Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Hikmah Ramadan

Jabatan Sebagai Amanah

Oleh: Arifuddin Ahmad

Tayang:
Penulis: Ina Maharani | Editor: Ina Maharani
 AMANAH

Oleh: Arifuddin Ahmad


Jika mencermati foto-foto di baliho-baliho yang terpanpang diberbagai sudut jalan, boleh jadi yang terbetik dalam benak kita bahwa pemiliknya memasang balihonya tidak sekedar mencari popularitas tetapi diantara mereka menginginkan suatu jabatan. Hal ini menunjukkan bahwa manusia memiliki tabiat untuk berkuasa atau menduduki jabatan. Hanya saja, manusia seringkali menempuh berbagai cara untuk meraih ambisinya menduduki jabatan tanpa mempertimbangkan kemampuannya. Fenomena ini membuktikan pernyataan Al-Qur’an bahwa manusia terkadang bersikap zalim dan bodoh untuk meraih ambisinya menduduki jabatan. Allah berfirman (Terjemahnya), “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat) lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh.” (Q.s. al-Ahzab [33]: 72)
Jabatan adalah amanah
Di dalam Islam, jabatan adalah sebuah amanah. Setiap manusia adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya (HR. Bukhari). Hal ini berarti setiap manusia memiliki jabatan karena ia adalah pemimpin. Dengan demikian setiap manusia dikehendaki memiliki sifat amanah karena memiliki jabatan.
Kata amanah seakar dengan kata iman (kepercayaan) dan aman. Maka, amanah diartikan sebagai sesuatu yang diserahkan kepada pihak lain disertai dengan rasa aman dari pemberinya karena kepercayaannya bahwa apa yang diamanatkan itu, akan dipelihara dengan baik, serta keberadaannya aman di tangan yang diberi amant itu. Amanah yang diserahkan bila tiba saatnya atau bila diminta oleh pemiliknya maka harus dikembalikan. Amanah adalah lawan dari khianat. Ia tidak diberikan kecuali kepada orang yang dinilai oleh pemberinya dapat memelihar dengan baik apa yang diberikannya itu.
Islam mengajarkan bahwa amanah adalah salah satu asas keimanan, sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah saw. (artinya), “Tidak ada iman bagi yang tidak memiliki amanah.” Amanah merupakan sendi utama interaksi. Ia membutuhkan kepercayaan dan kepercayaan itu melahirkan ketenangan batin dan selanjutnya melahirkan keyakinan.
Iman dan Ilmu
Amanah dapat dipenuhi jika di dalamnya terdapat sedikitnya dua aspek, yaitu iman dan ilmu. Allah Swt. melarang bagi orang beriman memilih pemimpin melainkan orang beriman pula (Q.s. Ali Imran [3]:28) karena jika orang tersebut tidak beriman tentu akan mengabaikan aturan dan ketentuan Allah Swt. Pemimpin yang tidak beriman mudah untuk mengkhianati amanah yang diembangnya. Jika ia dapat mengelak dari hukum manusia, maka tidak perlu menghindar dari hukuman Allah yang ia tidak imani.
Demikian pula orang yang tidak memiliki ilmu tentang jabatan yang diembannya tidak amanah karena sekalipun ia berusaha untuk dapat menjalankan tugasnya tetapi karena ketidaktahuannya, maka iapun tidak bisa melaksanakan amanah yang diembannya. Misalnya, Seorang muballigh yang tidak diragukan imannya diangkat sebagai kepala Dinas Pekerjaan Umum karena tidak berlatarbelakang teknik, maka ia tidak menjalankan amanah tersebut dengan baik, kurang amanah.
Sesuai Keahlian
Allah Swt. menegaskan di dalam Q.s. al-Nisa’ (4): 58 bahwa sampaikanlah amanah itu kepada ahlinya (yang berhak menerimanya) dan memutuskan perkara secara adil. Keadilan dapat terwujud jika yang bersangkutan memiliki amanah; amanah dapat dicapai jika seseorang beriman dan berilmu.
Sebuah amanah jika disia-siakan, yakni jika tidak disampaikan kepada yang buka ahlinya, maka tunggulah kehancuran. Demikian penegasan Rasulullah saw. di dalam hadisnya, idza dhuyyi’at al-amanah fantazhir al-sa’ah ... idza usnidal amru ila ghairi ahlihi fantazhir al-sa’ah (HR. Bukhari dari Abu Huraerah). Amanah sering kali tidak dapat dilakasanakan karena yang diberi amanah untuk itu tidak memiliki kompetensi. Oleh karena itu, umat dianjurkan untuk memilih pemimpin yang beriman dan memiliki keahlian di bidangnya agar dia dapat bersikap amanah. Wa Allah a’lam bi al-Shawab.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved