Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Cerita Suku Makassar-Aborgini Australia Berawal dari Teripang

Museum Balaikota Makassar menerima tamu dari suku Aborigin Australia, Mereka menjajaki kerjasama dengan Pemerintah Kota Makassar

Penulis: Saldy Irawan | Editor: Suryana Anas
int
suku asli di Australia 

Laporan wartawan Tribun Timur. Saldy

TRIBUN-TIMUR.COM,MAKASSAR - Museum Balaikota Makassar menerima tamu dari Australia, dia adalah suku Aborigin (Maregge) yang berasal dari negeri Kanguru, bagian utara Australia.

Layaknya tempo dulu, saat kunjungan suku Aborigin di Balaikota, diadakan ritual adat Aborigin.

Para suku Aborigin dalam ritual itu masing-masing memegang bambu, sembari diiringi lagu Amborigi. Ada dua suku Amborigin yang datang ke Museum, keduanya pun melapor seperti khas suku Aborigin.

Konon kabarnnya, suku Aborigin dan suku Makassar memiliki banyak kesamaaan. 

Seperti yang diungkapkan Konjen Australia untuk Makassar Richard Matthews, sebagai inisiator acara ini menyebutkan bahwa kesamaan kedua suku ini di mulai dari jamuan tamu, bahasa, dan aktivitas kesenian.

"Jadi suku asli Australia dan Makassar punya banyak kesamaan, seperti kata - kata Lepa - Lepa disana itu juga namanya Lepa - Lepa yang artinya sampan, ada juga Lammoro atau murah disana juga namanya Lamoro," kata Richard, dengan menggunahan bahasa Indonesia.

Ia menyebutkan pihaknya saat ini menjajaki kerjasama dengan Pemerintah Kota Makassar, tujuannya yakni mengingatkan hubungan sejarah persahabatan kedua suku.

"Dengan kerjasama atau kolaborasi dua etnis, besar harapan akan adanya nilai-nilai persahabatan yang bisa dijadikan dasar untuk menguatkan kembali hubungan antarsuku maupun bangsa ini," ujar Richard lagi.

Dahulu kala kata Konjen Richard, suku Makassar yang dikenal sebagai pelaut ulung memilih Australia sebagai tempat berlabuh, tepatnya di suku Maregge atau suku Aborogin.

Di Australia, suku Makassar mengumpulkan hasil lautnya (Teripang) untuk dibawah ke Australia

Dan hinga kini, Teripang menjadi industri modern di Australia, setelah minimnya hasil budi daya cengkeh dan pala.

Namun sayang, diawal abad ke-20, kedua suku harus berpisah karena adanya larangan dari otoritas kedua pihak. 

Sementara itu, Kadis Kebudayaan Andi Bau Sawa Mappanyukki mengatakan apresiasi tertinggi kepada Konjen Australia

Menurutnya ini sebagai tanda terjalinnya kembali hubungan emosional antara kedua suku yang bertemu di masa- masa sentral perdagangan di Kota Makassar.

"Kota Makassar dulu sebagai sentral perdagangan, dengan aktivitas dagang membuat semua suku berkumpuk di Makassar," ujar Bau.

Dengan begitu, besar harapan Bau kerjasama ini tetap terjalin. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved