Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Banjir Bone

Terparah Sejak 2018, Banjir Bone Disebabkan Pendangkalan Drainase dan Pasang Air Laut

Basarnas imbau warga yang tinggal di daerah pesisir dan bantaran sungai segera mengungsi apabila debit air kembali meningkat.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Wahdaniar | Editor: Alfian
Tribun-timur.com/Wahdaniar
BANJIR BONE - Kasi Ops Basarnas Makassar, Andi Sultan saat ditemui di posko induk pananganan banjir, jalan Jendral Ahmad Yani, Kabupaten, Bone Jumat (8/4/2026). Basarnas sebut banjir bone terparah sejak 2018, dipicu air laut pasang dan pendangkalan drainase.  

TRIBUN-TIMUR.COM, BONE - Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, disebut menjadi salah satu yang terparah sejak tahun 2018 silam.

Kasi Ops Basarnas Makassar, Andi Sultan, mengatakan tingginya curah hujan yang terjadi sejak Kamis (7/5/2026) malam hingga Jumat pagi diperparah dengan kondisi air laut pasang dan pendangkalan drainase di wilayah kota.

“Terakhir banjir yang terparah di Kabupaten Bone kalau tidak salah di 2018. Debit air kali ini hampir sama dengan tahun 2018,” kata Andi Sultan, Jumat (8/5/2026).

Menurutnya, hujan deras mulai mengguyur wilayah Bone sejak pukul 21.00 Wita hingga sekitar pukul 07.00 Wita.

Kondisi tersebut menyebabkan debit air meningkat cepat dan merendam sejumlah wilayah di Kecamatan Tanete Riattang dan Tanete Riattang Timur.

“Yang membuat banjir kali ini cukup parah di wilayah pesisir karena hujan deras terjadi bersamaan dengan air laut pasang,” ujarnya.

Baca juga: Breaking News: Innalillah, Bocah 6 Tahun dan Lansia 100 Tahun Meninggal Akibat Banjir di Bone

BANJIR BONE - Potret Babinsa jajaran Kodim 1407/Bone memantau banjir di Depan Polres Bone, Jl. jalan Yos Sudarso, Kecamatan Tanete Riattang Timur, Jumat (8/5/2026). Langkah ini atas perintah Dandim Bone Letkol Inf Laode Muhammad Idrus guna memastikan keselamatan warga dan meminimalkan dampak bencana.
BANJIR BONE - Potret Babinsa jajaran Kodim 1407/Bone memantau banjir di Depan Polres Bone, Jl. jalan Yos Sudarso, Kecamatan Tanete Riattang Timur, Jumat (8/5/2026). Langkah ini atas perintah Dandim Bone Letkol Inf Laode Muhammad Idrus guna memastikan keselamatan warga dan meminimalkan dampak bencana. (Tribun Timur/ Wahdaniar)

Ia menjelaskan tinggi genangan air di sejumlah titik bervariasi, mulai dari 0,5 meter hingga mencapai 2 meter di kawasan pesisir.

“Terutama di daerah pesisir, ketinggian air mencapai sekitar dua meter,” jelasnya.

Selain faktor cuaca dan pasang laut, Andi Sultan menyebut pendangkalan drainase di kawasan perkotaan turut memperparah kondisi banjir.

“Penyebab lainnya memang karena adanya pendangkalan drainase yang terjadi di wilayah kota,” katanya.

Dalam penanganan banjir tersebut, Basarnas bersama BPBD, Satpol PP, Damkar, TNI-Polri, dan potensi SAR lainnya diterjunkan untuk membantu proses evakuasi warga terdampak.

Fokus utama evakuasi dilakukan terhadap warga rentan seperti lansia dan anak-anak.

“Yang terdata dievakuasi langsung oleh tim gabungan ada sekitar 69 orang. Sebagian warga lainnya melakukan evakuasi mandiri dibantu masyarakat sekitar,” ungkapnya.

Banjir yang melanda sejumlah titik di Bone juga menelan dua korban jiwa.

Korban pertama bernama Naima, lansia berusia sekitar 100 tahun yang tinggal di Lingkungan Rompe, Kelurahan Bajoe, Kecamatan Tanete Riattang Timur.

Sementara korban kedua yakni Muh Arsyah (6), bocah asal Kelurahan Panyula, Kecamatan Tanete Riattang Timur, yang meninggal dunia akibat tenggelam saat banjir terjadi.

“Kedua korban memang berada di wilayah pesisir yang terdampak cukup parah,” ujarnya.

Saat ini, tim SAR gabungan masih bersiaga melakukan pemantauan dan evakuasi di sejumlah titik rawan banjir.

Basarnas juga terus berkoordinasi dengan BPBD dan Dinas Sosial terkait pendirian posko bantuan dan dapur umum bagi warga terdampak.

“Beberapa titik pengungsian sudah disiapkan di tempat yang lebih aman dan lebih tinggi,” katanya.

Andi Sultan mengimbau masyarakat tetap waspada karena cuaca di wilayah Bone diperkirakan masih berpotensi diguyur hujan dalam beberapa hari ke depan.

Ia meminta warga yang tinggal di daerah pesisir dan bantaran sungai segera mengungsi apabila debit air kembali meningkat.

“Utamakan keselamatan jiwa daripada barang berharga. Jangan memaksakan bertahan di rumah jika air sudah tinggi,” tandasnya.

Salah seorang warga Kelurahan Panyula, Nurafni, mengaku banjir kali ini menjadi salah satu yang terparah dalam beberapa tahun terakhir.

“Air naik sangat cepat sejak subuh. Kami panik karena air terus masuk ke rumah dan makin tinggi,” ujarnya.

Dirinya mengatakan sebagian masyarakat memilih mengungsi ke rumah keluarga yang berada di lokasi lebih tinggi.

“Banyak warga takut karena hujan tidak berhenti semalaman. Kami berharap bantuan cepat datang,” tandasnya.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved