Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Harga Emas

Pengamat: Emas Masih Jadi Investasi Aman

Jika pada Minggu (22/3/2026), masih tercatat Rp2.893.000 per gram, kini Minggu (29/3/2026), berada pada angka Rp2.837.000 per gram.

Tayang:
Editor: Saldy Irawan
Tribun-timur.com/Rudi Salam
INVESTASI EMAS - Display emas batangan di pusat perdagangan emas Jalan Somba Opu, Makassar, Sulsel beberapa waktu lalu. Emas masih dinilai sebagai instrumen investasi aman (safe haven) di tengah dinamika global. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Emas masih dinilai sebagai instrumen investasi aman (safe haven) di tengah dinamika global.

Harga emas Antam dalam sepekan mengalami penurunan Rp56.000.

Jika pada Minggu (22/3/2026), masih tercatat Rp2.893.000 per gram, kini Minggu (29/3/2026), berada pada angka Rp2.837.000 per gram.

Pengamat Ekonomi Universitas Bosowa (Unibos), Dr Lukman Setiawan menjelaskan kondisi pasar global saat ini memang membuat harga emas tidak selalu bergerak naik, bahkan cenderung terkoreksi dalam periode tertentu.

Menurutnya, penguatan dolar AS dan naiknya imbal hasil riil menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga emas

Ketika suku bunga atau yield obligasi meningkat, investor cenderung beralih ke instrumen yang memberikan imbal hasil, seperti dolar dan obligasi, dibandingkan emas yang tidak menghasilkan bunga.

“Dalam situasi seperti ini, opportunity cost memegang emas menjadi lebih tinggi, sehingga terjadi pergeseran dana ke aset berbasis dolar dan obligasi,” jelas Lukman, kepada Tribun-Timur.com di Makassar, Minggu (29/3/2026).

Selain itu, menurut Lukman, gejolak pasar juga memicu kebutuhan likuiditas. 

Investor kerap menjual emas yang relatif mudah dicairkan untuk menutup kerugian atau margin call di aset lain.

Faktor lain yang memengaruhi adalah kenaikan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah. 

Kondisi ini mendorong ekspektasi inflasi meningkat dan memicu asumsi bahwa bank sentral seperti The Fed akan mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga, yang pada akhirnya kembali menekan harga emas.

Meski demikian, Lukman menegaskan bahwa emas tetap berfungsi sebagai lindung nilai dalam jangka panjang, terutama terhadap inflasi dan risiko geopolitik.

“Emas masih menjadi safe haven, tetapi bukan berarti bebas dari koreksi jangka pendek,” jelasnya.

Ia menambahkan, emas memiliki keunggulan dalam diversifikasi portofolio karena pergerakannya tidak selalu searah dengan saham maupun obligasi. 

Selain itu, permintaan dari bank sentral yang masih kuat serta aliran masuk dana ke ETF emas pada awal 2026 menjadi penopang penting.

Namun, ia mengingatkan adanya keterbatasan dalam kondisi saat ini. 

Ketika dolar dan yield naik secara cepat, harga emas bisa turun meski situasi global sedang bergejolak, seperti yang terjadi pada Maret 2026.

“Emas bukan pelindung instan saat pasar membutuhkan likuiditas tinggi,” katanya.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved