Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Isra Miraj 2026

Ketua NU Bulukumba Ajak Maknai Isra Mi’raj dengan Cara Abu Bakar, Bukan Abu Lahab

Ketua NU Bulukumba Hakim Bohari menilai banyak persoalan sosial terjadi karena peristiwa dipahami dengan logika semata.

Tayang:
Penulis: Samsul Bahri | Editor: Sukmawati Ibrahim
samsul bahri/tribun timur
ISRA MI’RAJ - Ketua NU Bulukumba Hakim Bohari (kiri) bersama Bupati Bulukumba Andi Muchtar Ali Yusuf saat peringatan Isra Mi’raj 1447 Hijriah di Masjid Agung Bulukumba, Jumat (9/1/2026). Hakim Bohari mengajak umat memaknai Isra Mi’raj dengan iman dan kejujuran. 

Ringkasan Berita:
  • Ketua NU Bulukumba Hakim Bohari mengajak masyarakat memaknai peristiwa Isra Mi’raj dengan pendekatan iman dan hati, meneladani Abu Bakar Ash-Shiddiq. 
  • Ia menilai banyak persoalan sosial muncul karena manusia hanya mengandalkan logika semata seperti Abu Lahab. 
  • Pesan ini disampaikan dalam peringatan Isra Mi’raj 1447 Hijriah di sejumlah masjid di Bulukumba.
 

TRIBUNBULUKUMBA.COM, BULUKUMBA – Sejumlah masjid di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, mulai memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah.

Momentum keagamaan ini dimanfaatkan Ketua Nahdlatul Ulama (NU) Bulukumba, Hakim Bohari, untuk mengajak masyarakat memaknai Isra Mi’raj secara lebih mendalam, tidak sekadar seremoni.

Hakim Bohari menjelaskan, peristiwa Isra Mi’raj sejak masa Nabi Muhammad SAW hingga saat ini selalu membagi manusia ke dalam dua golongan.

Golongan pertama adalah mereka yang merespons Isra Mi’raj dengan logika empiris semata, sebagaimana yang dicontohkan Abu Lahab dan kelompoknya.

Sementara golongan kedua adalah mereka yang memandang peristiwa tersebut dengan kacamata iman dan hati, sebagaimana dicontohkan Abu Bakar Ash-Shiddiq.

“Sejak dulu sampai sekarang, manusia selalu terbagi dua. Ada yang melihat Isra Mi’raj dengan logika semata seperti Abu Lahab, dan ada yang memaknainya dengan iman seperti Abu Bakar,” kata Hakim Bohari kepada TribunBulukumba.com, Rabu (14/1/2026).

Menurutnya, banyak persoalan sosial muncul saat ini berakar dari cara pandang keliru dalam menyikapi peristiwa dan realitas kehidupan.

Ia menilai, manusia terlalu mengandalkan kemampuan akal dan rasionalitas semata, bahkan sering disertai kesombongan.

“Persoalan dan kondisi hari ini sering tidak menemukan solusi karena semua peristiwa direspons dengan cara Abu Lahab, dan sangat jarang direspons dengan cara Abu Bakar,” ujarnya.

Hakim Bohari mengingatkan, ketika manusia hanya mengandalkan akal tanpa melibatkan iman, maka pertolongan Allah SWT akan menjauh.

“Jika disertai kesombongan, Allah SWT tidak akan menjadi penolong. Bahkan keteledoran itu dikembalikan kepada manusia sendiri dalam bentuk musibah, kerusuhan sosial, agar manusia kembali kepada fitrah dan kesadaran kepada Allah SWT,” jelasnya.

Ia juga menyinggung pentingnya sikap bijak dalam menyikapi informasi yang beredar di media sosial.

Menurutnya, derasnya arus informasi perlu disaring dengan pendekatan iman, bukan sekadar emosi atau opini.

“Kepandaian mencerna informasi dan berita yang berseliweran di media sosial juga harus dilihat dengan kacamata Abu Bakar. Dengan begitu, framing buzzer dan fakta kebenaran akan tampak jelas di hati dan pikiran, tidak tergiring provokasi dan kebencian,” katanya.

Hakim Bohari kemudian menguraikan karakter Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai teladan umat Islam.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved