Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

PDAM Makassar Andalkan Pasokan dari Maros dan Gowa

Seluruh kebutuhan air baku untuk lima instalasi pengolahan air bergantung dari Kabupaten Maros dan Kabupaten Gowa.

Tribun-timur.com
PDAM MAKASSAR - Andi Syahrum Makkuradde ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama Perumda Air Minum (PDAM) Makassar menggantikan Hamzah Ahmad. Ia menyatakan seluruh kebutuhan air baku untuk lima Instalasi Pengolahan Air (IPA) bergantung pada daerah luar, yakni Kabupaten Maros dan Kabupaten Gowa. 

TRIBUN-TIMUR.COM - Persoalan air baku masih menjadi tantangan utama bagi Perumda Air Minum Kota Makassar dalam menjaga kontinuitas layanan kepada pelanggan.

Kondisi ini terjadi karena PDAM Makassar tidak memiliki sumber air baku sendiri di dalam wilayah kota.

Seluruh kebutuhan air baku untuk lima Instalasi Pengolahan Air (IPA) bergantung pada daerah luar, yakni Kabupaten Maros dan Kabupaten Gowa.

Plt Direktur Utama PDAM Makassar, Andi Syahrum Makkuradde, menjelaskan sumber utama air baku berasal dari Bendung Lekopancing di Maros serta Bendungan Bili-Bili dan Sungai Jeneberang di Gowa.

Ketergantungan ini membuat sistem penyediaan air bersih Makassar sangat bergantung pada pasokan dari wilayah lain.

Air dari Bendung Lekopancing dialirkan ke IPA 2 Panaikang dan IPA 3 Antang melalui jaringan sepanjang sekitar 30 kilometer.

Sementara itu, suplai dari Bendungan Bili-Bili disalurkan ke IPA 5 Somba Opu melalui pipa berdiameter 1.200 mm dengan panjang kurang lebih 29 kilometer.

Distribusi dari jalur tersebut juga digunakan bersama oleh PDAM Kabupaten Gowa dan instalasi Mamminasata.

Total kapasitas pipa mencapai 3.000 liter per detik, dengan alokasi untuk Makassar sebesar 1.760 liter per detik.

Selain itu, PDAM juga memanfaatkan air dari Sungai Jeneberang yang dipompa melalui Intake Malengkeri dan Sungguminasa.

Air tersebut kemudian disalurkan ke sejumlah IPA, termasuk IPA 2 Panaikang, IPA 4 Maccini Sombala, dan IPA 1 Ratulangi.

Namun, berbagai persoalan masih terjadi, terutama dari sumber Bendung Lekopancing.

“Permasalahan utama terjadi pada saluran terbuka yang banyak mengalami kebocoran, baik karena faktor usia maupun aktivitas masyarakat,” ungkap Andi Syahrum, Selasa (21/4/2026).

Kebocoran itu bahkan kerap disengaja untuk kebutuhan kolam ikan, perkebunan, hingga pengairan sawah warga.

Di sisi lain, Bendung Lekopancing juga rentan mengalami kekeringan saat musim kemarau.

Akibatnya, debit air yang diterima IPA 2 Panaikang menurun signifikan.

Saat ini, debit hanya berkisar 700 liter per detik, jauh dari kondisi normal yang mencapai 1.100 hingga 1.200 liter per detik.

Padahal, IPA 2 Panaikang melayani sekitar 68 ribu sambungan pelanggan di wilayah utara dan timur Makassar.

Wilayah layanan tersebut meliputi Kecamatan Wajo, Ujung Tanah, Bontoala, Tallo, Biringkanaya, hingga Tamalanrea.

Untuk menutupi kekurangan, PDAM menambah suplai dari Sungai Jeneberang melalui Intake Malengkeri.

Namun, tambahan tersebut hanya sekitar 260 liter per detik.

“Suplai dari Malengkeri belum mampu menutupi kekurangan secara keseluruhan,” jelasnya.

Sementara itu, Plt Kabag Distribusi dan Kehilangan Air PDAM Makassar, Wahidin mengungkapkan kendala juga terjadi di sisi distribusi.

Wilayah utara kota menghadapi keterbatasan tekanan air.

Sistem distribusi dari IPA 2 Panaikang masih mengandalkan gravitasi dengan tekanan maksimum sekitar 1,3 bar.

Tekanan ini belum cukup untuk menjangkau seluruh wilayah layanan secara optimal.

Kondisi semakin sulit saat debit air turun di bawah 550 liter per detik.

Akibatnya, pelanggan di ujung jaringan seperti Kecamatan Tallo, Ujung Tanah, dan Wajo kerap mengalami gangguan suplai.

Untuk mengatasi hal tersebut, PDAM memasang pompa inline di beberapa titik.

Selain itu, booster pump juga dioperasikan di kawasan Jalan Gatot Subroto Baru.

Masalah lain yang dihadapi adalah kondisi jaringan pipa.

Sebagian pipa dinilai sudah tidak sebanding dengan jumlah pelanggan.

Banyak yang telah melewati umur teknis dan mengalami korosi.

Kondisi ini turut menghambat aliran air ke pelanggan.

PDAM pun merencanakan rehabilitasi jaringan secara bertahap.

Prioritas diberikan pada penyesuaian diameter pipa dengan jumlah pelanggan yang dilayani.

Dalam jangka pendek, PDAM menyiapkan sumber air baku alternatif dari Sungai Moncongloe.

Langkah ini dilakukan melalui pemasangan pompa suplai tambahan untuk meningkatkan debit air.

Dari upaya tersebut, PDAM menargetkan tambahan pasokan sekitar 600 hingga 900 liter per detik.

Selain itu, percepatan pembangunan Intake Manggala juga terus didorong.

Untuk jangka panjang, PDAM merencanakan pemanfaatan Sungai Jeneberang sebagai sumber utama alternatif.

Sungai ini dinilai memiliki ketersediaan air yang lebih stabil sepanjang tahun.

“Ini menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada Lekopancing,” ujar Wahidin.

Menghadapi potensi musim kemarau ekstrem atau fenomena El Nino, PDAM juga menyiapkan langkah darurat.

Salah satunya dengan mengoperasikan mobil tangki air ke wilayah terdampak.

Selain itu, dilakukan injeksi air ke jaringan distribusi untuk menjaga tekanan.

PDAM juga berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk menambah armada tangki air bersih.

Dari lima IPA yang dimiliki, IPA 2 Panaikang menjadi instalasi yang paling terdampak saat musim kemarau.

Hal ini menjadi perhatian serius karena wilayah layanannya mencakup kawasan padat penduduk.

Dengan berbagai langkah yang disiapkan, PDAM berharap layanan air bersih tetap berjalan meski di tengah keterbatasan sumber air baku.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved