Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

RS Hermina Makassar Kupas Tuntas Diagnosis serta Pencegahan dan Tatalaksana Stunting

prevalensi stunting di Sulsel sudah menunjukkan penurunan dari 27,4 persen menjadi 23,3 persen.

|
Editor: Muh. Abdiwan
TRIBUN-TIMUR.COM/MUHAMMAD ABDIWAN
CEGAH STUNTING - Seminar ilmiah yang digelar RS Hermina Makassar bertajuk Diagnosis serta Pencegahan dan Tatalaksana Stunting di Swiss-Belinn Panakkukang Makassar, Selasa (27/5/2025). Acara ini diikuti sejumlah tenaga medis, khususnya bidan serta perwakilan dari institusi kesehatan dan pemerintah daerah. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Rumah Sakit (RS) Hermina Makassar menggelar seminar ilmiah bertajuk Diagnosis serta Pencegahan dan Tatalaksana Stunting.

Acara yang diikuti sejumlah tenaga medis, khususnya bidan serta perwakilan dari institusi kesehatan dan pemerintah daerah tersebut berlangsung di Swiss-Belinn Panakkukang Makassar, Selasa (27/5/2025).

Hadir sebagai narasumber utama yakni Dokter spesialis kebidanan dan kandungan Dr Ika Azdah Murnita, serta dokter spesialis anak Dr Usman Darwis.

Keduanya menekankan pentingnya diagnosis dini dan intervensi tepat untuk mencegah stunting sejak dalam kandungan.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel, dr H M Ishaq, dalam sambutannya menyatakan bahwa penanganan stunting membutuhkan kolaborasi seluruh pihak. 

Ia menyebut stunting sebagai persoalan bersama yang tidak bisa diselesaikan secara sektoral.

“Ini wujud kolaborasi kita semua. Seluruh stakeholder harus terlibat dalam pencegahan dan penanganan stunting,” sebitnya. 

Pemerintah Provinsi Sulsel sendiri, kata dia, menargetkan penurunan prevalensi stunting hingga di bawah 10 persen.

Menurut dr Ishaq, prevalensi stunting di Sulsel sudah menunjukkan penurunan dari 27,4 persen menjadi 23,3 persen. 

Meski demikian, pihaknya belum puas dan terus mendorong program intervensi, khususnya di desa-desa dengan risiko tinggi.

Ia menyebut sekitar 15 ribu anak di 500 desa akan menerima intervensi gizi melalui anggaran APBD Pemprov. 

Faktor penyebab stunting, lanjutnya, tidak hanya soal gizi, tetapi juga pola asuh, pendidikan ibu, hingga pernikahan anak.

Direktur RS Hermina Makassar, dr Sulfikar Andi Goesli, mengatakan bahwa seminar ini menjadi langkah penting dalam edukasi pencegahan stunting. 

Menurutnya, edukasi terhadap ibu hamil merupakan kunci utama dalam menjaga kesehatan anak sejak dini.

“Segala-galanya adalah pencegahan. Edukasi ibu hamil sangat strategis karena berdampak langsung pada gizi dan kesehatan anak,” kata dr Sulfikar. 

Ia juga menegaskan bahwa penanganan medis tetap diperlukan ketika anak sudah jatuh pada kondisi gizi buruk.

Seminar ini terselenggara berkat kerja sama RS Hermina Makassar dengan Kementerian Kesehatan RI dan Ikatan Bidan Indonesia. 

Kegiatan ini diharapkan memperkuat sinergi lintas sektor dalam upaya mengatasi stunting secara menyeluruh.

Tags
Makassar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved