Makassar Mulia

Pemkot Makassar Siapkan Rehab IPAL dan Saluran Air Rusunawa Lette

Tribun-timur.com/Siti Aminah
PEMKOT MAKASSAR - Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman Kota Makassar, Mahyuddin diwawancara di Balaikota Makassar Jl Jenderal Ahmad Yani beberapa waktu lalu. Tahun ini, Pemkot Makassar akan melakukan rehabilitasi sistem perpipaan di Rusunawa, Jl Rajawali, Kelurahan Letta Kecamatan Mariso.   

 


TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Pemerintah Kota Makassar bakal melakukan rehabilitasi sistem perpipaan di Rusunawa, Jl Rajawali, Kelurahan Lette Kecamatan Mariso. 

Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman Kota Makassar, Mahyuddin menyampaikan, perbaikan difokuskan pada saluran air bersih dan pengolahan limbah. 

Instalasi tersebut dinilai sudah mengalami banyak kerusakan.

Kata Mahyudin, rehabilitasi dilakukan bukan pada bangunan utama rusunawa, melainkan khusus pada jaringan pipa.

“Memang kan pipa-pipanya sudah semua, kita mau rehab. Khusus pipa, bukan bangunannya,” ujarnya Mahyudin, Minggu (10/9/2026). 

Ia menjelaskan, kerusakan paling banyak terjadi pada saluran perpipaan yang sudah bocor di sejumlah titik.

Karena itu, Pemkot Makassar memprioritaskan pembenahan sistem air bersih dan air kotor agar pelayanan kepada penghuni kembali optimal.

“Itu yang direhab, pipa saluran. Air bersih, air kotor,” katanya.

Baca juga: Alasan Beban Finansial Berat, Pengelolaan IPAL Losari dari PDAM Makassar Beralih ke Dinas PU

Selain saluran air bersih, pemerintah juga menyiapkan pembenahan sistem pengolahan limbah di kawasan rusunawa tersebut.

Meski begitu, rehabilitasi belum memasuki tahap pekerjaan fisik. 

Saat ini proses masih berada pada tahap perencanaan.

Pemerintah akan lebih dulu menyelesaikan dokumen perencanaan sebelum menentukan pelaksana pekerjaan.

“Tinggal tunggu dulu proses perencanaan baru kita mau minikompetisikan,” jelasnya.

Pemilihan penyedia akan dilakukan lewat sistem minikompetisi pada e-katalog.

Rehabilitasi ini akan difokuskan di Rusunawa Lette yang selama ini dihuni ratusan warga berpenghasilan rendah.

Menurutnya, jumlah hunian di rusunawa tersebut mencapai sekitar 200 kamar dan seluruhnya telah terisi penuh.

Mayoritas penghuni merupakan keluarga dari kelompok masyarakat berpenghasilan rendah atau MBR.

“Ada di sana rata-rata keluarga toh, masyarakat berpenghasilan rendah, MBR,” tuturnya.

Sementara untuk kondisi bangunan utama rusunawa, pemerintah memastikan masih dilakukan pemeliharaan rutin secara berkala.

Perawatan yang dilakukan selama ini lebih banyak menyasar kerusakan ringan pada bagian bangunan.

“Kondisinya bangunan tetap ada pemeliharaan rutin toh, yang ringan-ringan,” katanya.

Namun, menurutnya, persoalan perpipaan menjadi kebutuhan paling mendesak karena berdampak langsung terhadap kenyamanan penghuni.

“Ini sementara yang paling anu dulu untuk perpipaannya karena banyak bocor,” tutupnya. (*)