Transaksi Digital Indonesia Tembus Rp4.905 T
Perubahan pola transaksi masyarakat dari penggunaan uang tunai menuju pembayaran elektronik dinilai menjadi tanda transformasi digital.
Penulis: Siti Aminah | Editor: Hasriyani Latif
Ringkasan Berita:
- Transaksi pembayaran digital di Indonesia melonjak signifikan, dari Rp2,9 triliun pada 2013 menjadi Rp4.905 triliun pada 2023.
- Generasi muda seperti Gen Z dan Gen Alpha menjadi pengguna utama dompet digital karena lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi dan aplikasi digital.
- Seminar Ekonomi Digital Saku Sultan 2026 juga menyoroti pentingnya literasi digital agar masyarakat tidak hanya menjadi pengguna teknologi.
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Perkembangan transaksi digital di Indonesia menunjukkan tren signifikan.
Perubahan pola transaksi masyarakat dari penggunaan uang tunai menuju pembayaran elektronik dinilai menjadi tanda transformasi digital yang semakin masif.
Chief Marketing Officer (CMO) Saku Sultan, Sam Nursam mengatakan pertumbuhan transaksi digital diperkirakan akan terus meningkat
"Di masa depan transaksi pembayaran digital di Indonesia itu akan terus tumbuh, pasti meningkat," katanya dalam Seminar Ekonomi Digital Saku Sultan 2026 bertema 'Momentum Transformasi Transaksi Digital Menuju Ekonomi Bernilai dan Berbasis Aset'.
Seminar di Ballroom Theater UNM Menara Phinisi Lantai 2, Jl AP Pettarani, Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (10/5/2026).
Dalam presentasinya, Sam Nursam menampilkan data pertumbuhan transaksi pembayaran digital nasional yang meningkat tajam dalam satu dekade terakhir.
Nilai transaksi pembayaran digital di Indonesia tercatat Rp2,9 triliun pada 2013.
Angka tersebut naik menjadi Rp12,4 triliun pada 2014 dan Rp47,2 triliun pada 2015.
Pertumbuhan transaksi digital terus melonjak hingga mencapai Rp399,6 triliun pada 2022.
Sementara pada 2023, nilainya menembus Rp4.905 triliun.
Baca juga: Seminar Saku Sultan 2026 Bahas Transformasi Transaksi Digital dan Masa Depan UMKM
Sam menyebut transaksi pembayaran digital di Indonesia tumbuh sekitar 10 persen setiap tahun.
Menurutnya, tren tersebut menunjukkan masyarakat semakin bergantung pada layanan transaksi elektronik.
"Dompet uang kita sekarang di HP. Inilah yang membuat uang cash itu menurun, semua transaksinya pasti elektronik," kata Sam.
Menurutnya, penggunaan dompet digital di Indonesia saat ini didominasi generasi muda, terutama Generasi Z dan Generasi Alpha yang lebih dekat dengan perkembangan teknologi.
'Kalau Gen Boomer ini banyak enggak tahu pakai aplikasi, kadang harus diajarkan cara pakai aplikasi,' ujarnya.
Aplikasi digital saat ini dirancang untuk kebutuhan generasi masa depan yang lebih adaptif terhadap teknologi digital.
"Karena aplikasi digital itu berbicara masa depan, tidak dirancang untuk generasi sebelumnya, tapi untuk generasi penerus," kata Sam.
Ia juga menyoroti kondisi masyarakat Indonesia yang dinilai masih sering hanya menjadi pengguna teknologi tanpa ikut mengambil peran lebih besar dalam industri digital.
“Selama ini masyarakat kita selalu dijadikan target pasar saja, selalu jadi user,” ujarnya.
Menurut Sam, ketika perusahaan digital berkembang besar di Indonesia, masyarakat hanya menjadi pengguna layanan tanpa ikut menikmati pertumbuhan industri tersebut.
"Ketika industri-industri digital meraksasa di Indonesia, besar nilainya, tinggi valuasinya, tetapi kita sebagai pengguna hanyalah sebatas kontributor saja," katanya.
Sam juga menyinggung perkembangan Gojek yang didirikan Nadiem Makarim pada 2009.
Saat awal hadir, layanan transportasi online sempat mendapat penolakan di berbagai daerah termasuk di Makassar karena masyarakat belum siap menerima perubahan teknologi.
"Gojek ditolak di mana-mana. Di Makassar itu saya kalau enggak salah tiga hari berturut-turut nolak aplikasi Gojek,” ujarnya
Sam menilai kondisi tersebut menjadi bukti rendahnya literasi digital masyarakat pada masa awal perkembangan aplikasi digital.
“Itulah kurangnya literasi digital di masyarakat kita yang mau menolak perubahan,” katanya.
Ia pun mengingatkan masyarakat agar tidak menolak perkembangan teknologi, melainkan belajar beradaptasi dengan perubahan digital yang terus berkembang.
Kegiatan menghadirkan sejumlah narasumber.
Seperti Bupati Maros, Chaidir Syam, Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin diwakili Asisten I Pemkot Makassar Irwan Bangsawan.
Selanjutnya, akademisi Unhas Prof Marsuki DEA, Chief Marketing Officer Sam Nursam, hingga CEO dan Founder Saku Sultan, Ambo Tang.
Bupati Maros Chaidir Syam dalam paparannya menyampaikan, perkembangan digitalisasi mulai terasa signifikan sejak pandemi Covid-19.
Menurutnya, keterbatasan interaksi saat pandemi justru mendorong masyarakat memanfaatkan teknologi digital dalam aktivitas ekonomi dan transaksi sehari-hari.
“Digitalisasi ini dimulai pada saat terjadinya Covid-19. Saat itu kita sulit bertemu dan berinteraksi, tapi untung ada aplikasi-aplikasi yang memudahkan proses transaksi,” ujar Chaidir.(*)
Laporan Wartawan Tribun Timur, Siti Aminah
| Musda AAUI Makassar Tetapkan Syarif Hidayatullah Ketua Periode 2026-2029 |
|
|---|
| Cucu Pahlawan Nasional Andi Mappanyukki Lantik Andi Akmal Pasluddin jadi Ketua Dewan Masjid Bone |
|
|---|
| Harapan Jemaah Haji Muda asal Pontianak Ingin Kuburan Almarhum Dilapangkan |
|
|---|
| Prof Jaenal Effendi: Eksportir Makanan Siap Saji Kerjasama Mitra di Arab Saudi |
|
|---|
| Indonesia U17 vs Qatar U17: Laga Krusial Menuju Piala Dunia |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260510-CMO-Saku-Sultan-Sam-Nursam.jpg)