Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Prof Hambali Warning Evaluasi Berkala 200 Dosen dan Pegawai UMI Baru

Yayasan Wakaf UMI mengukuhkan 200 dosen dan pegawai baru, warning evaluasi berkala

Penulis: Muslimin Emba | Editor: Ari Maryadi
Tribun-timur.com/Muslimin Emba
Suasana pembacaan Pakta Integritas terhadap 200 dosen dan pegawai baru UMI yang baru dilantik di Auditorium Al Jibra, Kampus 2 UMI, Jl Urip Sumoharjo Kecamatan Panakkukang, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (27/4/2026). 
Ringkasan Berita:
  • 200 penerima amanah di lingkup UMI ini, terdiri dari 167 dosen dan 33 pegawai tetap
  • Proses pengukuhan berlangsung sakral, diawali pembacaan ayat suci Alquran dan doa
  • Prof Mansyur Ramly mengajak para dosen dan pegawai yang baru dilantik untuk mengabdikan diri dalam bingkai ke-UMI-an

 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Yayasan Wakaf UMI mengukuhkan 200 dosen dan pegawai baru di lingkup Universitas Muslim Indonesia.

Pengukuhan berlangsung di Auditorium Al Jibra, kampus 2 UMI, Jl Urip Sumoharjo, Kecamatan Panakkukang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (27/4/2026).

200 penerima amanah di lingkup UMI ini, terdiri dari 167 dosen dan 33 pegawai tetap.

Proses pengukuhan berlangsung sakral, diawali pembacaan ayat suci Alquran dan doa.

Lalu dilanjutkan pembacaan surat keputusan (SK) lalu dilanjutkan penandatangan dan pembacaan Pakta Integritas secara serentak oleh pejabat yang dilantik.

Setelah pembacaan Pakta Integritas, para dosen dan pegawai yang dilantik langsung mengikuti pembekalan.

Pembekalan pertama, dari Ketua Pembina Yayasan Wakaf UMI, Prof Dr Mansyur Ramly melalui hybrid atau daring.

Pembekalan ini dipandu oleh Kepala Humas, Protokoler dan Kerja Sama UMI, Dr Eng Ir Irma Nur Afiah.

"Sebelum memulai, ijinkan saya mengutip kalimat sangat bermakna dari ketua yayasan pembina Wakaf UMI, 'Jangan cintai UMI hanya dengan kata-kata, tapi cintailah UMI dengan jejak kebaikan yang terpatri dalam pengabdian tulus tiap hari'," ucap Irma mempersilahkan Prof Mansyur Ramly memaparkan materinya.

Dalam paparannya, Prof Mansyur Ramly mengajak para dosen dan pegawai yang baru dilantik untuk mengabdikan diri dalam bingkai ke-UMI-an.

"Mari kita mengabdi di umi dengan dasar ikhlas dan tanggungjawab. Dengan amanah melahirkan kejujuran dan citra positif dari berbagai kalangan," ucap Prof Mansyur Ramly.

Selain itu, Prof Mansyur juga menekankan pentingnya pengabdian yang selalu mendekatkan diri kepada Allah sesuai identitas UMI sebagai kampus ilmu dan dakwah.

"Selalu berdzikir kepada Allah, karena semua kebaikan itu dari Allah. Dengan dzikir itu dapat menggetarkan arsy," ujarnya.

Ia juga menyerukan etos kerja Islami yang harus terpatri dalam setiap diri penerima amanah jabatan.

Dengan etos kerja Islami, kata dia, maka implementasi tanggung jawab akan optimal.

"Etos bekerja Islami itu didalamnya ada ibadah, amanah, rahmat, panggilan tuntas, kehormatan, pelayanan dan seni atau kreatifitas," paparnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Wakaf UMI, Prof Dr Hj Masrurah Mokhtar, berpesan agar para pemegang amanah agar selalu menjaga nama baik UMI.

Baginya, nama baik UMI, akan terjaga dan dapat terus dibesarkan di dalam sosok pengabdi yang berintegritas.

"Wujud dari menjaga integritas itu adalah, dengan adanya keselarasan lisan dan tindakan," tegas Prof Masrurah.

"Setiap dosen diminta menampilkan konsistensi antara ucapan dan prilaku, meneladani nilai ketahuidan yang menjadi pijakan setiap kebijakan dan perilaku di UMI," tambahnya.

Selain itu, integritas lanjut Prof Masrurah juga dapat dilihat dari sisi kejujuran.

Baik kejujuran dalam, menjalankan tugas, penelitian hingga pengabdian kepada masyarakat 

"Jaga kejujuran akademik dalam setiap publikasi, tugas dan penilaian. Hindari plagiarisme dan manipulasi data," imbuhnya.

Selaras dengan pernyataan Ketua Pembina Yayasan Wakaf UMI dan Ketua Yayasan Wakaf UMI, Rektor UMI Prof Hambali Thalib, mengatakan, proses rekrutmen yang berlangsung sangatlah profesional.

Ia pun mendorong para dosen yang baru dilantik agar tetap mendarmabaktikan dirinya pada catur dharma perguruan tinggi UMI.

Yaitu; Pendidikan dan pengajaran, penelitian, pengabdian masyarakat dan dakwah Islamiyah.

"Menjadi dosen bukan hanya yang pandai mengajar, tetapi harus dia menggunakan waktu, menyisihkan waktu untuk melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat," jelas Prof Hambali.

Menurutnya, UMI telah mempersiapkan anggaran untuk para dosen yang ingin mengembangkan penelitian dan pengabdiannya kepada masyarakat.

Olehnya itu, untuk menjaga mutu pengabdian para dosen UMI, Prof Hambali pun menekankan pentingnya evaluasi berkala dan berjenjang.

"Bapak dekan, para pimpinan lembaga dan lain-lain, tolong diberi informasi, diberi evaluasi secara berkala sehingga mereka akan jadi dosen yang baik," ucap Prof Hambali.

"Saya yakin dan percaya para pimpinan yang ada ini pernah juga seperti saudara-saudari sekalian. Oleh karena itu, jadilah dosen yang baik," imbuhnya.

Mengakhiri paparannya, Guru Besar Hukum UMI ini kembali menekankan kedisiplinan pada dosen dan pegawai di lingkup UMI.

Salah satunya, dengan absensi kehadiran yang terintegrasi dengan ibadah, seperti salat duha, lohor dan ashar berjamaah.

Integrasi absensi dan ibadah itu merupakan program yang menguatkan identitas UMI sebagai lembaga pendidikan dan dakwah.

Oleh karenanya, pelaksanaan program itu kata Prof Hambali, tidak boleh ditawar-tawar.

Menutup paparannya, Prof Hambali pun mengucapkan selamat kepada para dosen dan pegawai yang telah dilantik.

Ia juga mengucapkan terima kasih atas kordinasi yang telah terbangun baik antara pimpinan fakultas dan rektorat.

"Saya berharap, bahwa kerjasama yang baik selama ini tolong ditindaklanjuti. Apa yang kurang mari kita koordinasikan untuk dibina, kalau memang tidak bisa dibina kita binasakan, apa boleh buat," tegasnya.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved