Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Arief Rosyid: Data 8,2 Juta Warga Harus Dikelola Secara Digital

Cek Kesehatan Gratis sudah dimanfaatkan 8,2 juta orang. Arief Rosyid sebut ini momentum memperkuat digitalisasi layanan kesehatan nasional.

Tribunews
ILUSTRASI KESEHATAN - M. Arief Rosyid Hasan menyoroti pentingnya optimalisasi digitalisasi layanan kesehatan berbasis data nasional setelah 8,2 juta warga mengikuti program Cek Kesehatan Gratis. 

TRIBUN-TIMUR.COM – Indonesia memasuki era transformasi digital sektor kesehatan, sejalan dengan visi pemerintah melalui Kementerian Kesehatan untuk membangun sistem layanan yang terintegrasi, responsif, dan berbasis data.

Salah satu inisiatif utama adalah pengembangan platform Satu Sehat, yang mengintegrasikan berbagai sistem informasi dari fasilitas layanan kesehatan (fasyankes), laboratorium, dan aplikasi lainnya ke dalam satu data nasional yang holistik.

Program unggulan Presiden Prabowo, yakni Cek Kesehatan Gratis (CKG), diluncurkan sejak Februari 2025. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa sebanyak 8,2 juta orang telah memanfaatkan layanan ini, dari total 8,7 juta orang yang mendaftar.

Menanggapi hal ini, Doktor Kesehatan Masyarakat dari Universitas Indonesia, M. Arief Rosyid Hasan, menyampaikan apresiasi dan masukan kepada pemerintah agar digitalisasi layanan kesehatan dapat semakin optimal.

"Apresiasi setinggi-tingginya kepada pemerintahan Presiden Prabowo yang memberikan perhatian khusus bagi kesehatan masyarakat Indonesia, salah satunya melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) ini. Hal ini menunjukkan keseriusan pemerintah bagi sektor kesehatan, sampai lapisan terbawah," ujar Dr. M. Arief Rosyid Hasan.

"Pembangunan sektor kesehatan dan teknologi tertuang dalam Asta Cita Bapak Prabowo dan Mas Gibran, dan alhamdulillah, hari ini kita saksikan bersama komitmen pemerintahan Pak Prabowo terhadap apa yang diniatkan dan dijanjikan kepada masyarakat luas. Tentu tidak serta merta semua urusan selesai dalam satu-dua tahun, perlu kerja keras dan kolaborasi lintas sektor yang berkelanjutan," lanjutnya dalam keterangan tertulis, Senin (16/6/2025).

Arief juga menyoroti pentingnya keberadaan platform Satu Sehat dalam mendukung transformasi tersebut.

"Bicara tentang teknologi dan kesehatan tidak akan lepas dari Satu Sehat. Kendati Satu Sehat bertujuan menjadi tulang punggung ekosistem kesehatan digital nasional dan mengonsolidasikan data rekam medis elektronik (RME), imunisasi, penyakit menular, hingga data pelayanan primer, sampai saat ini tata kelola dan penggunaannya masih belum optimal," ujarnya.

"Disrupsi teknologi memiliki peran krusial dalam percepatan layanan masyarakat, termasuk di sektor kesehatan. Inovasi dan teknologi medis adalah elemen penting dalam membangun sistem kesehatan nasional yang efisien, inklusif, dan berkelanjutan," tambah Arief yang meraih gelar doktor pada 2023 lalu.

Pandangan Arief ini selaras dengan pernyataan Menkes Budi Gunadi Sadikin dalam forum 2025 APAC Health and Life Science Summit di Jakarta awal Juni lalu. Dalam forum itu, Menkes mengapresiasi standar kualitas layanan kesehatan publik di Malaysia.

Arief menyebut, untuk mencapai hal serupa, pemerintah tidak bisa berjalan sendiri.

"Perlu kolaborasi private-public partnership (PPP) untuk optimalisasi layanan kesehatan masyarakat. Perlu gotong royong semua pihak, utamanya antara pemerintah, Kementerian Kesehatan, BPJS Kesehatan, dan swasta," tegasnya.

"Selain itu, tidak ada waktu yang lebih tepat untuk mendorong digitalisasi kesehatan, baik melalui Satu Sehat maupun inisiatif pemerintah lainnya, guna optimalisasi jangkauan program CKG. Saya pikir, ini saatnya. Insya Allah, kita upayakan bersama agar program CKG ini semakin luas jangkauannya, dan semakin banyak orang yang merasakan manfaatnya," tutup Arief. (*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved