PFI Makassar
Pewarta Foto Indonesia Makassar Berbagi Ramadan ke Anak Yatim Rohingya
Insting jurnalistik membawa mereka ke kelompok sasaran anak yatim spesifik. Rabu (11/3/2026), mereka bersilaturahim ke Panti Asuhan Al-Bahri
Penulis: Sanovra Jr | Editor: Sanovra Jr
TRIBUN TIMUR.COM, MAKASSAR - BELASAN jurnalis dari komunitas Pewarta Foti Indonesia (PFI) Makassar, coba memetik berkah Ramadan dengan berbagi.
Insting jurnalistik membawa mereka ke kelompok sasaran anak yatim spesifik. Rabu (11/3/2026), mereka bersilaturahim ke Panti Asuhan Al-Bahri, Jalan Tidung 10, Kecamatan Tamalate, Makassar.
Di pemukiman urban padat itu, jurnalis berita bergambar ini menemukan seorang anak laki-laki berusia dua tahun. Namanya, Arkana. Dia yatim piatu, kelompok pengungsi etnis pencari suaka, Rohingya.
Sejak tahun 2015, hingga puncaknya kudeta militer 2021, di Myanmar, ratusan Muslim refugees ini, menjadikan Makassar kota transit mukim mereka.
Pengungsi Rohingya yang dibantu oleh UNHCR untuk menuju negara ketiga. Status Kewarganegaraan mereka tak diakui rezim militer Myanmar.
Kedatangan rombongan Pewarta Foto Indonesia (PFI) Makassar, (12/03/2026) Rabu sore itu merupakan rangkaian kegiatan yang bertema “PFI berbagi dan Buka puasa Bersama”.
Di Panti asuhan urban itu, pengurus PFI Makassar membawa sembako seperti beras, minyak goreng, atau mi instan untuk penghuni panti.
Di tengah riuh rendah interaksi para anggota PFI dengan anak-anak panti, Ketua PFI Makassar, Iqbal Lubis, terlihat menunduk.
Matanya tertuju pada Arkana yang asyik memainkan memainkan kardus tumpukan mie instan.
Wajah mungil dengan sorot mata tajam khas anak-anak Asia Selatan itu tampak berbeda di antara wajah-wajah penghuni panti lainnya.
"Ia sangat tenang, tapi matanya penuh cerita," ujar Iqbal sambil membelai lembut rambut cepak Arkana.
Rasa penasaran para pewarta foto itu pun terjawab sudah. Niar, pengasuh Panti Asuhan Al-Bahri, membenarkan bahwa Arkana bukanlah anak dari Makassar. "Iya benar, Arkana dititipkan kepada kami lewat penghuni panti sejak beberapa bulan lalu. Ia diberikan langsung oleh orang tuanya yang merupakan pengungsi Rohingya," ungkap Niar dengan nada lembut, mencoba menutupi kesedihan yang tak ingin ditampakkan di depan anak-anak.
Tidak ada yang tahu pasti bagaimana perjalanan orang tua Arkana hingga harus menitipkan buah hatinya di panti asuhan di Sulawesi Selatan.
Namun yang jelas, di usianya yang baru dua tahun, Arkana telah melewati fase hidup yang berat: lahir dari keluarga pengungsi yang terombang-ambing oleh konflik dan kebijakan, dan kini harus tumbuh tanpa dekapan langsung orang tua kandung.
Sore itu, Arkana tak hanya menerima bantuan materi. Lebih dari itu, ia mendapat perhatian dan kehangatan. Para anggota PFI makassar yang datang dengan kamera, berubah peran dari perekam peristiwa menjadi sahabat bermain.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/PFI-Berbagi.jpg)