Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Ramah Tamah & Syukuran Lulusan Sekolah Pundarika Angkatan 2025

Sekolah Pundarika rayakan kelulusan 72 siswa 2025 dengan menggelar syukuran dan ramah tamah.

Istimewa
FOTO BERSAMA - Foto bersama Angkatan 2025 SMP Pundarika beserta dengan kepala sekolah, wali kelas, dan sebagian guru. Pada Acara Ramah Tamah & Syukuran Kelulusan Sekolah Pundarika Angkatan 2025 di Onyx Ballroom, Myko Hotel & Convention Center Makassar pada Kamis (19/6/2025). 

TRIBUN-TIMUR.COM — Sekolah Pundarika menggelar acara Ramah Tamah dan Syukuran bagi para lulusan tahun ajaran 2024/2025, Kamis (19/6/2025).

Mengusung tema "Give The Best, God Do The Rest” dan dikemas sederhana. Kegiatan berlangsung di Onyx Ballroom, Myko Hotel & Convention Center Makassar.

Sebanyak 72 siswa dari jenjang SD dan SMP,masing-masing 54 siswa kelas 6 dan 18 siswa kelas 9 merayakan kelulusan bersama para guru, orang tua, serta jajaran pengelola yayasan. 

Acara ini turut dihadiri Pengawas Sekolah Dinas Pendidikan Kota Makassar, Hasdy, S.Si., M.Si., Ketua Pembina Yayasan Pendidikan Dharma Bakti Dra. Nani Ghofar, dan Ketua Yayasan Felix Dahong. Serta Kepala Sekolah Pundarika Varianty Kadiaman, guru-guru dan tenaga kependidikan Sekolah Pundarika.

Ketua Pembina Yayasan Pendidikan Dharma Bakti dalam sambutannya, menghaturkan terima kasih atas kehadiran para tamu undangan. Serta mengucapkan selamat kepada 54 peserta didik SD dan 18 peserta didik SMP yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya.

Sambutan perwakilan orang tua disampaikan oleh Miguel Dharmadjie, S.T., CPS®️, CCDd®️, CPM. Yang memberikan apresiasi atas dedikasi, perjuangan, dan pengorbanan kepala sekolah, para guru dan tenaga kependidikan. Dalam membimbing peserta didik selama menempuh pendidikan di Sekolah Pundarika.

Foto bersama Pengawas Sekolah Dinas Pendidikan Kota Makassar dengan organ Yayasan Pendidikan Dharma Bakti dan keluarga besar Sekolah Pundarika. Pada Acara Ramah Tamah & Syukuran Kelulusan Sekolah Pundarika Angkatan 2025 di Onyx Ballroom, Myko Hotel & Convention Center Makassar pada Kamis (19 Juni 2025).
Foto bersama Pengawas Sekolah Dinas Pendidikan Kota Makassar dengan organ Yayasan Pendidikan Dharma Bakti dan keluarga besar Sekolah Pundarika. Pada Acara Ramah Tamah & Syukuran Kelulusan Sekolah Pundarika Angkatan 2025 di Onyx Ballroom, Myko Hotel & Convention Center Makassar pada Kamis (19/6/2025).

"Kepada para orang tua/wali dan anak-anakku sekalian, kami menitipkan tiga pesan dalam menghadapi kehidupan ke depan yang tidaklah mudah."

Pertama, dari tokoh pendidikan dan psikolog terkenal asal Harvard University, Prof. Howard Gardner pencetus teori kecerdasan majemuk. Bahwa, setiap anak unik. Tidak ada kecerdasan tunggal. Mereka punya bakat berbeda yang perlu dikenali dan dikembangkan.

Artinya kecerdasan bukan hanya soal kemampuan logika semata, namun setiap  anak punya kecerdasan masing-masing. Menjadi tugas para orang tua untuk membantu mereka menemukan tempat, di mana mereka bisa berkembang secara otentik. Mengakui bahwa setiap anak memiliki kecerdasan berbeda, berakar pada penghargaan terhadap keberagaman manusia.

Kedua, dari tokoh pendidikan asal Jogjakarta, Baihaqi Addakhil. Bahwa, kehebatan seorang anak tidak diukur dari nilai di sekolah. Tetapi dari cara mereka mencintai, berimajinasi & berani bermimpi.

Kehebatan anak tidak selalu bisa diukur dari angka di rapor. Justru terlihat dari hal-hal yang tak kasat mata dari kasih sayang yang mereka tunjukkan, imajinasi yang mereka bangun, dan mimpi-mimpi besar yang berani mereka kejar.

Anak yang mampu mencintai dengan tulus, peduli pada sesama & berempati menunjukkan kekuatan emosional yang luar biasa. Imajinasi mereka adalah jendela menuju kreatifitas yang dapat melahirkan ide-ide hebat. Dan keberanian mereka untuk bermimpi menandakan jiwa yang berani menghadapi tantangan.

Ketiga, tokoh psikolog dunia  asal Rusia, Lev Vygotsky pencetus teori perkembangan anak. Bahwa, berikan anak masalah untuk dipecahkan, bukan solusi instan. Artinya ketika orang tua terlalu cepat memberi solusi kepada anak ketika mereka memperoleh masalah, mereka kehilangan kesempatan untuk belajar cara berpikir kritis, mengambil keputusan, dan memahami konsekuensi.

"Memberi masalah untuk dipecahkan berarti memberinya ruang untuk bertumbuh dengan pendampingan yang baik. Membimbingnya agar mampu berpikir, merasa dan bertindak secara bijaksana. Anak yang dibiasakan menghadapi tantangan dengan pikirannya sendiri akan lebih percaya diri dan tangguh. Sehingga memiliki kemampuan untuk menemukan jawaban di masa depan," pesannya.

Sementara itu, Kepala Sekolah Pundarika dalam sambutannya, mengatakan bahwa hari perpisahan bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan baru. Waktu yang telah peserta didik habiskan di Pundarika adalah bekal berharga. Bukan hanya ilmu, tetapi juga nilai karakter dan kebersamaan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved