Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Batasi Penggunaan Ponsel, Diknas Bulukumba Beri Tugas Baru ke Guru

Sebagai langkah responsif, kebijakan ini tidak seharusnya dilihat sebagai upaya menghambat teknologi.

Penulis: Samsul Bahri | Editor: Ansar
Tribun-timur.com/Samsul Bahri
SISWA BULUKUMBA - Siswa SMPN 1 Bulukumba menerima penghargaan dari guru setelah berpretasi beberapa waktu lalu. Kebijakan pemerintah pusat membatasi penggunaan gawai di sekolah bagi siswa. 

TRIBUNBULUKUMBA.COM, UJUNG BULU - Kebijakan pemerintah pusat pembatasan ponsel bagi siswa TK hingga SMP merupakan langkah strategis.

Kepala Dinas Pendidikan Bulukumba, Andi Buyung Saputra menilai kebijakan tersebut dapat membawa transformasi positif bagi ekosistem pendidikan, khususnya di Kabupaten Bulukumba.

Sebagai langkah responsif, kebijakan ini tidak seharusnya dilihat sebagai upaya menghambat teknologi.

Melainkan sebagai momentum untuk mengembalikan esensi pembelajaran interaktif dan penguatan karakter contohnya, kata dia.

Pendidikan karakter dan etika pembatasan gawai membuka ruang bagi penguatan nilai-nilai lokal.

Tanpa distraksi layar, interaksi tatap muka antara guru dan murid dapat lebih berkualitas melalui pembelajaran dan permainan tradisional.

Peningkatan Literasi Dasar dan Budaya Membaca; ketergantungan pada konten instan di gawai seringkali menurunkan daya konsentrasi.

"Pembatasan ini adalah peluang emas untuk mengaktifkan perpustakaan sekolah, mengalihkan perhatian siswa kembali ke buku fisik dan kegiatan literasi yang mendalam," kata Andi Buyung Saputra, Selasa (31/3/2026).

Selain itu guru juga dapat melakukan riset lapangan atau observasi langsung di lingkungan sekitar Bulukumba daripada sekadar copy-paste dari internet.

Keamanan Digital dan Kesehatan Mental;

Melindungi anak-anak dari paparan konten negatif, perundungan siber (cyber bullying), dan kecanduan media sosial sejak dini.

Dari semua hal diatas yang patut juga menjadi catatan penting adalah teknologi tetap diperkenalkan secara terkontrol melalui laboratorium komputer sekolah atau intraktif flat panel pada jam-jam tertentu.

Sehingga siswa tetap melek teknologi (IT literate) tanpa harus terpapar risiko gawai pribadi secara berlebihan.

Terpisah seorang orang tua siswa di Bulukumba, Mutmainna mendukung kebijakan pemerintah pusat yang melakukan pembatasan penggunaan gawai.

" Pembatasan itu berdampak positif buat perkembangan otak. Sekarang ini anak-anak lebih banyak main game di gawai ketimbang membuka pelajaran," katanya.

Ia berharap agar kebijakan pemarintah ini dapat diterakpan di sekolah di daerah dengan melakukan pembatasan penggunaan gawai. (*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved