Gunung Berapi
Aktivitas Bromo Belum Reda
Aktivitas Bromo Belum Reda
MALANG, TRIBUN-TIMUR.COM - Aktivitas Gunung Bromo hingga saat ini belum juga mereda. Musim hujan ini masyarakat diimbau mewaspadai banjir lahar dingin material vulkanik Gunung Bromo yang melalui sejumlah sungai di wilayah Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.
Pada Selasa (1/3/2011), aktivitas vulkanik Gunung Bromo tidak jauh beda dari hari-hari sebelumnya. Terjadi 14 kali letusan dengan amplitudo maksimal 37-40 milimeter dengan lama 17-50 detik.
Tremor terus terjadi, seperti halnya suara dentuman dan kepulan asap cokelat kehitaman. Angin mengarah ke timur dan timur laut dengan membawa debu tipis dari semburan asap tersebut. Status Gunung bromo hingga kini masih siaga.
"Secara umum kondisi Gunung Bromo tetap fluktuatif. Hanya memang dua hari ini gerimis dan mendung. Di musim hujan seperti ini sesuai instruksi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) harus diwaspadai kemungkinan terjadinya lahar dingin dari material Gunung Bromo," tutur Muhammad Syafii, Kepala Pos Pantau Gunung Bromo di Dusun Cemorolawang, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.
Sesuai imbauan PVMBG, Syafii mengatakan masyarakat yang tinggal di bantaran Sungai Jurang Perahu, Jurang Nganten, dan Sungai Sukapura (semuanya di wilayah Kecamatan Sukapura) agar mewaspadai kemungkinan terjadinya aliran lahar dingin terutama bila terjadi hujan lebat di Desa Ngadisari dan Ngadirejo. "Ini karena jika hujan lebat, timbunan material vulkanik seperti pasir dari Gunung Bromo bisa terbawa hujan hingga ke bawah," ujar Syafii.
Kewaspadaan terhadap kemungkinan terjadinya banjir lahar dingin, menurut Camat Sukapura, Sarifudin, telah beberapa kali diserukan oleh PVMBG. Hanya saja sebenarnya kerawanan terbesar justru bukan di sekitar tiga sungai tersebut di atas .
"Lokasi di tiga sungai itu berbentuk jurang dengan kedalaman sampai 50 meter. Maka dimungkinkan tidak begitu berbahaya bagi masyarakat sekitar. Yang berbahaya justru bagi masyarakat di wilayah bawah Probolinggo, yang lokasinya jauh lebih rendah, seperti wilayah Kecamatan Sumberasih, Kecamatan Wonomerto, dan Kecamatan Lumbang," kata Sarifudin.
Sebulan lalu banjir lahar dingin dari Gunung Bromo menyebabkan ratusan rumah di Probolinggo terendam air. Air merendam setelah sungai-sungai seperti Sungai Pesisir di Kecamatan Sumberasih dan Sungai Dawuhan di Kecamatan Wonomerto meluap akibat tidak bisa menampung pasir dan lumpur material vulkanik Gunung Bromo.
Kemungkinan banjir dan lahar dingin di sekitar Gunung Bromo memang harus diwaspadai selama musim penghujan Januari-Maret. "Ini karena kemungkinan hujan tidak hanya terjadi siang atau sore saja, namun bisa sepanjang hari dengan intensitas ringan hingga-sedang," ujar Rahmatullah Adjie, Kepala Seksi Observasi dan Informasi Stasiun Klimatologi Karangploso Malang.
Pada Selasa kemarin, Rahmatullah mengatakan wilayah di sekitar Bromo dalam kondisi berawan dan berpotensi hujan ringan. Debu mengarah ke timur laut dan menyebar hingga ke wilayah timur Jatim dan laut Bali. Variasi angin dari arah barat menuju barat laut dengan kecepatan hingga 26 km per jam.(*)