UMI
UMI Top 5 Universitas Jurnal Terbanyak di Makassar
Berdasarkan data resmi GARUDA (Garba Rujukan Digital) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Tahun 2026
Penulis: Muslimin Emba | Editor: Saldy Irawan
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR -Universitas Muslim Indonesia (UMI) kembali mencatatkan capaian akademik yang membanggakan.
Berdasarkan data resmi GARUDA (Garba Rujukan Digital) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Tahun 2026, UMI berhasil masuk dalam lima besar universitas di Kota Makassar dengan jumlah jurnal ilmiah terbanyak.
Capaian itu sekaligus menjadi salah satu perguruan tinggi yang terus menunjukkan konsistensi dalam membangun budaya akademik, riset, dan publikasi ilmiah yang berdampak bagi masyarakat.
Dalam pemeringkatan tersebut, UMI menempati posisi keempat dengan 66 jurnal ilmiah terindeks GARUDA, berada bersama sejumlah perguruan tinggi besar seperti Universitas Hasanuddin, Universitas Negeri Makassar, dan UIN Alauddin Makassar.
Bagi UMI, capaian ini bukan sekadar angka statistik atau kebanggaan institusi semata.
Di balik setiap jurnal yang terbit, terdapat dedikasi panjang para dosen, peneliti, editor, reviewer, mahasiswa, dan tenaga pendukung akademik yang bekerja dalam sunyi, meneliti berbagai persoalan masyarakat, mencari solusi, serta menghasilkan ilmu pengetahuan yang dapat dimanfaatkan oleh banyak orang.
Rektor Universitas Muslim Indonesia, Prof Dr H Hambali Thalib, menyampaikan apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh dosen, peneliti, pengelola jurnal, dan sivitas akademika UMI yang selama ini terus menjaga semangat berkarya dan menulis.
"Di balik 66 jurnal UMI, ada dosen dan peneliti yang tekun berkarya untuk masyarakat," kata Prof Hambali dalam keterangan tertulisnya, Kamis (4/6/2026).
"Ada banyak orang yang mungkin tidak terlihat di depan layar, tetapi setiap hari bekerja dengan penuh kesungguhan untuk menghasilkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat. Karena itu, penghargaan terbesar atas capaian ini sesungguhnya milik mereka," tambahnya.
Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak lahir secara instan, melainkan, dicapai dari hasil budaya akademik yang dibangun secara bertahap selama bertahun-tahun.
Dan tentunya melalui penelitian, diskusi ilmiah, pengabdian kepada masyarakat, serta komitmen untuk terus belajar dan berkembang.
Prof Hambali pun menegaskan bahwa universitas tidak pernah menjadikan pemeringkatan sebagai tujuan utama.
"Kami tidak bekerja untuk mengejar angka atau peringkat. Yang kami lakukan adalah berusaha menjaga tradisi keilmuan, memperkuat penelitian, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat," ujar Prof Hambali.
"Alhamdulillah, ketika proses itu dijalankan dengan sungguh-sungguh, berbagai pengakuan datang mengikuti," lanjutnya.
Pernyataan tersebut sejalan dengan berbagai capaian akademik UMI dalam beberapa tahun terakhir.
Selain masuk Top 5 jumlah jurnal terbanyak versi GARUDA, UMI juga berhasil masuk tiga besar universitas terbaik di Kota Makassar berdasarkan SINTA Score Overall 2026, serta terus memperkuat produktivitas publikasi internasional melalui ribuan karya ilmiah yang telah terindeks Scopus.
Namun demikian, Prof Hambali menilai bahwa ukuran keberhasilan perguruan tinggi tidak hanya ditentukan oleh jumlah publikasi, melainkan sejauh mana ilmu pengetahuan yang dihasilkan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
"Penelitian yang baik bukan hanya yang dipublikasikan, tetapi yang mampu menjawab persoalan masyarakat, membantu dunia usaha, mendukung pemerintah, dan memberi solusi bagi kehidupan," sebutnya.
Olehnya itu, lanjut Prof Hambali, UMI berkomitmen untuk terus mendorong agar riset-riset UMI semakin berdampak dan semakin dekat dengan kebutuhan umat dan bangsa.
Dalam beberapa tahun terakhir, UMI memang terus memperkuat ekosistem akademiknya melalui pengembangan pusat-pusat riset unggulan, peningkatan kolaborasi internasional, penguatan publikasi bereputasi, serta hilirisasi hasil penelitian.
Sejalan dengan pengembangan yang ada, UMI juga melakukan percepatan transformasi digital kampus yang akan mulai diimplementasikan secara lebih luas dalam berbagai layanan akademik dan non-akademik.
Langkah tersebut merupakan bagian dari visi besar UMI untuk menghadirkan pendidikan tinggi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga relevan dengan kebutuhan masa depan.
Bagi calon mahasiswa dan generasi muda, capaian ini menjadi pesan bahwa kampus bukan hanya tempat memperoleh gelar, melainkan tempat bertumbuh, belajar berpikir kritis, membangun karakter, berinovasi, dan mempersiapkan diri menghadapi dunia yang terus berubah.
Karena itu, UMI terus membuka ruang yang luas bagi generasi muda Indonesia untuk belajar bersama para dosen dan peneliti yang aktif berkarya, menghasilkan inovasi, dan membangun jejaring akademik nasional maupun internasional.
Dengan semangat Kampus Ilmu dan Ibadah, Kampus Perjuangan dan Pengabdian, Kampus Bereputasi dan Berdampak, UMI meyakini bahwa masa depan pendidikan tidak dibangun oleh gedung semata, tetapi oleh orang-orang yang terus belajar, meneliti, menulis, dan mengabdikan ilmunya untuk kemaslahatan masyarakat.
Dan di balik 66 jurnal itu, terdapat cerita tentang ketekunan, keikhlasan, dan kecintaan pada ilmu pengetahuan yang terus hidup di Universitas Muslim Indonesia.(*)
| Mahasiswa di Makassar Terlibat Keributan di Kantor Leasing Usai Motornya Ditarik Paksa |
|
|---|
| Yamaha Uji Ketangguhan Gear Ultima Lewat Touring 2.100 Km di Sulawesi |
|
|---|
| Jasa Tata Rias Jamaah Bisa Untung Rp 10 Juta Tiap Musim Haji |
|
|---|
| Tradisi Pulang Haji, Jamaah Sidrap Bersolek Sebelum Sampai Kampung |
|
|---|
| 2 Kelas Siswa SMAN 1 Makassar Belajar Bahasa Jerman |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Prof-Hambali-Thalib-2026-66.jpg)