Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Pembajakan

Detik-detik Kepala Ashari Samadikun Ditodong Senjata Perompak Somalia

Ashari Samadikun bersembunyi di dalam kamarnya saat bajak laut alias perompak Somalia menaiki kapal mereka

Penulis: Muslimin Emba | Editor: Ari Maryadi
Tribun-timur.com/Muslimin Emba
Tangkapan layar saat Ashari Samadikun (33) kapten kapal tangker Honour 25 yang disandera perompak Somalia video call teman seangkatannya di PIP Makassar. (Dok. Tribun-Timur.com/Muslimin Emba) 
Ringkasan Berita:
  • Ashari Samadikun bersembunyi di dalam kamarnya saat bajak laut alias perompak Somalia menaiki kapal mereka
  • Saat itu Ashari Samadikun mengemudikan kapal yang mengangkut minyak
  • Saat perompak berhasil masuk kamar, kepala Ashari Samadikun ditodong senjata api

 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR -- Detik-detik mencekam dan menegangkan dialami Ashari Samadikun (33) di Laut Somalia, 21 April 2026.

Kamarnya diberondong peluru.

Ashari Samadikun bersembunyi di dalam kamarnya saat bajak laut alias perompak Somalia menaiki kapal mereka.

Saat itu Ashari Samadikun mengemudikan kapal yang mengangkut minyak.

Saat perompak berhasil masuk kamar, kepala Ashari Samadikun ditodong senjata api.

"Di depan kamarku nadobrak pintu, natodong senjata kepalaku. Langsung nabilang Assalamualaikum, saya bilang I am muslim, don't shot. Langsung saya bilang waalaikumsalam," kata Ashari dalam rekaman video percakapannya yang diabadikan tribun, Senin (27/4/2026).

Samadikun menceritakan detik-detik kapal yang dinahkodai itu diserang perompak Somalia melalui video call dengan teman seangkatannya di Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Makassar.

Ashari mengatakan, awal mula boot perompak itu terlihat saat masih berjarak tiga mil dari kapal yang dikemudikannya.

"Sekitar jam 10 ada boot satu, sekitar 3 mil lihat-lihati kami dari belakang," kata Ashari.

"Tapi salahnya itu kru tidak nakabarika yang jaga. Pas jam 2, ada boot tiga, di kanan dua, di kiri satu. Tapi saya fokus yang di kanan karena dua kan," tambahnya.

Ashari mengaku baru sadar kapal yang dinakhodainya dipepet dua boot tiga jam kemudian.

Boot itu, lanjut Ashari dilengkapi dengan senjata.

"Dia (kru) teleponka itu jam dua, bilang Kapten ada boot di sebelah kanan. Jadi saya naik mi, pas lihat pake teropong, saya lihat ada senjatanya. Mati kita," ucapnya.

Ia pun meminta kru yang ada di lantai atas kapal untuk tetap standby.

Ashari, berjalan menuju kamarnya, namun tak berselang kamarnya diberondong peluru.

"Saya turun ke kamarku saya kunci cepat, nda lama menembak. Dia berondong kamarku," terang Ashari.

"Saya voice note mi di kantor, keluarga, nda lama naikmi, nadobrak semua kudengar, suara pintu terdobrak-dobrak, keluar semua kru, saya suruh panggil semua, jangan ada anu, angkat tangan semua," tambahnya menceritakan ketegangan yang terjadi.

Selang beberapa saat setelah desir peluru menghujani kamarnya, Ashari pun didatangi bos perompak itu 

"Nda lama naik mi (bosnya) di lantai dua, di depan kamarku nadobrak pintu, natodong senjata kepalaku. Langsung nabilang Assalamualaikum, saya bilang I am muslim, don't shot. Langsung saya bilang waalaikumsalam," ungkapnya.

Jawaban salam Ashari itu sedikit menenangkan situasi. Namun, situasi tenang itu, kata dia tidak menentu, karena beberapa saat kemudian dirinya kembali ditodong.

"Oke-oke dia bilang you muslim? Saya bilang iya Muslim Indonesia. Saya bilang, saya kapten. Jadi na bawa ma naik, nda adami lagi datang bosnya, natodonga lagi nabilang kasih berhenti kapal," terangnya 

"Jadi kasih berhenti kapal, saya bilang jangan tembak, saya muslim, kau muslim. Habis itu tenang mi. Dia ambil semua uangku, barangku, dikumpulkan," tuturnya.

Saat ini, kondisi Ashari dan 16 kru lainnya tidak menentu lantaran kawanan perompak itu belum menentukan jumlah nominal yang diminta.

Ibu Ashari Minta Tolong Prabowo 

"Saya minta tolong ke Pak Prabowo, minta tolong bantu anak saya," ucap Siti Aminah (57) ditemui di rumahnya di Dusun Moncong Loe, Desa Paccelekang, Kecamatan Pattalassang, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Sabtu (25/4/2026) sore.

Siri Aminah adalah ibu kapten Ashari Samadikun (33), nahkoda kapal tangker Honour 25.

Ia dirundung kecemasan empat hari terakhir oleh kabar dari putranya, Ashari Samadikun.

Kapal yang dinakhodai sang kapten dibajak perompak saat berlayar dari Oman menuju Somalia, 21 Februari 2026.

Meski sang anak melalui sambungan telepon selalu memintanya tak khawatir, kecemasan Siti Aminah tak bisa disembunyikan.

"Anakku ini selalu berpesan jangan banyak dipikir mama," ucap ibu enam anak ini sambil terisak.

"Memang anak saya ini betul-betul tulang punggung keluarga, anak saya Ashari," tambahnya menyeka air mata.

Di mata Aminah, anak ketiganya dari enam bersaudara ini, adalah sosok putra yang baik.

Ia penyantun, penyayang terhadap istri, anak dan saudara-saudaranya.

"Sangat baik ke adek-adeknya, dengan orangtua, itu saya sangat sedih, terpukul, ketika mendengar berita anak saya," ucap Aminah.

Sebelum berangkat untuk kali keduanya menahkodai kapal menuju Somalia, Aminah mengaku sempat khawatir.

Namun tekad anaknya mencari nafkah untuk istri dan dua anaknya sudah sangat bulat.

"Ini sudah dua kali ke Somalia. Yang pertama itu dua bulan baru pulang lagi," sebut Aminah.

"Dia pulang itu, dia sekolah lagi, ambil, Kaptennya. Sembilan bulan baru naik, ini mi sekarang keadaannya," sambungnya.

Aminah pun meminta kemurahan hati Presiden Prabowo Subianto untuk mengerahkan kementrian terkait agar bisa membebaskan anaknya dan 16 kru lainnya.

"Anak saya sekarang dalam keadaan minta pertolongan dari pak Prabowo. Pak Prabowo presiden kita, minta tolong pak. Minta tolong sekali pak. Sudah beberapa hari ditahan perompak Somalia," pintanya dengan mata berkaca-kaca.

Harapan yang sama diungkapkan istri Ashari Samadikun, Santi Sanaya (26).

"Harapannya saya dan keluarga, semoga secepatnya ini selesai, suamiku pulang dan kru yang lain juga pulang dengan selamat, sehat, tidak kurang satu apapun," harap Santi.

Santi bercerita, awal mula ia mendapat kabar aksi pembajakan kapal oleh perompak Somalia itu, melalui voice note dari Ashar.

"Tanggal 21 April jam setengah 8 malam, suamiku VN (voice note) katanya kapalnya diserang bajak laut," kata Santi.

"Terus di menit dan jam yang sama saya kontek kembali, masih aktif hapenya cuma nda direspon mi. Selang beberapa jam nda aktif mi hapenya lagi," tambahnya.

Kabar terbaru yang diperoleh Santi, dirinya mengaku berbincang dengan sang suami via video call, pada Jumat malam, tadi.

Melalui percakapan video call itu, Ashari kata Santi, mengabarkan dirinya dalam kondisi baik-baik saja.

Hanya saja kata dia, situasi kondusif yang dialami tidak menentu.

"Cuma situasinya berubah-ubah, kadang kalau merasa terancam perompaknya, situasinya juga mempengaruhi keselamatan kru di atas kapal," ungkap ibu dua anak ini.

Pada kesempatan itu, Ashari melalui istrinya meminta agar Pemerintah Indonesia turun tangan.

"Suamiku juga minta tolong semoga pemerintah membantu," ucapnya.

Bahkan lanjut Santi, suaminya dan kru lainnya sudah sempat diancam akan dieksekusi oleh kawanan perompak itu.

"Sempat diancam mau dieksekusi kalau tidak dibayar itu malam tebusannya, cuman tidak ditahu juga berapa dia minta," sebutnya.

Ashari Samadikun adalah alumni Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Makassar.

Dari data manifest yang diperoleh dari teman seangkatan Ashari Samadikun di PIP, Eleora Kamaya Lekon (38), kapal tangker Honour 25, diawali 17 kru.

"Di atas kapal itu, ada 17 kru. Pakistan 10 orang, Myanmar satu, Srilanka satu, India satu dan Indonesia empat," ungkap Eleora.

Empat orang Indonesia dari data yang diperlihatkan Eleora itu, masing-masing bernama:

1. Ashari Samadikun, selaku Master, Kelahiran Ujung Pandang 26 Mei 1992.

2. Wahudinanto, selaku Chief Officer, Kelahiran Pemalang, 17 Juni 1978.

3. Adi Faizal, selaku 3nd Officer, Kelahiran Bontobarua, 19 Mei 1999.

4. Fiki Mutakin, Kelahiran Bogor, 27 Mei, 2001.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved