Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Haji 2026

Gelombang Jemaah Memuncak, Bandara Madinah Putar Otak Atur Arus Kedatangan

Kepala Daerah Kerja Bandara, Abdul Basir, mengakui, kepadatan jadwal penerbangan menjadi ujian utama

Penulis: Muh Hasim Arfah | Editor: Ari Maryadi
Tribun-timur.com/Muh Hasim Arfah
JAMAAH HAJI-Kedatangan jemaah haji Embarkasi Surabaya (SUB) dan Makassar (UPG) di Bandara Internasional Prince Mohammad bin Abdulaziz, Sabtu (25/4/2026). Kepala Daerah Kerja Bandara, Abdul Basir, mengakui, kepadatan jadwal penerbangan menjadi ujian utama, terutama ketika beberapa kloter mendarat dalam waktu berdekatan—bahkan bersamaan. 

Ringkasan Berita:
  • Kepadatan jadwal penerbangan menjadi ujian utama petugas haji
  • Terutama ketika beberapa kloter mendarat dalam waktu berdekatan
  • Ribuan jemaah bisa datang bersamaan memaksa petugas kerja cepat

 

Laporan Hasim Arfah, Wartawan Tribun-timur.com dan Media Centre Haji 2026 dari Arab Saudi

TRIBUN-TIMUR.COM, MADINAH — Derasnya arus kedatangan jemaah haji Indonesia di Bandara Internasional Prince Mohammad bin Abdulaziz menghadirkan tantangan tersendiri bagi petugas. 

Dalam hitungan menit, ribuan jemaah bisa tiba hampir bersamaan, memaksa petugas bekerja cepat sekaligus presisi agar pergerakan tetap tertib.

Kepala Daerah Kerja Bandara, Abdul Basir, mengakui, kepadatan jadwal penerbangan menjadi ujian utama, terutama ketika beberapa kloter mendarat dalam waktu berdekatan—bahkan bersamaan.

“Kedatangan di Fast Track maupun terminal lain sering beririsan. Ini jadi tantangan bagaimana kita mengatur agar jemaah bisa segera bergerak tanpa menimbulkan penumpukan,” ujarnya.

Untuk mengurai kepadatan, petugas menerapkan skema rekayasa pergerakan. Jemaah dari satu kloter akan ditahan sementara, memberi ruang bagi kloter lain untuk bergerak menuju bus secara bergantian.

“Kita atur ritmenya. Kloter pertama berhenti dulu, lalu kloter berikutnya jalan. Bergantian dalam hitungan menit agar tidak saling bertabrakan,” jelasnya.

Langkah ini bukan tanpa alasan. 

Tanpa pengaturan ketat, jemaah berisiko tercampur antar-kloter, mengingat seragam yang dikenakan relatif seragam.

“Kalau tidak diatur, sangat mungkin jemaah masuk rombongan lain. Ini yang kita hindari,” tegas Basir.

Tantangan makin kompleks di jalur Fast Track. Setiap kloter hanya memiliki waktu sekitar 30 menit untuk menyelesaikan seluruh proses kedatangan. Artinya, kecepatan dan koordinasi menjadi kunci utama.

Di tengah tekanan waktu, kerja kolektif menjadi penopang utama kelancaran layanan. Petugas tak bisa bekerja sendiri.

Peran ketua regu, ketua rombongan, hingga petugas haji daerah dinilai krusial dalam menjaga ketertiban jemaah.

“Kami butuh kolaborasi semua pihak, termasuk jemaah itu sendiri agar tetap tertib mengikuti arahan,” katanya.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved