Horas Community Jenguk Rehan dan Bayu, Kakak Adik Berbagi Seragam Sekolah
Kemiskinan memang masih menjadi kendala utama bagi anak-anak Indonesia untuk mengenyam dunia pendidikan.
Penulis: Imam Wahyudi | Editor: Imam Wahyudi
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Kisah Rehan dan Bayu, warga Jl Sepakat, Kota Makassar, mengundang keprihatinan sekaligus mengguncang dunia pendidikan Indonesia, khususnya di Makassar.
Sebab di kota ‘dunia’ ini, masih ada warganya yang harus berbagi seragam agar tetap sekolah.
Kemiskinan memang masih menjadi kendala utama bagi anak-anak Indonesia untuk mengenyam dunia pendidikan.
Sekolah yang gratis, tak menggratiskan perlengkapannya, termasuk seragam.
Rehan dan Bayu, dari keluarga miskin.
Ayahnya, Deng Rangga sudah lama tak bekerja karena stroke.
Ibunya, Jumriah mengambil alih tugas mencari nafkah dengan menjadi buruh cuci, menawarkan jasa dari rumah ke rumah.
Dua anaknya itu, membantu dengan memulung di luar jam sekolah.
Penghasilan minim keluarga ini, hanya mampu untuk makan, itupun sekadarnya.
Dalam kemiskinan, Rehan yang telah kelas VI dan adiknya yang sudah kelas IV memahmi bahwa pendidikan penting untuk masa depan mereka.
Meski ke sekolah dengan seragam kumal dan baju olahraga dipakai bergantian.
Kisah Rehan dan Bayu viral setelah seorang gurunya menegur Rehan tak memakai seragam olahraga saat pelajaran olahraga.
“Baju olahragaku dicuci bu, kemarin dipakai adik saya,” kata Rehan kepada gurunya tersebut.
Sang guru pun menuliskan kisah anak didiknya itu di media sosial, heboh, geram.
Kisah Rehan dan Bayu mengundang simpati Wakil Ketua DPRD Kota Makassar, Erick Horas.
Melalui Horas Community, Erick yang juga Ketua DPC Gerindra Kota Makassar, menyambangi gubuk keluarga Dg Rangga yang berukuran 3x3 meter, Jumat (1/12/17) siang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/rehan_20171201_180256.jpg)