Pameran Surat-surat Cinta di Jemuran Angkat Kisah Kelompok Rentan Hadapi Perubahan Iklim
Pameran Surat-surat Cinta di Jemuran angkat suara kelompok rentan terdampak perubahan iklim.
TRIBUN-TIMUR.COM - Perubahan iklim terus menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat di berbagai wilayah Indonesia. Namun, dampak tersebut tidak dirasakan secara setara.
Kelompok rentan seperti perempuan, penyandang disabilitas, lansia, anak-anak, hingga masyarakat pesisir kerap menghadapi risiko yang lebih besar dibanding kelompok lainnya.
Untuk menghadirkan pengalaman dan suara kelompok rentan ke ruang publik, Monash University bekerja sama dengan Tanahindie menggelar pameran bertajuk Surat-surat Cinta di Jemuran di Benteng Rotterdam, Makassar, pada 18–20 Juni 2026.
Pameran ini menjadi ruang untuk menyampaikan kisah, pengalaman hidup, dan harapan masyarakat dari Kupang, Lombok, dan Makassar yang menghadapi berbagai tantangan akibat perubahan iklim.
Dampak perubahan iklim tidak hanya dirasakan dalam bentuk cuaca ekstrem atau perubahan lingkungan, tetapi juga berpengaruh terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.
Bagi masyarakat pesisir, misalnya, perubahan pola cuaca dapat mengganggu aktivitas melaut yang berujung pada penurunan pendapatan keluarga.
Kondisi tersebut turut berdampak pada perempuan yang berperan mengelola kebutuhan rumah tangga. Ketika kondisi ekonomi memburuk, risiko munculnya persoalan sosial hingga kekerasan dalam rumah tangga juga dapat meningkat.
Di sisi lain, anak-anak menjadi kelompok yang rentan mengalami gangguan pemenuhan gizi akibat berkurangnya akses terhadap pangan yang memadai.
Kurator pameran, Anwar Jimpe Rachman, menjelaskan konsep “jemuran” dipilih karena merupakan bagian yang dekat dengan kehidupan masyarakat dan mudah ditemukan di lingkungan permukiman.
Menurutnya, jemuran menjadi simbol ruang yang memperlihatkan sebagian kehidupan penghuni rumah kepada publik. Melalui pameran ini, jemuran dihadirkan sebagai media untuk menampilkan surat-surat berisi ungkapan hati, pengalaman, dan harapan masyarakat terkait perubahan iklim.
Pameran tersebut juga menjadi bagian dari diseminasi hasil penelitian MoFREC selama periode 2024–2025. Program penelitian yang digagas Monash University itu berfokus pada ketahanan iklim di Indonesia Timur dengan melibatkan berbagai kelompok rentan sebagai responden utama.
Data hasil penelitian kemudian diolah oleh Tanahindie menjadi berbagai bentuk karya kreatif agar lebih mudah dipahami dan menjangkau masyarakat luas.
Ketua Tim Peneliti MoFREC, Prof. Sharyn Davies, mengatakan pendekatan seni dan budaya dipilih sebagai media untuk menyampaikan hasil penelitian secara lebih dekat dan reflektif.
Menurutnya, seni memiliki kemampuan untuk menjembatani data ilmiah dengan pengalaman manusia sehingga pesan mengenai perubahan iklim dapat diterima secara lebih luas oleh publik.
Pameran ini terbuka untuk umum serta dirancang ramah anak dan penyandang disabilitas.
Penyelenggara berharap kegiatan tersebut dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai dampak perubahan iklim sekaligus mendorong dialog yang lebih inklusif antara komunitas, akademisi, pemerintah, dan masyarakat dalam merumuskan solusi yang adil terhadap krisis iklim.(*)
| Pedagang Kelapa Rotterdam Direlokasi ke Pasar Kampung Baru, Perumda Pasar Jamin Lokasi Strategis |
|
|---|
| 34 Sekolah Adiwiyata Ramaikan Pameran Daur Ulang Sampah di Bone, Bupati Apresiasi Kreativitas Siswa |
|
|---|
| Pelaku UMKM Bakal Berkumpul di Benteng Rotterdam 11-13 Juni 2026 |
|
|---|
| Cari Mobil Bekas Berkualitas? Yuk ke Mei-morable Drive Makassar, Ada DP 0 Persen |
|
|---|
| Dari Ruang Kelas hingga Meja Makan, 6 Jam Jurnalis Al-Jazeera Berbagi Tips Liputan Perubahan Iklim |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/pameran-Surat-surat-Cinta-di-Jemuran.jpg)