Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Sosok Pemuda Gowa Kibarkan Merah Putih di Puncak Ararat Turki

Sosok pemuda asal Limbung Sulsel Zulqarnain menaklukkan Gunung Ararat Turki dalam 4 hari sejak Jumat 11 Juli hingga Selasa 15 Juli 2025

Tayang:
Editor: Ari Maryadi
Istimewa
GUNUNG ARARAT - Pemuda Limbung Gowa Zulqarnain memegang bendera merah putih di Gunung Ararat Turki Selasa (15/7/2025). 

Dini hari, 15 Juli 2025, alarm berbunyi.

Dingin menusuk tulang. Dari 12 pendaki, dua di antaranya harus merelakan impian puncak karena kondisi fisik yang tidak memungkinkan.

Sepuluh orang, termasuk Zulqarnain, memulai langkah heroik dari 4.200 mdpl menuju puncak 5.137 mdpl.

Pendakian sejauh 4,11 kilometer ini memakan waktu hampir enam jam (5 jam 43 menit), sebuah durasi yang terasa sangat panjang di tengah kegelapan dan dingin ekstrem. Jalur yang dilalui sangat menantang: bebatuan pasir licin bercampur gletser es, dengan kemiringan yang curam, mencapai 40 hingga 70 derajat. Setiap pijakan adalah pertaruhan.

Namun, semua perjuangan itu sirna saat Zulqarnain menginjakkan kaki di puncak Ararat.

Salju putih terhampar luas sejauh mata memandang, dan di ufuk timur, matahari mulai menyembul, menyambut keberhasilan mereka. 

Bendera Merah Putih pun dikibarkan dengan bangga, melambangkan keberanian dan determinasi anak bangsa di salah satu puncak tertinggi dunia.

Lebih dari sekadar pendakian, Zulqarnain juga menghadapi tantangan adaptasi lintas budaya.

Waktu dan ritme hidup di Turki berbeda jauh dari Indonesia. 

Di tengah musim panas Eropa, matahari terbit jauh lebih awal, sekitar pukul 04.30 pagi, dan baru tenggelam hampir pukul 20.30 malam—berbanding terbalik dengan Indonesia, di mana siang dan malam relatif seimbang sepanjang tahun.

Adaptasi terhadap jam biologis ini menjadi tantangan tersendiri, terutama dalam mengatur waktu istirahat dan makan.

Dari sisi makanan, perbedaan selera dan kebiasaan juga sangat terasa.

Di tengah persiapan fisik dan mental, Zulqarnain harus beradaptasi dengan sajian khas Turki seperti roti pipih (lavash), sup lentil, keju kambing, hingga teh hitam tanpa gula—jauh dari rasa pedas dan gurih yang biasa ia nikmati di kampung halaman.

Keberadaan makanan instan dari Indonesia yang dibawa sebagai bekal pribadi menjadi penyelamat dan pengobat rindu akan rumah.

Kisah Zulqarnain dari Gowa ini menjadi bukti bahwa dengan tekad kuat, persiapan matang, dan semangat pantang menyerah, tak ada puncak yang terlalu tinggi untuk digapai—baik secara fisik, budaya, maupun mental.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved