Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

BMKG: Hujan Ringan Masih Berlanjut di Makassar

Pergerakannya memengaruhi arah angin, tekanan udara, hingga pembentukan awan dalam skala luas.

Tayang:
Tribun-timur.com
MAKASSAR HUJAN - Ilustrasi cuaca. Hujan masih setia menyapa Kota Makassar dalam beberapa hari terakhir. Padahal, secara kalender klimatologi, wilayah ini sudah mulai memasuki musim kemarau. 

TRIBUN-TIMUR.COM - Hujan masih setia menyapa Kota Makassar dalam beberapa hari terakhir.

Padahal, secara kalender klimatologi, wilayah ini sudah mulai memasuki musim kemarau.

Siang yang panas kerap berubah jadi langit mendung.

Sore hingga malam hari, hujan pun turun, meski dengan intensitas ringan.

Fenomena ini dijelaskan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar sebagai hal yang masih wajar.

Di baliknya, ada dinamika atmosfer sedang aktif di kawasan Indonesia bagian selatan.

Plt Kepala BMKG Wilayah IV Makassar, Nasrol Adil, menyatakan hujan yang terjadi belakangan ini dipengaruhi gelombang atmosfer.

"Jadi fenomena cuaca saat ini kita alami, adanya hujan-hujan ringan ya, itu karena ada pengaruh Rossby," ujarnya di Kantor BPBD Makassar, Jalan Kerung-kerung.

Gelombang Rossby merupakan gelombang besar di atmosfer yang terbentuk akibat rotasi Bumi.

Pergerakannya memengaruhi arah angin, tekanan udara, hingga pembentukan awan dalam skala luas.

Di sisi lain, kondisi cuaca harian tak hanya ditentukan oleh musim.

Faktor meteorologi yang dinamis juga berperan, termasuk pola gelombang di atmosfer yang bisa memicu hujan meski sedang kemarau.

"Dari sisi meteorologi itu ada dinamika atmosfer secara dinamis, sedangkan secara klimatologi kita ada memasuki El Nino," jelas Nasrol.

Ia menambahkan, gelombang atmosfer seperti Rossby dan Kelvin adalah fenomena lazim.

Namun, kehadirannya kerap memicu anomali cuaca—termasuk turunnya hujan di luar pola musim yang umum.

"Nah, jadi secara dinamis ini pola-pola seperti gelombang Rossby, gelombang Kelvin, itu biasa mengganggu," katanya.

BMKG memprediksi kondisi ini masih akan berlangsung dalam waktu dekat.

Hujan ringan diperkirakan masih akan turun dalam tiga hingga empat hari ke depan.

Tak hanya hujan, warga juga diminta mewaspadai potensi angin kencang.

Terutama pada sore hingga malam hari, saat perbedaan suhu antara siang yang panas dan udara yang lebih dingin menjadi pemicu perubahan tekanan udara.

Kondisi ini dapat memunculkan angin kencang yang berpotensi disertai petir.

Dampaknya bisa mengganggu lingkungan sekitar, termasuk jaringan listrik dan pepohonan.

"Keamanan jaringan listrik, kemudian juga ranting-ranting kayu yang sudah kering, itu kita harus waspadai," ujarnya.

Meski begitu, BMKG menegaskan musim kemarau tetap akan berlangsung di Makassar.

Puncaknya diperkirakan terjadi pada Juni hingga Agustus.

"Nah, Makassar sendiri kita memprediksi puncak musim kemarau itu ada di bulan JJA atau Juni, Juli, Agustus," jelasnya.

Wilayah penyangga seperti Kabupaten Maros, Gowa, dan Takalar juga diprediksi mengalami kondisi serupa.

Karena itu, masyarakat diimbau mulai bersiap sejak dini.

Penghematan air dan penyediaan cadangan air bersih menjadi langkah penting menghadapi puncak kemarau dalam beberapa bulan ke depan.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved