Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Firdaus Daeng Manye Tegaskan Maulid Cikoang, Tradisi Lokal Takalar yang Mendunia

Bupati Takalar Firdaus Daeng Manye menekankan bahwa tradisi ini menjadi penanda penting masuknya Islam ke kawasan Laikang

Tayang:
Penulis: Makmur | Editor: Alfian
TRIBUN-TIMUR.COM/Makmur
MAULID CIKOANG - Bupati Takalar Mohammad Firdaus Daeng Manye menyampaikan sambutan di acara maulid Langgaraka di Desa Cikoang, Kecamatan Mangarabombang, Sabtu (20/9/2025).  

TRIBUN-TIMUR.COM, TAKALAR - Suasana khidmat menyelimuti Desa Cikoang, Kecamatan Mangarabombang, Sabtu (20/9/2025), saat digelarnya perayaan Maulid Langgaraka.

‎Tradisi Islam yang telah berlangsung selama ratusan tahun ini dihadiri langsung oleh Bupati Takalar, Mohammad Firdaus Daeng Manye.

‎Kehadiran Bupati disambut hangat oleh Ketua Panitia Maulid Langgaraka, AKP Andi Aldiansyah Karaeng Baso.

‎Turut hadir dalam acara ini Kapolres Takalar AKBP Supriadi Rahman serta Dandim 1426 Takalar Letkol Infanteri Faizal Amin.

‎Dalam sambutannya, Karaeng Baso menjelaskan bahwa Maulid Langgaraka merupakan rangkaian dari tradisi maudu di Cikoang.

‎Tradisi ini digelar sebelum puncak acara Maudu Lompoa yang akan berlangsung besok, Minggu (21/9/2025).

‎“Maulid ini diawali dengan perayaan maulid di rumah masing-masing oleh para tuang, kemudian dilanjutkan dengan Maulid Langgaraka, lalu besok kita rayakan Maudu Lompoa,” terang Karaeng Baso.

‎Maulid Cikoang sendiri merupakan warisan sejarah yang sudah berlangsung sejak masuknya Syekh Jalaluddin Al Aidid menyebarkan Islam di wilayah Kerajaan Laikang.

‎Kala itu, Kerajaan Laikang dipimpin oleh I Makkasaung Daeng Ri Langi'.

Baca juga: Cara Bupati Takalar M Firdaus Daeng Manye Sejahterakan Warga: Kucurkan Rp 10 M Bayar Iuran BPJS

Puluhan Kapal Hias meriahkan Maudu Lompoa atau Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Cikoang Kecamatan Mangara'bombang Kabupaten Takalar, Kamis (4/11/2021).
Puluhan Kapal Hias meriahkan Maudu Lompoa atau Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Cikoang Kecamatan Mangara'bombang Kabupaten Takalar, Kamis (4/11/2021). (tribun-timur.com/sayyid)

Sejak saat itulah, Maulid Cikoang menjadi tradisi keagamaan yang diwariskan lintas generasi.

‎Maulid ini menjadi simbol penyatuan antara nilai-nilai keislaman dan kearifan lokal masyarakat pesisir.

‎Bupati Firdaus Daeng Manye dalam sambutannya menyebut Maulid Cikoang sebagai perayaan maulid terbesar di dunia. Bahkan, katanya, tradisi ini telah dikenal hingga ke mancanegara.

‎“Maulid Cikoang sangat terkenal, bahkan masyarakat Australia pun mengenalnya. Ini membuktikan betapa kuatnya identitas budaya dan spiritual masyarakat Takalar,” ujarnya.

‎Lebih lanjut, Daeng Manye menekankan bahwa tradisi ini menjadi penanda penting masuknya Islam ke kawasan Laikang. Identitas masyarakat pesisir, yang kala itu merupakan nelayan, terlihat dari simbol-simbol dalam tradisi ini.

‎Salah satunya adalah kehadiran kapal-kapal kecil tradisional yang disebut julung-julung. Kapal ini menjadi simbol penyebaran dakwah Islam yang dilakukan di tengah masyarakat bahari.

‎“Telur juga memiliki makna khusus dalam tradisi ini,” ungkap Daeng Manye.

‎Tradisi Maulid Cikoang, menurutnya, tak hanya mengandung nilai spiritual, tetapi juga berdampak ekonomi.

‎Ribuan pengunjung dan pelaku UMKM turut meramaikan desa setiap tahunnya, memberikan perputaran ekonomi bagi warga lokal.

‎Usai acara, Bupati Takalar juga menyerahkan paket sembako kepada masyarakat sebagai bentuk kepedulian dan keberkahan dari perayaan Maulid Langgaraka.

‎Dengan nuansa religius dan budaya yang kental, Maulid Langgaraka terus menjadi simbol persatuan dan kebanggaan masyarakat Cikoang, dan masyarakat Takalar pada umumnya.(*)

 


 
 

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved