Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

BERITA FOTO

Pasar Tamalate Masih Pilihan Warga Gowa

Di tengah marak pembangunan minimarket dan pusat perbelanjaan di Gowa dan sekitarnya, Pasar Tradisional Sungguminasa, Kabupaten Gowa, tetap favorit

Penulis: Ridwan Putra | Editor: Ridwan Putra
zoom-inlihat foto Pasar Tamalate Masih Pilihan Warga Gowa
TRIBUN TIMUR/MUH IRHAM
Pasar Tamalate, Gowa, di Minggu (19/06/2011) pagi.
TRIBUN-TIMUR.COM, SUNGGUMINASA - Di tengah maraknya pembangunan minimarket dan pusat perbelanjaan di Gowa dan sekitarnya, Pasar Tradisional Sungguminasa, Kabupaten Gowa, tetap menjadi tempat favorit warga berbelanja.

Meski terkesan semrawut dan jorok, pasar yang juga berfungsi sebagai terminal ini, tetap ramai, meski hanya pada subuh dan pagi hari.

Pembeli umunya adalah warga Gowa yang membutuhkan sayur-sayuran segar, serta sembilan bahan pokok lainnya.

"Alhamdulillah, tetapji ramai. Tapi pagi ji," kata Dg Puji, salah seorang pedagang sayur.

Sayur dan buah yang dijual di pasar ini sebagian besar dipasok dari Malino, 35 km dari Sungguminasa, Ibu Kota Kabupaten Gowa. Selain itu, sebagian lagi dari daerah Enrekang dan Takalar.

Di tempat ini, keramaian hanya terasa pada subuh dan pagi hari. Sayur-sayur dan buah yang baru tiba, kebanyakan langsung diborong oleh pengumpul yang sudah menunggu. Selanjutnya komoditi ini kembali disalurkan secara ecer di pasar-pasar tradisional lain atau langsung ke pembeli di perumahan di Gowa dan Makassar.

Beranjak siang, jumlah pengunjung relatif berkurang, bahkan cenderung sepi. Yang tersisa hanya penjual yang memiliki toko menetap yang masih berjualan hingga sore hari.

Eksistensi pasar ini tidak terlepas dari harga yang ditawarkan lebih murah ketimbang di pasar lain. Rantai pasar yang pendek, langsung dari petani, membuat harga sayur mayur lebih murah. Hal ini pula yang menggoda pedagang pengumpul melakukan aksi borong untuk dijual kembali di tempat lain.

Terlepas dari harga dan ketersediaan barang yang memadai, pasar ini telah membuktikan bahwa pasar modern yang memiliki fasilitas lengkap, bersih, dan tawaran harga yang murah, tidak menjamin konsumen akan tertarik.

Justeru di pasar yang semrawut, jorok, interaksi sosial antara pedagang dan pembeli sangat terasa. Hal inilah yang menyebabkan mereka masih tetap bertahan. (TRIBUN-TIMUR.COM/Muhammad Irham)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved