FSAI 2026
Sinematografer Andrew Commis: Kamera Canggih Bukan Modal Utama Bikin Film, tapi Rasa Ingin Tahu
Rasa ingin tahu disebut sinematografer asal Australia, Andrew Commis sebagai modal utama untuk menjadi pembuat film.
Penulis: Kaswadi Anwar | Editor: Edi Sumardi
MAKASSAR, TRIBUN-TIMUR.COM – Rasa ingin tahu disebut sinematografer asal Australia, Andrew Commis sebagai modal utama untuk menjadi pembuat film.
Bukan kamera mahal atau peralatan canggih.
Di hadapan puluhan anak muda Makassar, ia justru mendorong calon sineas memulai dari hal sederhana: mengamati sekitar dan berani merekam cerita lewat telepon genggam.
“Yang paling penting adalah praktik. Film harus dipelajari dengan cara dipraktikkan langsung,” kata Andrew Commis usai mengisi Masterclass: Storytelling Through Lens dalam rangka Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) 2026 di Wisma Kalla, Makassar, Sulsel, Senin (11/5/2026).
Penerima penghargaan Australian Film Institute (AFI) untuk Sinematografi Terbaik Film Dokumenter itu menilai, kemampuan membuat film lahir dari kebiasaan mengamati.
Menurutnya, seseorang yang ingin menjadi sineas harus melatih kepekaan melihat cahaya, komposisi gambar, hingga suasana di sekitar.
“Observasi, belajar tentang pencahayaan, komposisi dan lain-lainnya,” ujarnya.
Baca juga: Andrew Commis Sinematografer Penentu Pemenang Piala Oscar Bakal Melatih Bikin Film di Makassar
Anggota voting Academy Awards (Piala Oscar) dan Emmy Awards itu mengatakan, perkembangan teknologi kini membuat proses belajar film semakin terbuka.
Ia menilai anak muda tidak perlu menunggu memiliki alat mahal untuk mulai berkarya.
Cukup dengan kamera ponsel dan keberanian menceritakan pengalaman sehari-hari secara visual.
Dalam sesi selama 84 menit, Andrew Commis membagikan pengalaman puluhan tahun bekerja sebagai sinematografer.
Karya-karyanya pernah tayang di festival film internasional seperti Cannes Film Festival, Berlin International Film Festival, Sundance Film Festival hingga Toronto International Film Festival.
Namun, di balik capaian itu, ia mengaku tantangan terbesar justru datang saat harus bekerja dengan aktor nonprofesional dalam film yang digarap di Laos.
Menurutnya, proses tersebut menguras energi karena seluruh pemain harus dibimbing dari awal agar mampu membangun emosi cerita.
“Itu adalah suatu pekerjaan sangat menantang, tapi juga memberikan reward dan hasilnya bagus,” katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Andrew-Commis-1-1152026.jpg)