Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Pildun 2026

Zovinha, Sang Bintang Tanjung Verde

Kisah Tanjung Verde telah menjadi kisah semua orang. Dari sebuah negara yang tidak dikenal sama sekali.

Tayang:
Editor: AS Kambie
TRIBUN TIMUR/AS Kambie
PENULIS PSM - Manager PSM Makassar Muhammad Nur Fajrin (kiri) memperkenalkan jersey baru PSM Makassar ke penulis Buku Satu Abad PSM Mengukir Sejarah, M Dahlan Abubakar, di Fireflies Hertasning, Jalan Hertasning, Makassar, 12 November 2025. M Dahlan Abubakar juga penulis kolom Refleksi Bola Bundar di Tribun Timur cetak dan Tribun-Timur.com. 

Catatan M Dahlan Abubakar 

Penulis Buku “Ramang Macan Bola”

TRIBUN-TIMUR.COM - Saya sengaja ambil mengecas amunisi (tidur) pada siang hari karena ingin begadang menyaksikan pertandingan antara Spanyol melawan Tanjung Verde pada pukul 24.00 Wita tanggal 15 Juni 2026. Ternyata pertandingan dimulai setelah menyeberang beberapa menit ke tanggal 16 Juni 2026. Saya ingin menjadi saksi bagaimana tim Matador  yang pernah menjuarai Piala Dunia dan Piala Eropa menghajar tim tidak dikenal dari ujung barat Afrika itu. 

 Setiap orang sudah memprediksi,  Spanyol bakal membuat Cape Verde (Tanjung Verde) babak belur dalam pertandingan perdana Grup H pada tanggal 15 Juni 2026 dini hari di Stadion Atlanta, Georgia. Gempuran Spanyol yang mendominasi 62 persen jalannya pertandingan memang mengepung kotak 16 pertahanan Tanjung Verde secara bergelombang. Delapan kali tembakan akurat dan terarah pemain Spanyol menyasar gawang Tanjung Verde yang dikawal Zovinha. Namun apa yang terjadi, tidak satu pun bola dengan intensitas tendangan yang penuh tenaga itu berbuah gol. Bola  lumpuh di tangan Zovinha.

Satu tendangan yang menurut pandangan penonton seharusnya terkonversi menjadi gol, yakni saat si kulit bundar akan melesat beberapa sentimeter  di bawah mistar gawang. Apa yang terjadi, Zovinha secara refleks mampu menepis bola yang meluncur bagai peluru itu lewat di atas mistar. Gol gagal. Dahsyat dan luar biasa. 

Delapan penyelamatan gemilang yang sangat mengagumkan itu, tidak heran mengantar Zovinha terpilih sebagai “the best player of the match” pada dinihari itu. Kiper berusia 40 tahun ini benar-benar telah menjadi pahlawan bagi timnya dari kekalahan. Tidak heran  di kubu Spanyol wajah-wajah sendu dan kecewa yang luar biasa tampak saat meninggalkan lapangan stadion berkapasitas 75.000 penonton itu. Karena tim yang mereka anggap anak bawang tersebut ternyata tidak mudah ditaklukkan, meskipun mereka menguasai pertandingan secara signifikan. 

 Saya menyaksikan pertandingan yang berakhir menjelang subuh waktu Indonesia Tengah itu.  Saya hanya ingin memastikan, berapa gol Spanyol sarangkan ke jala Tanjung Verde. Namun dugaan saya ternyata semua meleset. Tanjung Verde  tidak seasing namanya dalam hajat sepak bola dunia. Negara kecil berpendudukan sekitar 529 630 jiwa ini datang membuat sejarah, meskipun mungkin mereka akan tumbang juga atas tim-tim favorit yang sudah mengukir nama dari   Piala Dunia ke Piala Dunia.  

 Begitu peluit akhir berbunyi di Stadion Atlanta yang diresmikan pada tahun 2017 dan dan disesaki sekitar 50.000 pasang mata itu, kamera bergeser ke sang bintang subuh itu. Siapa lagi kalau bukan kiper Tanjung Verde, Vozinha. Titik-titik bening menyungai pada wajah pemain yang  boleh terbilang ‘gaek’ ini.  Itu wajar saja,  timnya berhasil bermain imbang 0-0 melawan tim yang digadang-gadang sebagai favorit juara Piala Dunia, Spanyol, tahun 2026 ini.

Tribun stadion bergemuruh oleh teriakan ribuan pendukung Tanjung Verde tim yang menghuni peringat 174 FIFA ini, yang tiada henti menyemangati tim mereka tanpa henti lelah selama 90 menit pertandingan yang berlangsung dalam tensi yang boleh disebut tidak seimbang itu. Layar kaca menawarkan pemandangan, betapa tidak seimbangnya pertandingan ini. Tim yang pernah jadi kampiun Piala Dunia dan Piala Eropa terus menghajar tim pendatang baru dari Benua Afrika.

Tetapi penonton disajikan pemandangan yang sangat spektakuler dan dahsyat. Betapa gempuran demi gempuran Spanyol itu mentah di tangan seorang kiper yang sangat percaya diri. Zovinha yang bernama lengkap Josimar Jose Evora Dias yang lahir di sebuah pulau kecil, Sao Vicente 3 Juni 1986. 

Mereka merayakan hasil imbang itu dengan berpelukan dan menari. Hari itu, seolah milik mereka. Hari yang sangat bersejarah dalam kehidupan persepakbolaan tim pendatang baru Piala Dunia 2026 itu.

Di lapangan, para pemain berlari saling mendekat dalam kegembiraan. Bahkan penonton yang tidak memihak Tanjung Verde atau pun Spanyol turut terbawa suasana. Saat pertandingan usai, banyak dari mereka ikut merayakan. Betul-betul sepak bola melenyapkan sekat pendukung dan lebih melihat kepada sebuah prestasi dan penampilan.  

Melawan Spanyol yang notabene merupakan juara Eropa, kiper veteran Vozinha menampilkan performa terbaik sepanjang hidupnya. Dia berhasil menjaga gawangnya tidak kebobolan sehingga menuai hasil paling bersejarah dalam sejarah sepak bola negaranya.

  "Saya menangis karena saya dibesarkan oleh kakek-nenek saya," kata Vozinha setelah dinobatkan sebagai pemain terbaik pertandingan.

"Sayangnya mereka tidak ada di sini. Mereka meninggal beberapa tahun lalu. Mereka adalah segalanya bagi saya, segalanya dalam hidup saya.  Dan juga karena ibu saya. Dia tidak bisa hadir karena visa. Karena biaya yang harus dibayar untuk visa, kami tidak berhasil mendapatkannya tepat waktu. Saya ingin dia ada di sini," ujar Zovinha seperti dilansir BBC.

 Ia menambahkan: "Senjata terbaik kami adalah persatuan kami. Terlepas dari pemain yang datang hari ini, atau pemain yang berusia 10 atau 15 tahun, cara kami memperlakukan keluarga adalah kekuatan terbesar kami.

"Semua orang berpikir kami datang ke sini hanya untuk menikmati Piala Dunia, tetapi tidak. Kami tahu ada tim-tim yang selalu kami hormati, karena ini pertama kalinya bagi kami, tetapi kami di sini untuk bersaing dan kami di sini untuk berjuang demi negara kami.  Ini sudah menjadi mimpi sejak saya kecil'. Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca,” sebut Zovinha.

  Lahir dengan nama Josimar Jose Evora Dias, kiper Tanjung Verde itu telah menghabiskan seluruh kariernya mengejar impian tampil di Piala Dunia. Ketika akhirnya terwujud, momen itu datang dengan catatan sejarah.

Sepanjang karier profesionalnya, Vozinha pernah memperkuat beberapa klub di Afrika dan Eropa. Beberapa klub yang pernah dibelanya antara lain: Batuque FC (Cape Verde), FC Arouca (Portugal), Progresso do Sambizanga (Angola), Gil Vicente (Portugal)

Cape Umoya United (Afrika Selatan), Chaves (Portugal). 

Meski tidak pernah membela klub-klub elite Eropa, Vozinha dikenal sebagai penjaga gawang yang konsisten dan memiliki kepemimpinan kuat di dalam tim. Pengalaman bermain di berbagai negara membuatnya memiliki mentalitas yang tangguh ketika menghadapi pertandingan besar.

Saat peluit akhir berbunyi, para penonton netral telah terpikat.

Kisah Tanjung Verde telah menjadi kisah semua orang. Dari sebuah negara yang tidak dikenal sama sekali. Namun namanya muncul setelah lolos kualifikasi Piala Dunia Zona Afrika. Tanjung Verde, sebuah negara kepulauan kecil yang awalnya tak banyak dikenal, kini telah memikat dunia karena sepak bola. (*).

 

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup K - Matchday 1
Kamis, 18 Juni 2026 | 00:00 WIB
Portugal
Portugal
Live
DR Congo
RD Kongo
Grup L - Matchday 1
Kamis, 18 Juni 2026 | 03:00 WIB
England
Inggris
VS
Croatia
Kroasia
Grup L - Matchday 1
Kamis, 18 Juni 2026 | 06:00 WIB
Ghana
Ghana
VS
Panama
Panama
Grup K - Matchday 1
Kamis, 18 Juni 2026 | 09:00 WIB
Uzbekistan
Uzbekistan
VS
Colombia
Kolombia
Grup A - Matchday 2
Kamis, 18 Juni 2026 | 23:00 WIB
Czechia
Ceko
VS
South Africa
Afrika Selatan
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved