Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

PSBM XXVI

Cantiknya Sherly Tjoanda dan Veronica Tan Pakai Baju Bodo di PSBM, Jadi Pusat Perhatian

Sherly menggunakan baju bodo warna merah di pembukaan PSBM, sementara Veronica Tan berwarna hijau datu

Penulis: Siti Aminah | Editor: Ari Maryadi
Tribun-timur.com/Siti Aminah
Sherly Tjoanda Laos dan Veronica Tan jadi pusat perhatian saat menghadiri Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) XXVI. Agenda digelar di Hotel Claro Makassar, Kamis (26/3/2026). 
Ringkasan Berita:
  • Sherly Tjoanda Laos dan Veronica Tan tampil anggun mengenakan busana tradisional Sulawesi Selatan
  • Penampilannya dinilai mencerminkan apresiasi terhadap kekayaan budaya Sulawesi Selatan
  • Sherly Tjoanda layaknya primadona dalam forum tersebut

 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Suasana hangat mewarnai gelaran Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) XXVI yang digelar di Hotel Claro Makassar, Kamis (26/3/2026).

Di antara deretan tokoh nasional dan pengusaha yang hadir, perhatian tamu undangan tertuju pada dua perempuan

Ialah Sherly Tjoanda Laos dan Veronica Tan

Keduannya tampil anggun mengenakan busana tradisional Sulawesi Selatan.

Keduanya tampak kompak mengenakan baju bodo, pakaian adat khas Bugis-Makassar. 

Sherly menggunakan baju bodo warna merah, sementara Veronica Tan berwarna hijau datu. 

Warna elegan dan detail aksesori yang dikenakan menambah kesan anggun keduanya. 

Penampilannya dinilai mencerminkan apresiasi terhadap kekayaan budaya Sulawesi Selatan.

Sherly Tjoanda layaknya primadona dalam forum tersebut. 

Sherly selalu mendapat pujian saat deretan pejabat menyampaikan sambutan. 

Mulai dari Ketua Panitia, Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman, Menteri Pertanian sekaligus Ketua Umum BPP Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Andi Amran Sulaiman. 

Sherly duduk tepat di sebelah Ustaz Das'ad Latief dan Aksa Mahmud. 

Sherly beberapa kali disoraki saat disorot kamera duduk berdampingan dengan Ustaz Das'ad. 

Penampilan Veronica Tan dan Sherly Tjoanda dengan busana adat Sulawesi Selatan menjadi salah satu potret menarik dari acara tersebut. 

Balutan baju bodo yang dikenakan keduanya seolah mempertegas bahwa forum ekonomi ini tidak hanya menjadi ruang pertemuan para saudagar.

Tetapi juga panggung yang menampilkan kebanggaan terhadap identitas budaya Bugis-Makassar.

Keduanya juga diberi panggung untuk menyampaikan cerita suksesnya menjadi pejabat negara. 

Sherly dan Veronica tampil di depan ribuan Saudagar Bugis Makassar bersama delapan pembicara lainnya. 

Antara lain Gubernur Sulawesi Tenggara, Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangerukka, Gubernur Papua Selatan Prof. Dr. Ir. Apolo Safanpo, Gubernur Sulawesi Utara Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus Komaling. 

Selanjutnya Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman, Gubernur Kalimantan Utara Zainal Arifin Paliwang, Hendra Firmansyah (CEO Firman’s Group, Jusman Sikki (CEO Mario Mikron Metalindo). 

Gelaran Pertemuan Saudagar Bugis Makassar XXVI memang menjadi ajang pertemuan para saudagar Bugis-Makassar dari berbagai daerah bahkan mancanegara. 

Selain membahas peluang investasi dan penguatan ekonomi, kegiatan ini juga kerap menampilkan nuansa budaya lokal yang kental.

Veronica Tan, dalam kesempatan tersebut mengungkapkan, kehadirannya berawal dari komunikasi dengan Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, terkait peluang kolaborasi program pemberdayaan perempuan di sejumlah daerah.

Menurutnya, salah satu program yang diusulkan adalah pengembangan kebun pangan lokal yang digerakkan oleh perempuan di tingkat keluarga dan komunitas.

“Program pangan, kebun pangan lokal perempuan bisa menjadi solusi bagaimana kita menggerakkan keluarga dan komunitas perempuan untuk menanam, apalagi tanah di banyak daerah sangat baik untuk pertanian,” ujarnya.

Dalam usulannya, Veronica awalnya menyebut lima kabupaten sebagai lokasi pengembangan program. 

Wilayah tersebut tersebar di Pulau Jawa, Sumatra, serta Kabupaten Bone di Sulawesi Selatan.

Namun ia juga mengusulkan penambahan dua daerah lain yang tergolong wilayah terpencil dan masuk kategori daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar), yakni di Nusa Tenggara Timur serta Maluku Utara.

Ia berharap daerah-daerah tersebut dapat menjadi proyek percontohan (pilot project) dalam pengembangan pembibitan dan kebun pangan yang melibatkan perempuan sebagai penggerak utama.

“Kita ingin daerah-daerah terpencil juga menjadi contoh. Kalau berhasil, local champion dengan kearifan lokalnya bisa direplikasi di daerah lain,” katanya. (*) 

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved