Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

PKB, Nafas Kebangkitan Bangsa

Dua puluh tujuh tahun perjalanan membawa PKB tumbuh menjadi kekuatan politik nasional.

Editor: Sudirman
Ist
OPINI - Abdul Rauf Wakil Ketua Umum Garda Buruh Migran Indonesia PKB 

Oleh:  Abdul Rauf 

Wakil Ketua Umum Garda Buruh Migran Indonesia PKB

TRIBUN-TIMUR.COM - PKB bukan sekadar partai—ia adalah gema dari peristiwa dan peradaban.

Lahir dari rahim reformasi 1998, saat rakyat menggugat tatanan lama dan menjemput harapan baru, PKB hadir sebagai suluh: memadukan ruh pesantren dan denyut republik, menyambung nilai dengan kekuasaan, menjahit spiritualitas dengan strategi kebangsaan.

Dalam tubuh PKB mengalir Islam yang teduh dan terbuka—Islam yang tidak marah, tapi ramah; tidak memukul, tapi memeluk; Islam yang membangun dengan cinta, bukan mencela.

Di balik nama dan benderanya, ada napas panjang Nahdlatul Ulama yang mengakar kuat, menyuburkan bumi demokrasi Indonesia yang plural dan majemuk.

Dua puluh tujuh tahun perjalanan membawa PKB tumbuh menjadi kekuatan politik nasional.

Bukan lagi hanya partai kultural warga NU, tapi kanal harapan bagi banyak kalangan. Di Pemilu 2024, 16,1 juta suara rakyat tertambat padanya—dan 68 kursi DPR menjadi saksi kepercayaan yang terus tumbuh, bahkan dari tanah yang sebelumnya bukan ladang utama: NTT, Sumatera Barat, dan lainnya.

Ini bukan semata pencapaian elektoral, melainkan bukti bahwa narasi PKB telah mampu menyentuh nadi kebangsaan. Ia hadir bukan hanya di bilik suara, tapi di ruang-ruang percakapan publik, sebagai representasi politik yang membumi, inklusif, dan membangun.

PKB bukan pejalan yang kaku di jalan kekuasaan. Dari Koalisi Indonesia Raya ke Koalisi Perubahan, lalu kembali merapat ke Prabowo–Gibran, semua bukan semata strategi, melainkan upaya menjaga relevansi dan maslahat.

Sebab bagi PKB, kekuasaan bukanlah singgasana yang harus direbut, melainkan jalan untuk mengabdi. Kuasa yang tidak dituntun nilai hanyalah kediktatoran halus. Sebaliknya, nilai tanpa kuasa akan layu sebagai doa yang tak sempat jadi perbuatan.

Di tengah arus itu, sosok Muhaimin Iskandar berdiri sebagai poros. Ia bukan hanya pemimpin politik, tetapi narator utama arah partai.

Di tangannya, PKB bergerak dari lokalitas menuju nasionalitas; dari tradisi ke transformasi. Stabilitas partai terjaga. Namun publik juga bertanya: adakah ruang yang cukup bagi kaderisasi yang sehat? Apakah PKB kini terlalu bertumpu pada satu nama?

Ketegangan dengan sebagian suara NU menjadi isyarat bahwa kekuatan spiritual tak bisa dikesampingkan. Tradisi harus tetap menyuburkan politik, bukan dipangkas demi efisiensi.

Di ranah sosial, PKB mulai menyalakan obor: membentuk Perempuan Bangsa, menyelenggarakan forum kepemimpinan, memberi ruang bagi suara-suara perempuan.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved