Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Polda Metro Jaya

Dua Jenderal Bintang 3 Eks Wakapolri-Kabareskrim Ragu Arya Bunuh Diri

Dua komisaris jenderal polisi meragukan mantan diplomat Arya Daru Pangayunan mengangkiri hidupnya. 

Editor: Muh Hasim Arfah
handover/kompas.com
KEMATIAN ARYA- Mantan petinggi Mabes Polri Wakapolri periode 2013-2014, Komjen Pol (Purn) Oegroseno dan mantan Kabareskrim, Komjen Pol (purn) Ito Sumardi meragukan mantan diplomat Arya Daru Pangayunan mengangkiri hidupnya. Mereka menganggap banyak hal janggal dalam kematian Arya.   

TRIBUN-TIMUR.COM- Dua komisaris Jenderal Polisi meragukan mantan diplomat Arya Daru Pangayunan mengangkiri hidupnya. 

Kedua jenderal ini adalah Wakapolri periode 2013-2014, Komjen Pol (Purn) Oegroseno dan mantan Kabareskrim, Komjen Pol (purn) Ito Sumardi

Polda Metro Jaya belum menemukan ada peristiwa pidana dalam kematian Arya. 

"Indikator kuat bahwa kematian ADP mengarah pada indikasi meninggal tanpa keterlibatan pihak lain," pungkas Direskrimum Polda Metro Jaya, Kombes Wira Satya Triputra.

Terpisah, Wakapolri periode 2013-2014, Komjen Pol (Purn) Oegroseno, mempertanyakan kondisi diplomat Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Arya Daru Pangayunan, yang kepalanya tertutup plastik kemudian dilakban.

Polisi menyatakan bahwa Arya Daru ditemukan dalam keadaan wajah tertutup plastik, kemudian terlilit lakban berwarna kuning.

Dari hasil penyelidikan, pihak kepolisian pun menyimpulkan bahwa Arya Daru tewas akibat bunuh diri.

Baca juga: Misteri Farah, Perempuan Terakhir Ditemui Arya Daru Pangayunan Sebelum Ditemukan Tewas

Namun, menurut Oegroseno, dengan keadaan wajah Arya Daru yang tertutup plastik kemudian terlilit lakban, hal itu aneh dan menjadi sebuah pertanyaan.

"Berangkat dari kondisi korban ya, kan pakai plastik dulu baru dilakban, bukan dilakban baru pakai plastik. Kalau bunuh diri pakai plastik, lakbannya cuma di leher aja, dia masih bisa merasakan udara, melihat luar. Kenapa harus dilakban utuh? Itu kan pertanyaan-pertanyaan perlu dijawab," ungkapnya, Rabu (30/7/2025), dikutip dari YouTube tvOneNews.

"Tapi kalau dia sudah meninggal baru dikasih plastik dilakban ya mungkin seperti itu (dugaan pembunuhan), itu masih perlu adakan penyidikan dan penyelidikan," sambungnya.

Oegroseno lantas menjelaskan analisis kriminalnya mengenai perbedaan kondisi seseorang ketika sengaja dibunuh dan bunuh diri.

"Jadi sekarang gini, kalau itu dilakban setelah meninggal, mungkin plastik sama ini enggak bengkak gitu loh. Kan udara ini keluar. Tapi kalau dia bunuh diri, masih hidup, dia tetap bertahan seperti itu, ini kan pasti sudah bengkak," jelasnya.

"Jadi ketemu pertama kali yang melihat itu. Apakah dokter juga perlu ditanya nih, apakah dalam keadaan ini masih ada udara-udara sekitar situ ya kan atau sudah dilubangi kertas plastik? Kalau ada dilubangi ngapain pakai plastik?"

"Ini analisa kriminal di sini harus lebih mendalam seperti itu. Jadi jangan dikatakan ditemukan plastik lakban ini perlu ada pertanyaan berikutnya. Meninggal baru dikasih plastik dan dilakban ya kan? Atau sebelum meninggal sudah diplastik dan dilakban kan," ucap Oegroseno.

Ketika disinggung mengenai polisi yang tidak menemukan sidik jari orang lain di lakban maupun di Tempat Kejadian Perkara (TKP), Oegroseno mengatakan bahwa pelaku bisa saja memakai sarum tangan untuk menyamarkan sidik jari, layaknya di film-film.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved