Pemilihan Dekan FISIP Unhas
Profil Prof Muhammad Alhamid Calon Dekan FISIP Unhas, eks Ketua DKPP dan Bawaslu RI
Prof Muhammad Alhamid berjanji jika terpilih, sebagian gaji dekan akan dialokasikan khusus ke lembaga mahasiswa.
Ringkasan Berita:
- Prof Muhammad Alhamid merupakan salah satu kandidat Dekan FISIP Universitas Hasanuddin yang bersaing dengan Prof Tuti Bahfiarti dan Prof Phil Sukri, setelah Prof Hasniati memilih mundur.
- Ia dikenal membawa komitmen kuat terhadap penguatan lembaga kemahasiswaan, bahkan berjanji mengalokasikan sepertiga honor dekan untuk mendukung aktivitas mahasiswa.
- Prof Muhammad Alhamid mengusung visi “FISIP Unhas 2030” sebagai fakultas berkarakter, berdampak, mandiri, dan berorientasi pada pembangunan maritim
TRIBUN-TIMUR.COM - Profil Prof Muhammad Alhamid Calon Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unhas.
Prof Muhammad Alhamid bersaing dua orang lainnya memimpin FISIP Unhas yaitu
Prof Muhammad Alhamid bersaing Prof Dr Tuti Bahfiarti dan Prof Dr Phil Sukri.
Satu orang lainnya yaitu Prof Dr Hasniati memilih mengundurkan diri.
Prof Muhammad Alhamid berjanji jika terpilih, sebagian gaji dekan akan dialokasikan khusus ke lembaga mahasiswa.
"Saya sangat sedih sampai hari ini kita belum punya ketua BEM, saya beberapa kali jalan ke lembaga mahasiswa ada beberapa bagian perlu diperbaiki. Sudah cukup bagus, terlihat suasana demokrasi," kata Prof Muhammad.
Baca juga: Janji Prof Muhammad Hebohkan Fisip Unhas: Siap Sumbang Sepertiga Gaji Dekan untuk Lembaga Mahasiswa
"Saya mau berjanji kalau allah takdirkan saya dekan dan senator dukung saya, sepertiga honor dekan saya berikan ke lembaga mahasiswa," sambungnya.
Prof Muhammad membawa visi 'Fisip Unhas 2030 akan menjadi Fakultas Berkarakter, Berdampak, Mandiri, berorienyasi SDHs dalam menavigasi Masa Depan Benua Maritim Indonesia'.
Prof Muhammad menekankan pada mahasiswa berkarakter.
Salah satunya Prof Muhammad ingin membangun budaya agar mahasiswa dan dosen tidak berjarak, namun tetap mengedepankan tata krama.
"Kita ingin tidak ada jarak antara mahasiswa dan dosen, tapi tetap ada tata krama. Saya sangat senang kalau ke kantin, disapa mahasiswa apa kabar pak muhammad," katanya.
Selain itu, persoalan integritas juga jadi fokusnya.
Dosen, pegawai hingga mahasiswa punya indikator integritas masing-masing.
Dirinya menginginkan integritas ini tertanam dari diri sendiri, bukan hanya karena pengawasan.
"Dosen mengajar tepat waktu, mahasiswa hadir tepat waktu, dekan melaksanakan tugas tepat waktu, pegawai juga begitu. Bukan karena ceklok atau diawasi WD II," jelasnya.
"Di Fisip Unhas tidak boleh ada orang masuk tanpa suatu proses terukur," lanjutnya.
Merit sistem hingga good governance harus diterapkan.
Baik jika dirinya terpilih, ataupun calon lainnya.
Akselerasi akademik juga ditekankan. Utamanya internasionalisasi.
Riset berbasis internasional harus ditingkatkan.
"Internasionalisasi tidak ada pilihan. Itu sesuatu niscaya dan mutlak. Tidak ada alasan tidak bersahabat internasionalisasi," kata mantan Ketua Bawaslu RI 2012-2017 ini.
Siapa Prof Muhammad Alhamid?
Lahir di Makassar, 17 September 1971.
Muhammad Alhamid menyelesaikan pendidikannya di Unhas.
Sedangkan gelar doktoral ia peroleh dari Universitas Airlangga tahun 2007.
Karir Muhammad Alhamid bukan hanya di Unhas.
Ia pernah menjabat Ketua DKPP RI periode 2020 sampai 2022.
Saat itu, ia menggantikan Harjono.
Ia juga pernah menjabat anggota DKPP tahun 2017 sampai 2022.
Muhammad Alhamid juga pernah menjadi Ketua Bawaslu RI periode 2012 sampai 2017.
Ia meraih gelar guru besar pada 28 Februari 2015.
Kala itu, ia masih berusia 43 tahun.
Muhammad membacakan pidato ilmiah berjudul “Mewujudkan Akuntabilitas Pemilihan Umum yang Berkualitas dan Berintegrasi melalui Transformasi Sistem Pemilihan Umum”.
Muhammad juga pernah mendapat penghargaan Satyalancana Karya Satya X yang menandai kesetiaannya menjadi pegawai negeri sipil.
Empat hari menjelang peringatan kemerdekaan Indonesia ke-70, Presiden Joko Widodo menganugerahi Muhammad Tanda Kehormatan Bintang Penegak Demokrasi di Istana Presiden.
Penghargaan itu diberikan bagi mereka yang dianggap berjasa di bidang sosial, ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta bidang lain yang bermanfaat bagi bangsa dan negara.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-04-16-Bakal-calon-nomor-urut-2-Prof-Muhammad.jpg)