Amerika Dukung Dialog Nasional di Bahrain
AS Dukung "Dialog Nasional" Bahrain
WASHINGTON, TRIBUN-TIMUR.COM - Presiden Barack Obama, Minggu (27/2/2011), menegaskan kembali dukungan AS bagi sebuah "dialog nasional" di Bahrain. Ia mengatakan, dialog itu harus "inklusif, non-sektarian dan responsif" bagi rakyat di kerajaan Teluk itu.
Pernyataan Obama tersebut muncul sehari setelah Raja Bahrain, Hamad bin Issa al-Khalifa, melakukan reshuffle terhadap kabinetnya dan mengizinkan pemimpin oposisi yang selama ini berada pengasingan kembali ke negara itu setelah 13 hari protes berlangsung.
Obama menyambut baik perubahan-perubahan itu dan penegasan kembali komitmen Raja untuk melakukan reformasi. "Amerika Serikat mendukung inisiatif dialog nasional yang dipimpin Putra Mahkota Pangeran Salman bin Hamad al-Khalifa, dan mendorong suatu proses yang bermakna, inklusif, non-sektarian, dan responsif bagi orang-orang Bahrain," katanya.
Bahrain sebuah kerajaan kecil yang kaya minyak. Penguasanya berasal dari Islam Sunni tetapi mayoritas rakyatnya Islam Syiah. Di negara yang sekarang bergolak itu terdapat markas Armada Kelima AS.
Washington telah berupaya untuk berjalan di garis tipis antara mendukung sekutu strategisnya dan mendukung aspirasi demokrasi rakyat Bahrain yang telah berunjuk rasa demi perubahan, menyusul pemberontakan serupa di Tunisia dan Mesir.
"Dialog itu," lanjut Obama, "menawarkan kesempatan bagi reformasi yang berarti bagi semua rakyat Bahrain untuk membentuk masa depan bersama yang lebih adil. Sebagai teman lama Bahrain, Amerika Serikat tetap percaya bahwa stabilitas di Bahrain akan meningkat dengan tetap menghormati hak-hak universal rakyat Bahrain dan reformasi yang memenuhi aspirasi semua warga Bahrain," kata Obama.
Minggu, ribuan warga Bahrain berpawai di Manama untuk mendesak agar dinasti penguasa negara itu mundur. Pada hari yang sama 18 anggota parlemen oposisi mengajukan surat pengunduran diri mereka sebagai protes atas kematian para demonstran anti-rezim, tujuh di antaranya dibunuh oleh pasukan keamanan sejak aksi protes dimulai. Kerumunan para pengunjuk rasa berangkat dari Lapangan Mutiara, yang telah menjadi pusat protes anti-pemerintah yang dimulai pada tanggal 14 Februari, kemudian berbaris menuju jalan raya utama.(*)