Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Kiprah BKPRMI Bantu Korban Banjir dan Longsor di  Sumatera-Aceh

Pada peristiwa tsunami Aceh, gempa Lombok, Palu, hingga Yogyakarta, BKPRMI selalu turun langsung, bahkan dalam beberapa kasus berada di lokasi...

Penulis: Makmur | Editor: Abdul Azis Alimuddin
Tribun-timur.com/Muh. Abdiwan
BKPRMI SULSEL - Ketua Umum DPW Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Sulawesi Selatan (Sulsel), Asri Said (depan tengah) dan jajaran pengurus BKPRMI Sulsel kunjungan di kantor Tribun Timur, Jl Opu Daeng Risadju/Cenderawasih, Makassar, Sulsel, Senin (29/12/2025). Pelantikan akan digelar di Baruga Asta Cita, Rumah Jabatan Gubernur Sulawesi Selatan, Jl Sungai Tangka, Makassar, Rabu (31/12/2025) lusa. 

TRIBUN-TIMUR.COM - Bencana banjir bandang dan longsor melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat awal November hingga Desember 2025.

Berbagai bantuan mengalir untuk membantu warga terdampak, salah satunya dari para pemuda dan remaja masjid yang tergabung dalam Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI).

Penyaluran bantuan tersebut dibahas dalam program Bincang Komunitas yang tayang di kanal YouTube Tribun-Timur, Selasa (30/12/2025).

Menghadirkan Ketua DPP BKPRMI Nanang Mubarok dan Ketua DPW BKPRMI Sulsel Asri Said sebagai narasumber, dengan I Luh Devi Sania sebagai pemandu acara.

Nanang Mubarok menegaskan, keterlibatan BKPRMI dalam penanganan bencana merupakan bagian dari komitmen organisasi dalam khidmatul ummah, yakni mengabdi dan melayani umat, sekaligus menjadi mitra strategis pemerintah dalam situasi darurat kebencanaan.

Mekanisme penyaluran bantuan BKPRMI untuk korban bencana di Aceh, Sumut dan Sumbar?

Asri Said: BKPRMI tidak hanya bergerak di bidang pendidikan dan pembinaan generasi Qurani melalui sekolah nonformal, tapi juga memiliki komitmen kuat dalam pengabdian kepada umat dan bangsa.

Prinsip tersebut dikenal dengan khidmatul ummah, yakni melayani dan mengabdi kepada masyarakat, serta sodiqul hukumah, menjadi mitra pemerintah. Keterlibatan BKPRMI dalam penanganan bencana bukan yang pertama.

Pada peristiwa tsunami Aceh, gempa Lombok, Palu, hingga Yogyakarta, BKPRMI selalu turun langsung, bahkan dalam beberapa kasus berada di lokasi selama berbulan-bulan.

Saat bencana di Lombok dan Palu, saya juga dipercaya sebagai Koordinator Nasional BKPRMI Peduli.

Ketika bencana banjir bandang dan longsor terjadi secara bersamaan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada awal Desember 2025, BKPRMI langsung bergerak.

Dalam dua hari setelah menerima informasi, kami mengeluarkan surat imbauan kepada seluruh keluarga besar BKPRMI untuk mendoakan korban, menggalang donasi, dan mengerahkan relawan.

BKPRMI kemudian mengaktifkan program BKPRMI Peduli dengan rekening khusus agar pengelolaan donasi dilakukan secara transparan dan akuntabel.

Penyaluran bantuan dilakukan langsung oleh pengurus pusat maupun daerah, termasuk DPW yang turun langsung ke lapangan.

Bencana ini tergolong masif. Di Aceh, dari 24 kabupaten/kota, sebanyak 18 wilayah terdampak banjir dan longsor.

Akses ke sejumlah lokasi terputus hingga hampir tiga pekan, baik jalan maupun jaringan komunikasi.

Bantuan hanya dapat menjangkau wilayah terdampak melalui relawan yang berjalan kaki, dibantu pengamanan TNI dan Polri. Meski menghadapi keterbatasan, donasi terus mengalir.

Dukungan datang dari ustaz dan ustazah, guru mengaji, santri, santriwati, serta pengurus BKPRMI di berbagai daerah.

Di Sulawesi Selatan, misalnya, donasi dikumpulkan secara manual, termasuk beras dari masyarakat yang hingga kini telah mencapai puluhan ton.

Semangat gotong royong pemuda dan remaja masjid menjadi kekuatan utama.

Meski dengan keterbatasan, rasa kemanusiaan mendorong BKPRMI untuk hadir dan membantu langsung saudara-saudara yang terdampak bencana.

Berapa total bantuan yang dikirim BKPRMI Sulsel ke tiga daerah terdampak bencana?

Asri Said: Setelah mendapat arahan dari Ketua Umum DPP BKPRMI, kami langsung menggerakkan penggalangan donasi hingga ke tingkat kabupaten, kecamatan, desa, remaja masjid, serta TPA binaan.

Donasi berasal dari berbagai elemen, termasuk remaja masjid dan santri, yang menyumbang dari nominal kecil seperti Rp1.000 hingga Rp2.000, namun terkumpul dalam jumlah besar.

Hingga saat ini, BKPRMI Sulawesi Selatan telah menghimpun dana Rp178 juta untuk tahap pertama. Dari jumlah tersebut, Rp94 juta telah disalurkan langsung ke wilayah terdampak.

Selanjutnya, BKPRMI Sulsel bersama DPP BKPRMI berencana turun langsung ke lokasi pascabencana usai pelantikan untuk memastikan kondisi dan kebutuhan masyarakat.

Nanang Mubarok: Tahap pertama bantuan difokuskan pada tanggap darurat, meliputi pemenuhan kebutuhan dasar pribadi, keluarga, dan ibadah.

Bantuan yang disalurkan antara lain sembako seperti beras, minyak, gula, dan mi instan, serta dukungan kebutuhan kesehatan. BKPRMI memprioritaskan pemulihan sarana ibadah.

Sejumlah masjid dan musala terdampak lumpur dan tidak dapat digunakan, termasuk sebuah masjid di Kabupaten Agam yang sempat tiga pekan tidak menggelar salat Jumat.

Untuk itu, BKPRMI membuka posko di masjid tersebut dan menyalurkan bantuan berupa karpet, mimbar, dan perangkat sound system, dengan dukungan relawan serta TNI-Polri, agar aktivitas ibadah kembali berjalan.

Pada tahap kedua, BKPRMI akan fokus pada trauma healing bagi anak-anak, lansia, serta warga yang kehilangan rumah dan anggota keluarga.

Adapun tahap ketiga diarahkan pada upaya pemulihan pascabencana, termasuk bantuan terbatas bagi guru mengaji dan warga yang rumahnya rusak atau hanyut, dengan nominal bantuan berkisar antara Rp5 juta hingga Rp10 juta per keluarga.

Meski BKPRMI bukan lembaga pemerintah maupun NGO besar, seluruh bantuan disalurkan sebagai bentuk amanah dari para guru mengaji, ustaz dan ustazah, santri, serta pengurus BKPRMI.

Saat ini, sejumlah musala dan masjid di wilayah terdampak telah kembali aktif digunakan.

Berapa personel BKPRMI Sulsel yang diturunkan ke daerah terdampak bencana?

Asri Said: BKPRMI Sulawesi Selatan telah menurunkan tiga personel ke lokasi bencana, termasuk Direktur LPPSDM, untuk menjangkau wilayah terdampak di Sumatera Barat, khususnya daerah pelosok.

Pada penyaluran bantuan tahap ketiga, BKPRMI akan menerapkan pendekatan berbasis kebutuhan. Sebelum menyalurkan bantuan, tim akan melakukan survei lapangan untuk memastikan jenis bantuan yang benar-benar dibutuhkan masyarakat.

Pendekatan ini dilakukan agar bantuan tepat sasaran dan tidak terbuang sia-sia, mengingat bantuan dari berbagai pihak telah lebih dulu masuk ke wilayah terdampak.

Apakah BKPRMI Sulsel masih menghimpun bantuan untuk penyaluran tahap ketiga?

Asri Said: Jadi teman-teman masih bergerak dan sampai tadi siang masih ada yang masuk dari beberapa kabupaten itu kita himpun terus dan tentunya karena ini dampaknya besar, proses rehabilitasinya juga tentu panjang panjang.

Mungkin kemarin adalah butuh bahan-bahan pokok tapi lebih lanjutnya akan lebih dominan ke bagaimana perbaikan prasarana termasuk rumah-rumah dari penduduk yang berdampak gitu.

Bagaimana rencana penyaluran bantuan tahap ketiga BKPRMI?

Nanang Mubarok: BKPRMI memiliki struktur organisasi yang lengkap, mulai dari tingkat pusat hingga ke provinsi, kabupaten, kecamatan, desa, masjid, serta unit sekolah.

Struktur ini menjadi jalur koordinasi utama sekaligus dasar penentuan penerima manfaat prioritas.

Dalam penyaluran bantuan, BKPRMI menerapkan skema prioritas. Prioritas pertama adalah keluarga besar BKPRMI, yang meliputi pengurus, guru mengaji, serta santri dan santriwati.

Prioritas kedua difokuskan pada pemulihan infrastruktur pendidikan dan ibadah, seperti TPA, TKA, masjid, dan musala.

Meski demikian, BKPRMI tetap memberikan bantuan kepada masyarakat umum di luar lingkup tersebut.

Pada tahap kedua, BKPRMI juga menjalin kerja sama dengan Universitas Islam Negeri Bukittinggi melalui nota kesepahaman untuk menyiapkan kader yang akan diterjunkan dalam program trauma healing dan rehabilitasi mental, spiritual, serta moral.

Memasuki tahap berikutnya pada awal Januari 2026, BKPRMI berencana mengajak DPW dari berbagai daerah untuk turut terlibat.

Keterlibatan tersebut akan diawali dengan pembekalan dan penyesuaian kebutuhan di lapangan, dengan fokus pada pelaksanaan trauma healing berbasis kearifan lokal dan berbasis masjid.

Berapa lama proses pemulihan pascabencana diperkirakan berlangsung?

Nanang Mubarok: Bencana terjadi di Aceh kerap disebut masyarakat setempat sebagai “tsunami kedua” karena dampaknya yang luas.

Pada peristiwa tsunami sebelumnya, proses pemulihan memerlukan waktu yang cukup lama meski saat itu bantuan nasional dan internasional terpusat di Aceh karena status bencana nasional.

Ia mencontohkan, proses pemulihan pascabencana di Nusa Tenggara Barat dan Palu juga memakan waktu panjang.

Sementara pada bencana kali ini, wilayah terdampak mencakup tiga provinsi sekaligus, sehingga cakupannya jauh lebih luas.

Berdasarkan pengalaman dan pandangan para tokoh setempat, proses pemulihan diperkirakan membutuhkan waktu sekitar dua hingga dua setengah tahun agar masyarakat dapat kembali pulih dan beraktivitas normal.(makmur)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved