Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Kaleidoskop 2025

Sepanjang 2025, Dinsos Makassar Jaring 354 PSK, Gepeng, dan Anak Jalanan

PPKS tersebut didominasi anak jalanan (anjal) 102 orang, 88 gelandangan dan pengemis, tuna susila 59 orang. 

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Siti Aminah | Editor: Saldy Irawan
Tribun-timur.com
ANAK JALANAN - Anak jalanan, gelandangan dan pengemis berhasil dijaring oleh Dinas Sosial dan Satuan Polisi Pamong Praja Kota Makassar beberapa waktu lalu. Mereka turun ke jalan meminta bekas kasih pengguna jalan. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Dinas Sosial Kota Makassar mencatat 354 warga Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) dijaring sepanjang 2025.

PPKS tersebut didominasi anak jalanan (anjal) 102 orang, 88 gelandangan dan pengemis, tuna susila 59 orang. 

Lansia terlantar 31 orang, orang terlantar 24, anak berhadapan hukum 24, ODGJ 13, napza 8 orang. 

Dari keseluruhan jumlah tersebut, komposisi klien terdiri dari 200 laki-laki dan 154 perempuan.

Distribusi bulanan menunjukkan adanya fluktuasi kunjungan yang signifikan, di mana jumlah layanan terendah terjadi pada bulan Februari (8 orang). 

Sementara aktivitas pelayanan mencapai puncaknya pada bulan November dengan total 50 klien.

Secara keseluruhan, data ini menunjukkan bahwa UPT RTPC melayani berbagai spektrum masalah sosial dengan dominasi kasus pada anak jalanan dan gelandangan.

Kepala UPT Rumah Perlindungan Trauma Center (RPTC) Dinas Sosial Kota Makassar, Masri Tajuddin menyampaikan, mereka yang dijangkau adalah orang berulang. 

Seperti anjal dan gepeng, pelaluknya tetap sama meski sudah berkali-kali dijaring dan diberikan pembinaan.

Kendati begitu, kehadiran anjal gepeng saat ini sudah mulai menurun. 

Salah satu terobosan yang dilakukan adalah perubahan pola pembinaan anak jalanan.

Jika sebelumnya pembinaan hanya berlangsung 3 hingga 10 hari sesuai SOP dan regulasi lama, kini durasi pembinaan diperpanjang hingga satu bulan.

Masri menyebutkan, hasilnya cukup efektif. 

Setelah menjalani pembinaan satu bulan, para anak jalanan tersebut tidak kembali lagi ke jalan.

“Alhamdulillah, setelah pembinaan satu bulan, kami tidak menemukan lagi mereka turun ke jalan,” katanya.

Selain pembinaan, Dinsos Makassar juga mulai memberikan pelatihan keterampilan kepada PPKS, mulai dari anak jalanan, gelandangan, pengemis, orang terlantar, hingga penyandang disabilitas. 

Pelatihan dilakukan dengan melibatkan lembaga-lembaga sosial dan pilar kesejahteraan sosial.

“Kami kombinasikan pelatihan ini supaya keterampilan yang diberikan benar-benar bisa diterapkan dan memberi dampak ekonomi,” ucap Masri.

Upaya lain yang dinilai berdampak besar adalah kerja sama dengan Perusahaan Daerah (Perusda) Pasar Makassar.

Melalui nota kesepahaman (MoU), dua orang manusia silver disiapkan untuk bekerja secara permanen di sektor sosial non-skill.

“Perusda Pasar menyiapkan tiga sektor, yakni tenaga kebersihan, keamanan, dan perparkiran. Untuk tahap awal, dua slot sudah disiapkan dan kami prioritaskan kepala keluarga yang selama ini membawa seluruh keluarganya ke jalan,” ungkapnya.

Menurut Masri, pekerjaan tersebut bersifat permanen dengan gaji bulanan, sehingga memberikan jaminan keberlanjutan ekonomi bagi penerima manfaat.

Selain itu, Dinsos Makassar juga menggandeng Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) untuk program pemberdayaan dan pemulangan orang terlantar. 

Sebanyak 10 keluarga telah diusulkan menerima bantuan pemberdayaan, yang akan ditindaklanjuti pada 2026.

Manusia Silver Semakin Berkurang

Kepela Dinas Sosial Makassar Andi Bukti Djufrie menyampaikan, keberadaan anak jalanan dan pengemis (anjal gepeng) di Kota Makassar mulai menunjukkan penurunan sepanjang tahun 2025. 

Biasanya anjal gepeng berkeliaran di titik tertentu, utamanya di kawasan padat arus lalu lintas. 

Seperti di perempat Jl Veteran-Sungai Sadang, Simpang Lima Bandara, Fly Over, Jl Masjid Raya, hingga Perbatasan Gowa-Makassar. 

Anjal dan gepeng biasanya berwujud manusia silver, badut, gelandangan, dan lainnya. 

Aktivitas mereka yang dahulu kerap memanfaatkan lampu lalu lintas untuk meminta uang dari pengendara, perlahan berkurang seiring intensifnya penjangkauan dan pengawasan.

Lanjut Andi Bukti, berkurangnya anjal gepeng hasil dari penguatan penjangkauan lapangan serta kolaborasi lintas sektor yang dilakukan Dinas Sosial (Dinsos) Kota Makassar.

Melalui kerja sama lintas SKPD, warga binaan hasil asesmen dapat langsung dirujuk sesuai kebutuhan, baik untuk pendidikan, pelatihan kerja, maupun layanan kesehatan. 

Salah satu hasil konkret dari kolaborasi tersebut adalah pelatihan keterampilan pembuatan karangan bunga yang difasilitasi Dinas Tenaga Kerja kepada 20 anak pengemis dan orang terlantar pada November 2025.

Selain penguatan pascajangkauan, Dinsos Makassar juga membentuk posko di sembilan titik yang selama ini dikenal rawan aktivitas anak jalanan dan pengemis. 

Posko tersebut melibatkan pilar sosial seperti untuk melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat agar tidak memberikan uang di jalan.

Langkah ini dinilai efektif menekan keberadaan anjal gepeng di sejumlah ruas jalan utama Kota Makassar.

Fenomena manusia silver yang sempat marak pada tahun-tahun sebelumnya juga berhasil ditekan hingga nyaris tidak ditemukan lagi.

Penjangkauan dilakukan secara rutin, dua hingga tiga kali dalam sepekan, mulai pagi hingga malam hari.

Konsistensi ini menjadi kunci agar anjal gepeng yang telah dijangkau tidak kembali ke jalan.

Upaya ini dinilai efektif menekan fenomena manusia silver yang sempat marak. 

Penjangkauan rutin dilakukan dua hingga tiga kali dalam sepekan, dari pagi hingga malam.

Dinsos juga melakukan penanganan WTS dan waria.

Dinsos menemukan banyak kasus yang terindikasi HIV. 

Setiap penjangkauan dapat menjangkau 20 hingga 50 orang. 

Seluruh kasus yang membutuhkan penanganan kesehatan lansung dirujuk ke rumah sakit. 

“Makassar masuk lima besar kasus HIV secara nasional, sehingga ini menjadi perhatian serius kami,” ungkapnya.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved