatan Wakil Wali Kota Makassar, Supomo Guntur. Air melupa hingga betis orang dewasa.

Kendaraan yang melintas di ruas jalan itu terpaksa mengurangi kecepatannya dan memilih bahu jalan yang lebih tinggi untuk menghindari genangan air. Sementara di ruas Jl AP Pettarani, tepatnya di depan Kantor Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Sulsel, badan jalan sudah tidak tampak dan berganti menjadi sungai yang beraliran deras.

Di Jl Perintis Kemerdekaan, tepatnya depan Kampus STMIK Dipanegara, Makassar, air juga menggenang hingga selutut orang dewasa. Menurut beberapa pengendara sepeda motor, air sudah terlihat meninggi sejak sore hingga malam.

Ironisnya, di tengah kepanikan warga menghadapi banjir dan kemacetan panjang, tak ada aparat kepolisian yang mengurai arus kendaraan. Hanya ada beberapa anak muda yang berinisiatif mengatur kendaraan agar tidak terjadi kemacetan yang lebih panjang.

Banjir di kedua tempat ini memang bukan hal yang baru lagi. Hampir setiap tahun, setiap musim hujan tiba, banjir selalu menjadi rutinitas dan pasti mengganggu aktivitas masyarakat.

Kenapa banjir ini bisa terjadi setiap tahun di Makassar? Sistim drainase yang buruk, serta makin berkurangnya daerah serapan air, menjadi penyebabnya.

Coba tengok drainase di Makassar, sebagian besar penuh dengan sampah dan sedimentasi yang tinggi. Bahkan, di beberapa drainse di Makassar, sudah bertahun-tahun tak pernah dikeruk. Padahal, pemerintah kota selalu menyiapkan anggaran yang cukup besar untuk memperbaiki drainse yang rusak atau mengeruk sedimentasi.

Tahun 2012 ini, anggaran yang disiapkan mencapai Rp 1 miliar lebih dengan estimasi dapat membenahi 2.420 meter atau 2,4 Km drainase di Makassar. Angka ini jelas tak cukup, mengingat  terdapat 14 drainse besar di Kota Makassar yang semuanya bermuara di Pantai Losari. Jangankan membenahi drainse kecil, untuk membenahi drainase besar saja, dananya tak cukup.

Berbicara soal ruang terbuka hijau (RTH), Makassar masih jauh dari harapan. Anggota DPRD Makassar, Swardi Hiong yang menadi inisiator Ranperda RTH menilai, kawasan RTH di Makassar bahkan belum mencapai 10 persen.

Sebagian besar kawasan hijau di telah disulap menjadi kawasan rumah toko atau ruko. Sebuah konsekuensi daerah metropolitan yang terus bergerak maju dan berkembang pesat, bangunan semakin banyak, dan daerah resapan air juga makin berkurang.

Inilah Makassar, kota yang akan menjadi kota dunia, masih berkutat dengan banjir dan genangan air, sampah, dan ruas jalan yang selalu macet. (*/tribun-timur.com)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved