Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

UMKM Tertekan, Respons Sekda Sulsel Jufri Rahman Harga Plastik Melonjak

Menaikkan harga berisiko menurunkan daya beli, sementara mempertahankan harga membuat keuntungan semakin tipis.

Tayang:
Tribun-timur.com
HARGA PLASTIK - Sekretaris Daerah Sulsel Jufri Rahman di Hotel The Rinra, Jl Metro Tj Bunga, Kelurahan Panambungan, Kecamatan Mariso, Kota Makassar, Senin (26/1/2026). Pemprov Sulsel, kata Jufri terus memantau harga di lapangan. 

TRIBUN-TIMUR.COM - Harga plastik yang terus naik mulai menekan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Sulsel.

Biaya produksi perlahan meningkat, sementara pengusaha masih berusaha menjaga harga jual tetap stabil.

Sekda Sulsel, Jufri Rahman, menyatakan kondisi ini tidak bisa dihindari.

Keterkaitan plastik dengan minyak membuat harganya ikut terdorong naik.

“Semua produk hilir yang hulunya ada kaitannya dengan minyak pasti terpengaruh dengan perang teluk,” ujarnya.

Pemprov Sulsel, kata Jufri terus memantau harga di lapangan.

Namun, intervensi terhadap bahan baku global sangat terbatas.

“Kondisi dunia tidak baik-baik saja. Karena itu bikinlah persiapan,” ujarnya.

Ia menilai kenaikan harga masih berpotensi berlanjut.

Ketidakpastian energi dan geopolitik jadi pemicu utama.

Baca juga: Harga Plastik Naik, Pemerintah Buka Keran Impor dari Afrika hingga India

Pelaku usaha diminta beradaptasi, termasuk beralih ke kemasan alternatif.

Sementara itu, masyarakat diimbau mulai melakukan mitigasi.

Antisipasi diperlukan agar krisis energi tidak menjalar ke krisis pangan.

“Saya sarankan mulai tanam cabai, tomat, sawi, hidroponik,” katanya.

Produksi Terpangkas

Kenaikan harga plastik membuat produsen tahu dan tempe di Kota Parepare, melakukan efisiensi.

Salah satunya dilakukan Yayat Ruchyat, pemilik sentra produksi tahu tempe di Jalan Petta Unga, Kecamatan Soreang.

Ia terpaksa menghentikan produksi tempe ukuran kecil untuk menekan biaya.

Langkah ini diambil agar harga jual tetap terjangkau bagi konsumen.

“Harga tahu tempe tidak naik, cuma kita tidak buat tempe ukuran kecil lagi. Karena kenaikan plastik,” ujarnya, Kamis (9/4/2026).

Harga plastik kemasan mengalami lonjakan tajam.

Dari Rp270.000 per bal, kini menjadi Rp390.000 per bal.

Selain itu, harga kedelai impor juga ikut meningkat.

Dari Rp10.200 per kilogram menjadi Rp11.000 per kilogram.

“Kalau kedelai sekarang Rp11 ribu per kilogram. Tapi memang plastik ini naik sekali,” katanya.

Yayat sempat mempertimbangkan penggunaan daun pisang sebagai alternatif kemasan.

Namun, rencana itu dibatalkan karena harganya juga mahal.

“Kalau pakai daun pisang malah tambah mahal. Jadi mau tidak mau, kalau harga tidak naik, isinya dikurangi,” ujarnya.

Kondisi ini membuat perajin berada dalam posisi dilematis.

Baca juga: Keuntungan UMKM dan Kafe di Makassar Kian Menipis Akibat Harga Plastik Naik

Menaikkan harga berisiko menurunkan daya beli, sementara mempertahankan harga membuat keuntungan semakin tipis.

Yayat berharap pemerintah dapat turun tangan menstabilkan harga bahan baku, terutama kedelai dan plastik.

Sementara itu, warga Parepare, Nurmi, mengaku kini kesulitan menemukan tempe ukuran kecil di pasaran.

“Biasanya ada Rp2.500, sekarang sudah tidak ada. Di penjual sayur juga tidak ada lagi,” katanya.

Pelaku UMKM di Bulukumba juga mulai terdampak kenaikan harga plastik sejak April 2026.

Kenaikan ini memengaruhi hampir seluruh pelaku usaha, terutama yang menggunakan plastik untuk kemasan makanan dan minuman.

Falen, pedagang sate di Kecamatan Ujung Bulu, mengaku harus menanggung biaya tambahan akibat lonjakan harga plastik di pasar lokal.

“Kalau naikkan harga sate, pelanggan mengeluh. Kalau tidak naik, kami harus tanggung biaya plastik Rp10.000–Rp15.000 per pak dari sebelumnya,” kata Falen, Kamis (9/4/2026).

Dampak serupa juga dirasakan pedagang grosir. Penjualan mulai menurun seiring harga terus naik.

Kepala Bulukumba Plastik, Isfan, mengatakan kenaikan terjadi setelah distributor di Kota Makassar menaikkan harga.

Baca juga: Harga Bahan Pokok Naik di Makassar, Warga Mulai Tertekan Usai Lebaran

“Tadinya kebutuhan plastik pelanggan 100 pak, sekarang rata-rata 60–70 pak per transaksi,” ujarnya.

Kenaikan harga plastik dipicu gangguan pasokan bahan baku nafta dari Timur Tengah akibat konflik.

Sejumlah jenis plastik mengalami lonjakan harga hingga 40–100 persen.

Di antaranya kantong kresek, plastik mika, PP, PE, PET, dan bubble wrap.

Bulukumba sendiri dikenal sebagai daerah dengan pertumbuhan UMKM yang pesat, baik di sektor makanan maupun minuman.

Kondisi ini diperkirakan akan berdampak pada operasional usaha, termasuk kemungkinan kenaikan harga jual produk ke konsumen. (*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved