Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Program Electrifying Agriculture PLN Bantu Petani Bone Hemat Biaya Operasional Hingga 74 Persen

PLN hadirkan listrik untuk petani Bone, produksi naik dan biaya operasional turun hingga 74 persen.

Tayang:
PLN UID Sulselrabar
PLN - Sirajudin, petani bawang di Desa Telle, Kabupaten Bone menjadi salah satu bukti nyata yang merasakan langsung manfaat program ini. Kini dengan hadirnya listrik, biaya operasional jauh lebih hemat dan pasokan lebih stabil. 
Ringkasan Berita:
  • Listrik PLN turunkan biaya operasional petani hingga 74 persen.
  • Produksi pertanian di Bone meningkat hingga dua kali lipat.
  • Program Electrifying Agriculture dorong pertanian modern dan efisien.

TRIBUN-TIMUR.COM - Di tengah hamparan kebun bawang yang hijau, langkah PT PLN (Persero) melalui program Electrifying Agriculture (EA) menghadirkan perubahan nyata bagi petani

Bukan sekadar menghadirkan listrik, namun juga menghadirkan harapan baru bagi peningkatan produktivitas dan efisiensi biaya di sektor pertanian. Inovasi tersebut menjadi langkah nyata PLN dalam mendukung program pemerintah untuk mewujudkan swasembada pangan. 

Berkat program EA yang dicanangkan, salah satunya di Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan, terbukti mampu meningkatkan produksi sampai dengan dua kali lipat dan menekan biaya operasional hingga lebih hemat 74 persen dengan menggunakan listrik PLN.

Sirajudin, petani bawang di Desa Telle, Kabupaten Bone menjadi salah satu bukti nyata yang merasakan langsung manfaat program ini.

Dulu, aktivitas pengairan kebunnya sangat bergantung pada pompa berbahan bakar minyak. Setiap hari, ia harus memastikan ketersediaan bahan bakar agar proses penyiraman tetap berjalan.

“Dulu pakai pompa diesel, setiap hari harus cari BBM dulu agar bisa melakukan penyiraman kebun bawang. Kalau tidak ada BBM, ya tidak bisa jalan,” kenangnya.

Dalam satu kali siklus panen, Sirajudin membutuhkan sekitar 300 liter bensin untuk penyiraman selama satu bulan. Dengan harga eceran mencapai Rp13.000 per liter, biaya operasional yang dikeluarkan mencapai Rp3.900.000 pun cukup besar dan tidak stabil.

Kini, kondisi itu berubah sejak hadirnya listrik dari PLN. Dengan menggunakan suplai listrik melalui Stasiun Pengisian Listrik Umum (SPLU) daya 5.500 Volt Ampere, proses pengairan dilakukan dengan pompa listrik yang hanya memerlukan sekitar 500an kilowatt hour (kWh) atau Rp1.000.000 untuk satu siklus penyiraman selama satu bulan.

Air dari sungai dipompa secara stabil hingga mengalir ke seluruh area kebun bawang miliknya.

Perubahan paling terasa adalah pada efisiensi dan kemudahan operasional. Tidak lagi bergantung pada bahan bakar, tidak lagi harus mencari BBM setiap hari.

Yang tak kalah penting adalah sejak hadirnya listrik yang digunakan untuk penerangan yang dapat mengurangi hama, ada peningkatan produksi bawang sampai dua kali lipat. Tercatat sebelumnya saat menggunakan diesel produksi bawang hanya 500-700 kilogram per siklus panen. 

Sekarang, hadirnya listrik yang digunakan sebagai sumber energi untuk penerangan penangkal hama, produksi bawang bisa meningkat sampai dengan satu ton.

“Sekarang lebih mudah, listrik selalu ada. Satu hal yang terpenting saya bisa menghemat 74 persen biaya operasional. Tidak perlu repot lagi cari BBM. Tinggal nyalakan pompa, air langsung mengalir. Produksi pun jauh meningkat,” ujarnya.

Sementara itu Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M., turut mendukung dan mengapresiaai atas program listrik masuk sawah untuk pompaniasi yang diinisiasi oleh PLN.

"Program listrik masuk sawah dari PLN benar-benar memberi dampak nyata bagi para petani di Kabupaten Bone. Dengan hadirnya listrik hingga ke area persawahan, aktivitas pertanian menjadi jauh lebih efisien, terutama dalam pengairan dan penggunaan pompanisasi," ungkap Andi.

Ia menyatakan telah melihat langsung bagaimana petani kini lebih mudah mengelola lahannya, produktivitas meningkat, dan biaya operasional bisa ditekan.

"Ini adalah langkah konkret dalam mendorong ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kesuksesan program listrik masuk sawah untuk pompanisasi sudah dijalankan sejak lama. Apresiasi setinggi-tingginya kepada PLN atas komitmen dan inovasinya dalam menghadirkan listrik yang tidak hanya menerangi rumah, tetapi juga menggerakkan sektor pertanian hingga ke pelosok," tambahnya.

Sementara itu pada kesempatan yang berbeda General Manager PLN Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (UID Sulselrabar), Edyansyah menambahkan tarif listrik yang stabil merupakan upaya dalam menggerakan roda ekonomi di wilayah Sulselrabar salah satunya di sektor pertanian. 

"Electrifying Agriculture PLN hadir untuk membantu meningkatkan produktivitas usaha masyarakat di bidang pertanian, perkebunan, hingga perikanan dalam rangka mendukung program pemerintah, yaitu ketahanan pangan," kata Edyansyah.

Edyansyah menambahkan bahwa program EA dirancang untuk mendorong modernisasi agrikultur di Indonesia dengan adopsi teknologi pertanian modern berbasis listrik.

“Melalui program ini, kami berupaya menciptakan Creating Shared Value (CSV) yang memberi manfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Dengan pemanfaatan teknologi agrikultur berbasis listrik, ekosistem pertanian menjadi lebih modern, yang kemudian berdampak pada peningkatan produktivitas petani,” ujar Edyansyah.

Edyansyah merinci per Maret 2026 total pelanggan Electrifying Agriculture di provinsi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat adalah sebanyak 4.207 pelanggan dengan total daya terpasang untuk  sebesar 205.445 kiloVolt Ampere (kVA).

Program Electrifying Agriculture yang dijalankan PLN tidak hanya memberikan akses energi, tetapi juga mendorong peningkatan produktivitas pertanian. Dengan sistem penyiraman yang lebih stabil, tanaman mendapatkan suplai air yang lebih teratur, yang pada akhirnya berdampak pada kualitas dan hasil panen.

Ia menambahkan, melalui pemanfaatan listrik di sektor pertanian, PLN mendukung transformasi menuju pertanian modern yang efisien, berkelanjutan, dan berdaya saing.

"Langkah kecil dari aliran listrik ini, menjadi energi besar bagi masa depan petani menghidupkan harapan, menguatkan ketahanan pangan, dan membawa kesejahteraan yang lebih merata," tutup Edyansyah.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved